Ria R. Dewanti
Penulis: rakhmawati fitri
Hak penerbitan: terrant books
Jumlah halaman: 194
Tahun terbit: 2011
Jenis buku: fiksi
“Apa yang akan kamu lakukan bila seorang yang kamu sayang tiba – tiba pergi dan telah bersama orang lain.
Tetapi dia tidak ingin lepas darimu. Dia ingin tetap bersamamu. Menjadi temanmu.
Apakah kamu bisa menerimanya.
Apakah persahabatan masih dapat dipertahankan?”
Itulah sekelumit cuplikan cerita berjudul ‘hellogoodbye’ karya Ftri Tropica. Kisah tersebut seperti curahan hati seorang Fitrop atas pengalaman hidup yang dialaminya. Tentang kisah kasihnya yang tak berhasil dengan baik. Sebenarnya kalau kita membayangkan mengalami hal serupa. Tentu getir dan sedih yang dirasa. Namun Fitrop membawakan cerita ini dengan cara yang berbeda.
Dalam buku ‘kening’ ada beberapa cerita pendek yang disuguhkan. Semuanya ditulis dengan gaya Fitri yang kocak dan penuh kejutan. Ada juga beberapa tweet yang diambil dari percakapan Fitrop dengan follower-nya. Semuanya penuh humor dan candaan khas Fitrop.
Secara umum, buku ini penuh dengan kejutan. Cerita yang diramu begitu sulit ditebak. Kita seolah disuguhkan kehidupan pribadi Fitrop, masih dengan label keartisannya. Namun dengan kisah sehari – hari yang sering dialami oleh manusia biasa. Buku ini seolah menjelaskan bagaimana sulitnya perjuangan Fitrop hingga dapat berhasil seperti sekarang ini. Tentu saja dukungan orang tua, sahabat dan teman – teman sangat bermakna untuk Fitrop. Dan seperti kata bijak yang sering kita dengar, bahwa kesuksesan itu membutuhkan pengorbanan. Dan Fitrop harus membayar pengorbanan itu dengan kehilanggan seorang yang amat berharga bagi dirinya.
Pria tersebut adalah sahabat, motivator sekaligus pacar dari Fitrop. Namanya Agra. Setelah 3 tahun lamanya mereka pacaran dan saling menyemangati untuk saling meraih impian, ternyata Agra memutuskan hubungan tersebut. Agra merasa Fitri telah jauh darinya. Karena Fitri tengah meraih mimpinya dengan bolak – balik Jakarta Bandung demi karier presenter yang ia jalani. Kurangnya komunikasi menyebabkan Agra pergi begitu saja, dan segera menemukan gadis lainnya yaitu Anindia.
Tidak mudah bagi Fitri untuk menerima ini. Namun mengingat persahabatan yang mereka bina selama ini, Fitri masih bisa menerima Agra sebagai ‘sahabat’. Dengan konsekuensi yang berbeda. Berpacaran dengan Agra, jelas berbeda dengan menjadi sahabat Agra. Setiap kali Fitri ke Bandung dan bertemu dengan Agra. Mereka masih bisa menjelajahi kota Bandung bersama. Di waktu luang ketika Fitri ada undangan menjadi presenter di sana.
Tetapi semuanya berubah. Ternyata semua tidaklah semudah yang diharapkan. Persahabatan yang telah dijalin selama ini tak dapat diteruskan. Bayangkan saja. Fitri yang saat itu masih punya perasaan terhadap Agra. Dia harus mendengar curahan hati Agra, setiap saat tentang Anindia. Tak hanya saat mereka bersama. Namun juga di media sosial di mana mereka dapat saling mengetahui kehidupan masing – masing.
Semua menjadi semakin rumit. Karena Agra tak dapat lepas dari Fitri. Namun juga sangat menyukai Anindia. Hingga akhirnya Fitri bersikap tegas. Sekalipun ia tahu bahwa ia akan patah hati. Fitri melepaskan Agra dan berusaha menghilang dari hidupnya.
Kisah ini sedikit tragis sebenarnya. Tapi Fitrop menulisnya dengan bersemangat. Sambil mengumpulkan ingatan di masa lalu saat ia dan Agra masih berdua dan bersama serta bahagia. Hingga saat ia harus memutuskan untuk pergi selamanya dari hidup Agra. Dan mungkin inilah yang mereka maksud dengan ‘finish line’.
Sepertinya cerita tersebut cukup bagus bila dijadikan film layar lebar. Dan saya dengar Fitri Tropica sedang berpikir untuk memberikan cerita tersebut pada salah satu rumah produksi.
Semoga jaya, Fitrop. Mari kita tunggu tulisan – tulisan berikutnya!





