Delapan Ciri Organisasi yang Tidak Sehat

 

Oleh

 Ria R. Dewanti

Organisasi yang sehat tentu menjadi impian setiap organisatoris. Namun ternyata tidak semua organisasi dikategorikan sebagai organisasi yang sehat. Hal ini dapat diketahui melalui beberapa indikasi dan tanda-tanda. Terkadang sebuah organisasi yang sedang mengalami suatu permasalahan, dan sedang tidak beres, tidak langsung memahami bahwa dirinya diserang ‘virus’. Seperti seorang pasien yang berobat ke dokter agar sembuh. Organisasi pun membutuhkan bantuan untuk menyehatkan dirinya kembali.

Kesadaran dan pengetahuan tentang kesehatan organisasi adalah penting. Dengan mengetahui dan menyadari kondisi, akan dapat menanggulangi dan menangani virus-virus yang mengancam keutuhan dan keselamatan sedini mungkin. Adapun ciri-ciri dari organisasi yang tidak sehat adalah:

1. Terbentuk in group dan out group dalam satu kepengurusan

Sebuah organisasi dikatakan tidak sehat ketika di dalam satu periode kepengurusan terdapat in group dan out group. Pengertian dari in group atau kelompok dalam adalah suatu kelompok kepengurusan organisasi yang terlibat penuh pada setiap pengambilan kebijakan yang ditempuh organisasi serta memiliki kekuatan berupa pengaruh terhadap organisasi secara keseluruhan. Sementara itu out group atau kelompok luar adalah suatu kelompok kepengurusan organisasi yang dipinggirkan keberadaannya, dengan sengaja dibuat lemah fungsi dan perannya di organisasi, sekalipun secara struktur organisasi memiliki keabsahan.

Adanya grup-grup semacam itu di dalam tubuh organisasi akan menunjukkan ketidak kompakkan antar sesame pengurus. Biasanya hal ini disebabkan oleh kurangnya upaya untuk menyatukan seluruh pengurus. Terdapat kecenderungan pribadi atau kelompok terhadap suatu golongan berdasarkan latar belakang tertentu. Sehingga menyebabkan timbulnya keinginan untuk mengambil alih kegiatan organisasi hanya untuk golongan mereka. Akibatnya golongan lain yang mereka pinggirkan tidak dapat berperan dan berfungsi dalam kegiatan organisasi sebagaimana mestinya.

Organisasi akan dirugikan dari adanya grup-grup ini. Program kerja dan tujuan organisasi akan sulit dicapai. Karena para pengurus yang memiliki tugas dan kewajiban sesuai aturan organisasi tidak dapat bekerja secara maksimal.   

2. Keputusan rapat tidak dilakukan secara terbuka

Dalam perjalanan organisasi, rapat dilakukan secara teratur guna mengevaluasi keadaan terkini serta menyelesaikan permasalahan dan kendala yang sedang dialami organisasi. Rapat biasanya dihadiri oleh seluruh pengurus dalam suatu periode kepengurusan. Idealnya rapat diselenggarakan secara terbuka, artinya semua pengurus diundang dalam rapat dengan agenda rapat yang akan dibahas untuk menemukan kesepakatan. Dalam suatu waktu, bisa saja terjadi pengambilan keputusan rapat yang dengan sengaja tidak melibatkan seluruh pengurus. Hal ini menjadi indikasi adanya keinginan dari pihak-pihak tertentu untuk menjalankan suatu kegiatan tanpa adanya kesepakatan dan persetujuan seluruh pengurus. Oleh karena itu, biasanya sebuah organisasi sangat rapi dalam melakukan pendataan nama-nama pengurus yang hadir dalam suatu rapat.       

3. Kegiatan organisasi tidak melibatkan seluruh pengurus

Entah karena adanya perasaan tidak cocok atau keengganan yang sifatnya personal. Terkadang beberapa pengurus tidak ikut berpartisipasi dalam kegiatan organisasi. Adalah hal yang dapat dimaklumi bila ketidak hadiran pengurus tersebut dikarenakan persoalan penting yang mendesak sehingga menyebabkan dirinya berhalangan untuk hadir. Namun perlu untuk dipelajari mengenai ketidak hadiran pengurus hingga berkali-kali. Diperlukan pendekatan pengurus lainnya untuk mengetahui serbab-sebab secara pasti. Karena hal ini bisa jadi mengisyaratkan adanya ketidak puasan pengurus terhadap kegiatan organisasi.    

4. Adanya perbuatan pengurus yang bertentangan dengan aturan organisasi   

Tidak selamanya pengurus menjalankan organisasi selalu sesuai dengan aturan. Terkadang ada pula pengurus yang mengabaikan bahkan secara terang-terangan melanggar aturan organisasi. Kepatuhan pengurus terhadap aturan organisasi menunjukkan karakter dan kepribadian yang dimiliki. Pemahaman dan pengetahuan pengurus terhadap norma organisasi, tentang apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan akan mempengaruhi tingkat kepatuhan pengurus.

Kepatuhan terhadap aturan tidak akan menjadi sulit dan menyiksa jika diikuti kesadaran yang bersumber dari pengetahuan dan pengertian yang baik dan benar. Ketegasan dari kepimpinan organisasi diperlukan untuk bisa mengarahkan para pengurus sesuai dengan tujuan berorganisasi serta visi misi yang hendak dicapai dengan memperhatikan perkembangan dan kemajuan jaman. Karena terkadang sebuah organisasi tidak dapat melakukan tindakan tegas pada pengurus yang bermasalah. Sehingga apabila dibiarkan berlarut-larut, organisasi akan menjadi tidak tertib dan menimbulkan ketidakpercayaan pengurus lainnya terhadap kualitas kepemimpinan organisasi tersebut. Dengan demikian, sebuah organisasi harus bisa menghadapi dan mengantisipasi ketidak patuhan pengurus dalam berorganisasi. Misalnya melalui sistem reward and punishment (hadiah  dan hukuman).        

5. Adanya pengurus yang bersifat merusak (destroyer)

Perjalanan organisasi tidak selalu berjalan mulus. Terkadang ada beberapa hambatan dan rintangan yang harus dihadapi. Ada beberapa hal yang menghambat kemajuan organisasi. Salah satunya adalah pengurus yang bersifat merusak. Artinya pengurus tersebut memiliki perilaku dan watak kepribadian yang menimbulkan masalah bagi sekelilingnya maupun dirinya sendiri.

Watak kepribadian yang merusak antara lain; dengki, tidak rela orang lain mendapatkan kebahagiaan, ingin menghilangkan kebahagiaan yang didapatkan orang lain, melakukan upaya memecah persatuan organisasi, tidak mau introspeksi diri, ingin agar dirinya selalu benar dan menang sendiri, tidak bisa menghargai kinerja sesama pengurus, ingin menghambat kemajuan organisasi, tidak memiliki visi hidup. Watak semacam ini apabila tidak ada kesadaran dari pemiliknya untuk berubah dan memperbaiki diri, lambat laun akan mempersulit diri sendiri dan pada akhirnya akan dijauhi oleh lingkungan sekitarnya, karena tidak bermanfaat.

6. Kepemimpinan yang tidak berwibawa

Salah satu yang mendukung kemajuan sebuah organisasi adalah kepemimpinan yang berwibawa. Yaitu kepemimpinan yang mampu menjalankan program kerja organisasi dengan senantiasa berupaya mencapai tujuan berorganisasi, mampu tanggap dan peka terhadap segala permasalahan organisasi, mengantisipasi segala kemungkinan yang patut diwaspadai, menjaga keutuhan organisasi dan senantiasa menambah wawasan serta pengetahuan guna menyikapi perubahan yang terjadi. Tentunya tugas kepemimpinan tidak hanya dilakukan oleh seorang saja. Namun juga perlu didukung oleh segenap pengurus. Karena pada dasarnya, berorganisasi adalah tempat untuk belajar mengenai leadership (kepemimpinan). Kepemimpinan dalam organisasi diwujudkan dalam struktur organisasi dengan berbagai tanggung jawab serta peran fungsi yang melekat bersama posisi struktural organisasi. Selain itu, penting pula pendidikan dan pelatihan kepemimpinan di tiap organisasi yang diselenggarakan melalui up-grading kepemimpinan.

Yang menjadi masalah kemudian adalah ketika kepemimpinan organisasi tidak mampu melaksanakan tugas-tugas kepemimpinan. Sehingga tidak dapat mewujudkan stabilitas situasi dan kondisi organisasi. Dengan kata lain organisasi berada dalam keadaan goncang, banyak masalah tidak dapat diselesaikan.    

7. Persepsi yang salah mengenai tujuan berorganisasi

Landasan yang baik, benar dan tepat diperlukan setiap memulai suatu hal. Seperti membangun sebuah gedung, harus memiliki pondasi yang kuat. Apabila pondasinya rapuh, bahan-bahannya berasal dari bahan yang tidak berkualitas, atau semennya tidak murni. Maka akan menyebabkan gedung mudah keropos. Hingga yang paling parah, gedung bisa ambruk.

Begitu pula dengan berorganisasi. Tujuan awal yang baik dan benar, mengapa berorganisasi, apa yang ingin dicapai di organisasi, bagaimana cara berorganisasi, terlebih dahulu harus dipikirkan oleh seseorang yang akan berkecimpung dalam suatu organisasi.

Untuk menambah wawasan dalam mengenal tujuan berorganisasi, ada baiknya untuk bertanya kepada orang-orang yang berpengalaman dalam organisasi, membaca banyak buku organisasi dalam berbagai perspektif, serta mengamati organisasi yang ada di sekitarnya, Hal ini dapat meningkatkan kepercayaan diri dalam berorganisasi. Sehingga tidak mudah terombang-ambing oleh situasi dan tidak mudah menyerah pada saat menemui hambatan.

Tetapi pada kenyataannya, tidak semua orang memiliki tujuan yang lurus dalam berorganisasi. Entah karena terbatasnya pengetahuan yang dimiliki atau karena karakter dan watak kepribadian yang kurang baik. Namun yang jelas, persepsi yang salah  mengenai tujuan berorganisasi akan merugikan diri sendiri maupun organisasi dalam jangka pendek maupun jangka panjang.    

8. Kurangnya ketrampilan berorganisasi yang dimiliki pengurus

Semakin berpengalaman pengurus organisasi, maka semakin gesit dan tertib sebuah organisasi. Pengalaman berorganisasi akan mendidik jiwa organisatoris dan kemampuan dalam menyelenggarakan kegiatan serta menjalankan roda organisasi.

Pengurus yang kurang terampil, akan membutuhkan waktu lebih lama dalam melakukan fungsi dan perannya. Lebih jauh lagi, kurangnya pengalaman yang dimiliki pengurus akan menyebabkan kurangnya kekritisan dan kepekaan dalam menganalisa kebutuhan sebuah organisasi. Pengurus yang kurang terampil cenderung statis terhadap kegiatan dan program kerja di organisasi. Motivasi untuk melakukan inovasi dan kreatifitas dalam rangka memajukan organisasi, cenderung dihindari. Diantaranya disebabkan oleh rasa kurang percaya diri terhadap hal-hal baru yang seharusnya dapat dikembangkan di organisasi.

Demikian uraian mengenai ciri-ciri organisasi yang tidak sehat. Untuk menyembuhkan virus organisasi yang menyebabkan tidak sehat, perlu diketahui sumber permasalahan. Kemudian melakukan analisa, serta mencari tahu bagaimana solusi penyelesaiannya. Setelah itu, dengan segenap hati berusaha untuk mengobati virus-virus tersebut.

Selamat mengobati virus!

 

Menyelesaikan Permasalahan di Organisasi (Bagian 1)

Oleh Ria. R. Dewanti

Contoh kasus 1:

Diketahui:

Di suatu organisasi, sedang terjadi sebuah pemilihan ketua umum. Beberapa calon kandidat berusaha melakukan penarikan massa. Situasi di organisasi menjadi sedikit memanas. Apalagi para pendukung masing-masing calon mulai melancarkan usahanya agar semakin banyak anggota organisasi yang memilih calon tertentu. Cara yang digunakan pun bervariasi. Salah satunya adalah dengan melakukan ‘obral sertifikat’.   

Seorang pengurus yang merupakan pendukung salah seorang calon mencoba mendekati beberapa anggota baru. Pengurus yang disebut “A” tersebut menawarkan beberapa hal kepada anggota baru yang sebenarnya belum memahami situasi yang terjadi. Anggota baru yang disebut “B” itu sedang berusaha beradaptasi dengan lingkungan organisasi serta orang-orang yang berada di organisasi tersebut.

Pada suatu kesempatan, pengurus “A” mengajak anggota “B” berbincang bertiga bersama salah seorang calon ketua umum yang disebut “C”. Pengurus “A” dan calon ketua umum “C”  menawarkan untuk memberikan beberapa sertifikat kepada anggota baru “B”. Sertifikat yang dimaksud adalah sertifikat dari kegiatan organisasi 2 tahun yang lalu. Dan sertifikat tersebut menyatakan, bahwa dia yang disebut di dalamnya adalah anggota organisasi yang aktif dalam kegiatan yang dilakukan organisasi itu.

Anggota “B” berpikir, untuk apa sertifikat tersebut diberikan kepadanya. Sementara sertifikat tersebut sudah kadaluarsa. Anggota “B” sebagai anggota baru merasa cemas.         

Pertanyaan:

  1. Apa tujuan dari pengurus “A” dan calon ketua memberikan sertifikat tersebut?Apakah yang mereka lakukan sudah sesuai dengan aturan organisasi?
  2. Apakah benar sertifikat tersebut telah kadaluarsa (baca: tidak dapat digunakan)?
  3. Apa yang sebaiknya dilakukan oleh anggota “B”?

Penyelesaian:

 

1. Setiap orang mengikuti sebuah organisasi dengan suatu tujuan. Setiap tujuan diikuti dengan usaha untuk mencapai tujuan tersebut. Tujuan biasanya berkaitan erat dengan karakter dan kepribadian seseorang. Dalam kasus tersebut, pengurus “A” dan calon ketua umum “C” tentu memiliki suatu maksud dan tujuan. Karena pada saat itu sedang berlangsung masa kampanye pemilihan ketua umum. Ada kemungkinan bahwa pembagian setifikat yang dilakukan oleh keduanya berkaitan dengan usaha untuk mencapai keberhasilan dalam pemilihan ketua umum.

Pembagian sertifikat yang dilakukan pengurus “A” dan calon ketua umum “C”  tidak tepat sasaran dan sia-sia. Mungkin mereka mengira dengan memberikan sertifikat semacam itu, akan membuat anggota baru tertarik lantas memilih calon ketua umum “C” pada saat pemilihan umum. Tetapi tentu saja, setiap orang akan berpikir berkali-kali sebelum menerima sesuatu yang bukan menjadi miliknya. Apalagi kalau di dalam pemberian itu terjadi kejanggalan.

Kejanggalan yang terjadi adalah; pertama, sertifikat itu dikeluarkan 2 tahun yang lalu pada saat anggota “B” belum menjadi anggota di organisasi tersebut, kedua, sertifikat tersebut menyatakan bahwa nama yang ditulis telah mengikuti kegiatan organisasi, yang mana tentu saja tidak diikuti oleh anggota “B”. Kejanggalan tersebut merupakan sinyal atau tanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.  

Melihat ketidak beresan tersebut, terlebih dahulu mari dilihat kembali aturan organisasi terkait mekanisme pembagian sertifikat. Biasanya dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, pembagian sertifikat tidak diatur secara khusus atau tidak secara tertulis (tidak normatif). Namun perlu diingat, aturan organisasi tidak hanya mengenai yang tertulis saja. Terdapat aturan tidak tertulis. Aturan tidak tertulis menyangkut segala perilaku seorang organisatoris, etos kerja, serta karakter berorganisasi.

Adalah suatu pertanyaan yang patut diketahui mengenai karakter berorganisasi dan etos kerja yang dimiliki oleh pengurus “A” dan calon ketua umum “C”. Terlebih lagi calon ketua umum “C” memiliki tujuan untuk menjadi ketua umum organisasi. Apabila ia benar terpilih, akan menjadi ketua organisasi seperti apakah dirinya. Sementara itu, seorang ketua umum sangat berperan dalam membawa organisasi menuju kemajuan yang baik dan benar. Pembagian sertifikat sebagai upaya yang dilakukan calon ketua umum “C” untuk mendapatkan simpati dari anggota baru, tidak sesuai dengan etos kerja jujur. Ketidak jujuran akan menjadi hal yang berbahaya bagi perjalanan organisasi di masa yang akan datang. Dan berbahaya pula bagi masa depan dari calon ketua umum “C”. ketidak jujuran yang dilakukan oleh seorang ketua umum, tidak saja akan merugikan diri sendiri, namun juga pengurus, anggota serta organisasi secara keseluruhan.

2. Untuk mengetahui masa berlaku dari sebuah sertifikat, terlebih dahulu memahami pengertian dan fungsi sertifikat. Pengertian sertifikat adalah selembar kertas yang berisi pernyataan tertentu mengenai suatu hal atau kegiatan yang berlangsung pada suatu waktu yang dilakukan oleh nama yang ditulis dan diketahui serta ditanda tangani oleh lembaga yang berwenang mengeluarkan sertifikat tersebut. Dalam hal ini yang disebut sebagai sertifikat adalah piagam penghargaan atas prestasi, menjadi peserta, panitia, pengurus, ataupun anggota dalam suatu kegiatan organisasi dan kompetisi.

Ada beberapa hal yang menjadi unsur sebuah sertifikat; logo lembaga yang mengeluarkan sertifikat, nama pemilik sertifikat, pernyataan mengenai kegiatan yang dilakukan pemilik sertifikat, nama pihak yang menjadi wakil lembaga yang mengeluarkan sertifikat, stempel dari lembaga yang berwenang mengeluarkan sertifikat, serta tanggal dikeluarkannya sertifikat. Unsur-unsur tersebut secara umum terdapat pada setiap lembaran sertifikat.

Sementara itu, fungsi sertifikat adalah sebagai dokumentasi terhadap segala kegiatan yang dilakukan pemilik sertifikat, serta dicantumkan dalam daftar riwayat hidup. Selain itu sertifikat dapat juga menjadi bukti tertulis tentang kegiatan yang dilakukan oleh seseorang.

Mengenai pembagian sertifikat yang dilakukan pengurus “A” dan calon ketua umum “C”, kadaluarsa atau tidak dapat diperhatikan melalui tanggal dikeluarkannya sertifikat. Karena sertifikat dikeluarkan 2 tahun yang lalu, sesuai tanggal yang tercantum di dalamnya, maka sertifikat tersebut telah lewat waktu apabila diberikan saat ini. Akibat hukum dari sertifikat yang telah lewat waktu adalah sertifikat tersebut tidak berlaku. Selain lewat waktu, Pembagian sertifikat yang dilakukan pengurus “A” dan calon ketua umum “C” kepada anggota “B” mengandung unsur penipuan dan penyalah gunaan barang milik organisasi. Dalam arti, dikatakan penipuan yaitu terdapat upaya untuk mengadakan sesuatu yang tidak ada, terkait kepemilikan sertifikat dalam suatu kegiatan yang pernah dilakukan organisasi tersebut. Sasaran korban dari unsur penipuan adalah anggota “B”. Sedangkan penggunaan barang milik organisasi dengan melawan aturan organisasi merupakan suatu tindakan penyalahgunaan. Dalam hal ini yang menjadi korban dari unsur penyalah gunaan barang organisasi adalah organisasi secara keseluruhan. Oleh karena itu, sebuah organisasi harus mampu bersikap tegas terhadap pengurus atau anggota yang melakukan perbuatan melawan aturan organisasi. Kebijaksanaan seorang pemimpin dibutuhkan dalam organisasi. Di sinilah ketrampilan leadership seorang pemimpin diuji.     

3. Situasi yang dialami anggota “B” memang cukup rumit. Di satu sisi anggota “B” memahami bahwa kejanggalan yang dia alami terkait pembagian sertifikat oleh pengurus “A” dan calon ketua umum “C”, bukanlah sesuatu yang remeh atau kecil. Tetapi di lain pihak, anggota “B’ juga menyadari bahwa dirinya adalah seorang anggota baru di organisasi tersebut. Anggota “B” masih ingin aktif di organisasi tersebut. sambil mempertimbangkan bahwa ada kemungkinan tidak semua pengurus organisasi memiliki perilaku semacam itu.

Persoalannya sekarang adalah apakah anggota “B” menerima atau menolak pemberian sertifikat tersebut. Walaupun sebenarnya, tidak menjadi masalah bila anggota “B” menerima atau menolak sertifikat tersebut. karena tanpa menolak pun, sertifikat itu sudah tidak berlaku dan tidak dapat digunakan. Terlebih lagi sertifikat tersebut mengandung cacat secara hukum.

Untuk menjaga hubungan baik dengan pengurus lainnya, dan mengantisipasi terhadap kemungkinan yang terjadi selanjutnya, anggota “B” dapat menerima sertifikat tersebut. Penerimaan anggota “B” terhadap sertifikat diartikan sebagai upaya untuk mengetahui keadaan yang terjadi di organisasi sambil kemudian bersiap untuk mewaspadai segala kemungkinan.

Berpesta Plastik Bersama Best Student di Pantai Timur Surabaya

best student bersama sampah plastik

Oleh Ria R. Dewanti,

Alumni Sampoerna Best Student Visit (SBSV) 2010

Satu tahun yang lalu, tanggal 29 Juli 2010, saya dan 71 mahasiswa yang berasal dari berbagai PTN dan PTS di Indonesia berkesempatan mengunjungi pantai timur Surabaya dalam suatu acara kunjungan mahasiswa berprestasi yang diadakan oleh PT. HM. Sampoerna, tbk. Sesuai jadwal kegiatan, sore itu kami melakukan program penghijauan. Kami menyusuri sungai sepanjang muara pantai tersebut. Dari sana, kami diajak ke sebuah tempat yang dipenuhi oleh sampah plastik. Menurut pendamping kelompok, sampah-sampah plastik itu berasal dari daerah di sekitar Surabaya. Sejauh mata memandang yang terlihat adalah sampah plastik. Kelihatannya sampah tersebut telah lama berada di sana, bercampur dengan tanah, dan lengket satu sama lain. Pendamping kelompok bertanya pada kami. Bagaimana cara memindahkan sampah plastik tersebut.

“tidak mungkin,” dalam hati saya berkata.

memungut sampah di bibir pantai

Sampah plastik ini tidak bisa diuraikan. Kalau hanya memindahkan tempat, tentu kami bisa. Tetapi untuk memusnahkan atau mendaur ulang, bagaimana mungkin. Karena tidak paham cara penyelesaiannya, beberapa dari kami mencoba menarik sejumput sampah plastik itu. Tetapi apa yang terjadi, sampah plastik itu telah menyatu tak terpisahkan. Sehingga hampir sebongkah besar sampah plastik terangkat dari kerumunan sampah plastik lainnya.    

Sangat menyakitkan melihat semua ini. Bahwa tidak ada yang bisa dilakukan untuk memusnahkan sampah plastik itu. Saya membayangkan latar belakang pendidikan kami serta prestasi yang kami raih. Namun apa guna apabila tidak bisa menyelamatkan lingkungan hidup, bumi yang ditinggali saat ini.   

Sulit untuk dilupakan. Plastik-plastik ini ada di dekat kita, setiap hari, di mana pun. Dan plastic inilah yang suatu hari akan menghabisi kita. Apabila kita gagal untuk menguraikannya atau paling tidak menguranginya. Sungguh suatu pekerjaan rumah bagi generasi muda bangsa dan masyarakat dunia. Untuk mewujudkan lingkungan hidup yang sehat, bersih dan aman. Tanah, tanaman, air dan batu-batuan saling berkaitan. Satu komponen hilang maka rusaklah seluruhnya. Kepunahan alam adalah kepunahan hewan dan manusia.

menyusuri pantai timur surabaya dengan kapal boat

Tidak ada lagi yang dapat kita miliki. Baju dan barang yang selalu kita beli. Makanan yang dikonsumsi. Perhiasan yang dikenakan. Apakah yang masih dapat dinikmati bila ala mini telah marah, mengamuk, karena keserakahan manusia yang tidak ada habisnya.

Jangan lagi ada yang mengorbankan lingkungan hidup sebagai komoditi perdagangan besar tanpa melakukan reboisasi dan regenerasi. Menjauhlah politik kotor yang rakus mengorbankan alam hanya untuk milyaran rupiah.

Marilah kita semua berbenah. Memperbaiki kualitas hidup kita. Tidak selamanya materi menjadi ukuran kemuliaan seseorang.    

 best student menanam pohonbersemangat melakukan penghijauan

Belajar Organisasi Sejak Belia

 

Oleh

Ria R. Dewanti,

alumni Forum Kajian Keilmuan Hukum (FK2H)

Masih teringat jelas di benak masyarakat tentang kesemrawutan yang terjadi pada saat kongres Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Jalannya kongres dipenuhi dengan interupsi dan tidak dapat menghasilkan kesepakatan. Hal ini menjadi suatu catatan bagi perjalanan organisasi sebesar PSSI. Terlebih lagi, kongres PSSI tersebut dihadiri oleh perwakilan FIFA International yang mengikuti jalannya sidang.  

Di lain kesempatan, sebuah partai besar di Indonesia mengalami krisis kepercayaan dari publik.  Pengakuan tentang dugaan korupsi yang dilakukan kader partai membuat para petinggi partai berang. Dari kasus wisma atlet SEA GAMES hingga misteri sumber dana kampanye ketua partai menimbulkan pertanyaan dari berbagai pihak. Kasus keuangan kerap kali menjadi masalah.

Begitu banyak peristiwa yang terjadi dalam suatu organisasi. Entah organisasi tersebut berskala lokal, nasional, atau pun internasional. Sepelik apa pun masalah yang menimpa, organisasi tetap harus bertahan. Beradaptasi kemudian menemukan jalan keluar dari kesulitan yang dialami organisasi.

Terdapat beberapa hal yang dipelajari di organisasi. Pelajaran tersebut menyangkut berbagai hal yang berguna dalam kehidupan. Berikut ini yang dapat dipetik dari berorganisasi:

1. Belajar memiliki visi hidup

Pada setiap Rapat Anggota Tahunan (RAT), selalu dibahas mengenai visi dari sebuah organisasi. Visi adalah suatu pandangan yang jelas mengenai hal yang akan dicapai dan terwujud nyata. Bahkan sebelum suatu hal ada, seorang yang memiliki intuisi yang kuat akan memiliki keyakinan yang mantap bahwa hal itu akan terjadi. Visi biasanya berjumlah satu. Sementara penjabaran dari visi adalah misi. Misi bisa berjumlah lebih dari satu.

Visi perlu dalam kehidupan. Dengan memiliki visi seseorang dapat memiliki gambaran akan menjadi apakah dirinya nanti. Apakah dia adalah seorang jenderal yang menang. Apakah dia akan menjadi seorang perwira yang gigih. Meminjam istilah dari Mario Teguh (The Golden Ways, Metro Tv 24 Juli 2011, pukul 19.45), “yang dikatakan sebagai perwira sesungguhnya adalah seorang pria yang mampu menghargai wanita. Berapa banyak jenderal yang besar di hadapan prajuritnya sementara tampak tak berguna di rumah karena tidak menghargai wanita.” Hal ini berarti bahwa begitu besarnya jasa wanita dalam mendukung kesuksesan pria, sehingga pria wajib untuk menghargai wanita. Termasuk menempatkan wanita pada visinya. Dikatakan pula oleh Mario Teguh, dalam suatu kalimat yang mendidik pada seorang pria muda, “hayo, lho. . . katanya mau menikah dengan wanita hebat, mana dong semangatnya.” Tentu saja karena wanita hebat akan memilih pria hebat, jadi seorang pria muda harus belajar menjadi pria yang berkarakter. Oleh sebab itu seorang pria muda harus berjuang.        

2. Belajar melakukan dokumentasi terhadap hal penting   

Setiap hari pada kehidupan seseorang, selalu ada dokumen penting yang dikumpulkan. Seperti ijazah SD, SMP, SMA, S1. Atau pun sertifikat dan piagam penghargaan yang diperoleh karena mengikuti berbagai macam pelatihan, seminar maupun perlombaan dan kompetisi.

Dalam organisasi, ditemui pula surat masuk dan surat keluar. Agar rapi dan mudah untuk dilihat, surat-surat tersebut harus disusun menjadi satu dalam suatu map besar yang biasa disebut ‘filling cabinet’. Dalam suatu periode kepengurusan, hendaknya terdapat sebuah kumpulan surat-surat penting yang dijilid jadi satu atau dikumpulkan dalam sebuah ‘filling cabinet’. Biasanya hal ini merupakan bagian dari bidang kesekretariatan.      

3. Belajar tertib keuangan

Memiliki kesadaran terhadap jumlah pengeluaran dan pemasukan keuangan akan menghindarkan seseorang dari kekurangan uang. Sehingga setiap orang dapat menggunakan uang yang dimiliki dengan bijak dan mengutamakan kebutuhan yang utama.

Begitu pula dengan sebuah organisasi, pemahaman tentang laporan keuangan akan membawa keselamatan organisasi. Penyalah gunaan keuangan akan mempersulit diri sendiri. Terlebih lagi pada era transparansi keuangan demokrasi ekonomi saat ini. Akan lebih baik bagi para organisatoris untuk belajar jujur dalam hal keuangan. Juga bersikap tertib dalam hal pencatatan setiap transaksi keuangan dengan melampirkan setiap bukti transaksi. Hal ini terutama terkait dengan bidang kebendaharaan.   

4. Belajar merencanakan kegiatan dan berusaha menepatinya

Setiap jam dalam kehidupan, selalu ada kegiatan yang dilakukan. Entah itu kuliah, membaca buku, menulis makalah, ataupun mengikuti perlombaan dan pelatihan di suatu tempat. Setiap kegiatan yang dilakukan hendaknya telah direncanakan sebelumnya. Sehingga tidak terburu-buru dan meningkatkan peluang keberhasilan suatu kegiatan. Perencanaan kegiatan suatu organisasi dilakukan melalui serangkaian rapat-rapat guna membicarakan hal-hal apa saja mengenai penyelenggaraan kegiatan tersebut.  

5. Belajar setia pada yang baik dan benar

Organisasi adalah tempat berkumpulnya orang banyak. Berbagai macam orang memiliki berbagai karakter yang berbeda. Pergaulan di sebuah organisasi, apabila tidak didasari visi dan tujuan yang mantap akan menyebabkan diri mudah terpengaruh pada hal yang tidak baik dari teman seorganisasi. Di sinilah kesetiaan pada kebaikan dan kebenaran yang dipegang akan diuji. Sampai di manakah ketahanan diri menghadapi perbedaan karakter tersebut.

Pada kehidupan bermasyarakat nantinya, setiap orang pun akan mendapat ujian. Bagaimana cara mereka untuk dapat setia. Orang yang setia tidak mudah tergoda untuk berbuat tidak ksatria. Idealnya adalah menemukan teman-teman yang sama-sama memiliki kesetiaan pada kebenaran dan kebaikan. Namun terkadang, situasi yang dihadapi para organisatoris tidak seideal itu.   

6. Belajar melakukan evaluasi dan interospeksi diri

Setelah melakukan suatu kegiatan, suatu organisasi akan mengadakan laporan pertanggung jawaban (LPJ). Pada LPJ setiap bidang dalam kepanitiaan akan mempresentasikan kinerja mereka sebelum dan selama kegitan berlangsung. Hal yang terlihat dari sini adalah karakter panitia dalam melakukan evaluasi dan interospeksi terhadap hasil kerja mereka dalam mewujudkan terselenggaranya kegiatan.

LPJ bukanlah arena untuk saling menyalahkan antar panitia atau pengurus. LPJ merupakan saat di mana para panitia dan pengurus menyadari kelebihan dan memaafkan kekurangan mereka dalam batas kewajaran. Saling memberikan kritik yang membangun dan bermanfaat akan mempererat hubungan personal di organisasi tersebut. Diperlukan pula kemampuan untuk mendengarkan pendapat orang lain. Karena terkadang nasehat yang terdengar pahit itu lebih baik daripada mendapatkan pujian namun menyesatkan.    

7. Belajar menghadapi kesuksesan dan kegagalan   

Kegiatan yang dilakukan dengan jerih payah di sebuah organisasi, akan menghasilkan 2 hal. Yaitu kesuksesan atau kegagalan. Pada umumnya, persiapan hanya dilakukan untuk menghadapi kesuksesan. Sementara kegagalan, lalai untuk diperhatikan. Terkadang hal ini menimbulkan beban batin yang berat bagi yang belum terbiasa mengalami keduanya.

Dengan mengikuti dan aktif dalam berbagai kegiatan organisasi. Pemikiran dan mental akan turut menyesuaikan. Kesuksesan dan kegagalan dapat dimaknai dengan tenang. Kedua hal ini akan mendidik mental dan karakter seseorang untuk terus berusaha dan berkarya. Apa pun hasilnya. Tidak mudah terlena oleh sukses. Dan tidak mudah putus asa apalagi patah hati oleh kegagalan.

Demikianlah beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari kegiatan berorganisasi. Setiap organisatoris mungkin bisa menambahkan beberapa hal lainnya. Karena pelajaran bersifat personal. Dalam artian setiap orang mungkin saja memiliki pemahaman dan penilaian yang berbeda mengenai pengalaman dalam berorganisasi.

Selamat berorganisasi, para belia!

5 Kebiasaan Agar Lekas Mendapat Kerja

Oleh

Ria R. Dewanti

“Anda sedang mencari kerja,”

“Ingin tahu cara lekas mendapat kerja,”

“Simak artikel berikut ini. . .”

Ada beberapa kebiasaan baik yang bisa dilakukan oleh para pencari kerja. Kebiasaan tersebut mencakup hal-hal yang dilakukan setiap hari dalam usaha untuk mendapat pekerjaan. Seperti jadwal sehari-hari dari bangun hingga tidur lagi. Apa saja yang menjadi kegiatan positif yang dapat meningkatkan nilai dari para pencari kerja. Maka patut untuk diketahui agar dapat menghemat waktu dan tenaga.

Kebiasaan-kebiasaan baik itu antara lain adalah sebagai berikut:

1. Selalu melakukan pembaharuan daftar riwayat hidup

Daftar riwayat hidup memiliki peran penting dalam menjelaskan identitas dan ketrampilan yang dimiliki oleh para pencari kerja. Karena itu untuk mendapat kesan yang baik dari perusahaan yang dilamar, dianjurkan untuk membuat daftar riwayat hidup dengan semenarik mungkin. Perhatikan pula hal-hal yang akan dicantumkan dalam daftar riwayat hidup. Seperti identitas diri yang berisi nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, asal universitas, fakultas dan jurusan, jumlah IPK, situs web (apabila ada) dan lain sebagainya.   

Selain itu perlu juga dicantumkan dalam daftar riwayat hidup mengenai pengalaman kerja (bagi yang telah bekerja sebelumnya), magang, prestasi yang diraih, karya tulis yang dihasilkan, kemampuan bahasa asing, kemampuan mengoperasikan computer, dan lain sebagainya.

2. Mencari informasi kerja di internet

Para pencari kerja sebaiknya aktif mencari informasi lowongan kerja melalui internet. Beberapa perusahaan mengadakan rekrutmen melalui pengajuan surat lamaran di internet. Ada beberapa situs pencari kerja di internet, antara lain:

gambar situs LKIT

situs LKIT merupakan salah satu situs pencari kerja yang dipercaya. Setiap hari selalu ada lowongan kerja terbaru yang tersedia di situa tersebut. cara mengajukan lamaran pun beragam. Ada yang melalui internet maupun lewat pos. selain menyediakan lowongan kerja, situs LKIT juga menyediakan informasi mengenai beasiswa ke luar negeri, perusahaan tambang, pegawai negeri sipil.

situs ini memiliki link terkait dengan LKIT. Bergerak dalam menyediakan informasi kerja. Situs lowongan kerja juga menyediakan berbagai jenis lowongan dari berbagai macam perusahaan maupun perbankan. Terkadang ada beberapa lowongan kerja yang sama antara situs LKIT dengan situa Lowongan Kerja tersebut.logo situs jobstreet

situs ini merupakan situs yang terkenal di asia. Situs jobstreet seringkali menjadi sponsor dalam bernbagai bursa kerja yang diikuti para pencari kerja. Semua lamaran dilakukan melalui internet. Para pelamar bisa memilih perusahaan yang ingin mereka lamar. Terdapat banyak pilihan dalam situs Jobstreet ini, dari bidang pekerjaan seperti kesehatan, hukum, akuntansi dan lain-lain, standar gaji yang diinginkan, posisi yang dilamar, serta berbagai spesifikasi yang sesuai antara pencari kerja dan perusahaan yang dituju.    

situs ini merupakan situs lamaran kerja milik chevron yang terbaru. Beberapa latar belakang pendidikan dibutuhkan di perusahaan tambang ini. Terutama yang banyak dicari adalah yang berasal dari tekhnik. Namun tidak menutup kemungkinan terhadap jurusan hukum, akuntansi dan lain-lain. Informasi tentang kebutuhan karyawan diumumkan dalam beberapa periode. Untuk mengetahui apakah jurusan anda sedang dicari oleh Chevron atau tidak, harus rajin dipantau setiap hari.

situs ini merupakan situs lowongan kerja di wilayah jawa timur. Yang mengelola situs ini adalah dinas sosial, transmigrasi dan tenaga kerja provinsi jawa timur. Kebanyakan perusahaan yang menginformasikan lowongannya, berdomisili di Surabaya dan sekitarnya. Sehingga hal ini akan memudahkan para pencari kerja yang berasal dari wilayah Surabaya dan sekitarnya.

3. Selalu menjalin komunikasi dengan sesama pencari kerja

Para pencari kerja sebaiknya berusaha untuk menjalin komunikasi antara sesame pencari kerja. Misalnya aktif mengikuti forum diskusi para pencari kerja. Mengirim sms kepada sesame teman pencari kerja. Memanfaatkan kecanggihan teknologi dalam mencari informasi dan kabar terbaru dari sesame pencari kerja lainnya.

Hal ini akan meningkatkan motivasi dalam mencari kerja. Juga menambah pengetahuan mengenai cara-cara atau bidang apa saja yang dapat ditelusuri oleh pencari kerja. Denagn menjalin komunikasi, akan diketahui cara-cara yang efektif dalam mencari pekerjaan yang tepat dan sesuai dengan bakat dan minat.

4. Aktif mengikuti job fair di berbagai tempat

Bursa kerja atau job fair diadakan beberapa kali setiap bulan di berbagai tempat. Penyelenggara job fair bisa berasal dari perguruan tinggi negeri atau swasta atau bisa juga diadakan oleh pemerintah daerah  maupun provinsi. Masukkan lamaran yang sesuai dengan yang diminati pada saat mengikuti job fair. Tidak perlu putus asa apabila tidak mendapat panggilan setelah mengikuti job fair. Teruslah mencoba mengikuti bursa kerja berikutnya.

Yang perlu diwaspadai adalah beberapa perusahaan atau perbankan yang pernah dilamar pada saat job fair terkadang ada yang menggunakan sistem save. Dalam artian apabila pelamar pernah mendaftar sebelumnya di perusahaan tersebut, kemudian gugur pada suatu tahapan proses seleksi. Maka pada saat mendaftar yang kedua kalinya di perusahaan tersebut pada tahun yang sama, pelamar tersebut di black list alias gugur.   

5. Mengirimkan surat lamaran setiap hari

Mendapatkan kerja yang sesuai dan layak memang mebutuhkan proses dan tidak mudah. Oleh karena itu sebelum menemukan yang sesuai usahakan untuk tetap bersemangat memasukkan surat lamaran kerja di berbagai perusahaan setiap hari. Tidak ada hari tanpa mengirim surat lamaran kerja.

Demikianlah 5 kebiasaan baik yang dilakukan oleh pencari kerja. Ingatlah, pencari kerja yang baik adalah yang bermental baja. Jadi jangan mudah menyerah apabila menghadapi kesulitan atau belum mendapat panggilan kerja. Teruslah berusaha. Dan kuatkanlah doamu. Iringilah setiap usaha yang dilakukan dengan doa keselamatan agar senantiasa mendapat perlindungan dari yang Maha Pencipta.

Selamat mencari kerja!

 

Kisah Seorang Pertapa Tua dan Sebuah Labu

 

Oleh

Ria R. Dewanti

Dahulu kala, di lereng sebuah gunung hiduplah seorang pertapa tua. Pertapa ini telah begitu renta hingga rambut dan janggutnya berwarna putih. Tubuhnya kurus dan matanya sudah tidak setajam dahulu saat masih muda. Dia hidup sendiri di sebuah gubuk kecil di dekat pohon bamboo yang tumbuh lebat di sisi kiri dan kanannya serta beberapa tanaman perdu dan pohon-pohon yang rindang.

Pertapa ini memiliki tabiat yang keras. Sejak muda dia belajar untuk hidup mandiri dan bekerja menggarap ladang yang hasilnya dapat ia jual ke desa di dekat sana. Dia bekerja begitu kerasnya namun kemiskinan terus menghinggapinya. Setiap kali ada sanak kerabat yang menemui dan berusaha memberikan bantuan, dia selalu menolaknya. Sang pertapa berusaha memegang erat prinsip hidup untuk berupaya sebaik mungkin agar tidak merepotkan orang lain. Karena baginya yang terbaik adalah ketika seseorang mampu memberi kepada sesama namun dia memandang rendah terhadap sikap meminta. Bahkan dalam kesulitan hidup yang ia jalani tak sedikitpun ia meminta pertolongan pada orang lainnya.

Kehidupan bermasyarakat telah lama ia tinggalkan. Hidup menyendiri selama puluhan tahun inilah yang menjadi pilihannya. Ia begitu yakin dengan pendapatnya. Kebenciannya begitu besar terhadap perilaku buruk manusia yang sewenang-wenang dan mengejar materi belaka. Pertapa ini tak begitu percaya dengan pemerintahan yang ada di negaranya. Baginya kemelaratan dan penderitaan yang dialami rakyat adalah kesalahan dari raja dan pejabat tinggi yang berada di sisinya.    

Namun sayangnya, kondisi Negara dan masyarakat yang sedang kacau saat itu tidak memunculkan motivasi untuk berubah pada diri pertapa tersebut. Seolah-olah menyesali nasib yang dimiliki. Penyesalannya terus dipupuk lama sekali. Dia tak pernah berubah. Bahkan hingga tua seperti sekarang.

Sebenarnya pertapa tersebut terlahir dari sebuah keluarga yang kaya. Ayahnya adalah seorang pejabat di pemerintahan. Namun karena iri hati dan dengki, beberapa pejabat kawan ayahnya merencanakan untuk menghasut sehingga menyebabkan ayahnya diberhentikan dari kedudukannya. Hingga ibunya jatuh sakit kemudian meninggal dunia. Harta ayahnya telah habis untuk membiayai pengobatan ibunya. Akhirnya keluarga itu pun jatuh miskin. Beberapa tahun berikutnya, ayah sang pertapa menyusul kematian istrinya. Sebelum meninggal ia sempat berpesan kepada anaknya. “Bahwa pemerintahan adalah tempat yang kotor dan hina serta menjauhlah dari apa yang selalu dikejar-kejar manusia pada umumnya. Karena di situlah ketenangan berasal”. Begitulah ayah sang pertapa berpesan.

Suatu ketika seorang pejabat tinggi yang jujur dan amanat mendengar kisah tentang seorang pertapa yang tinggal di lereng gunung. Pejabat tersebut ingin membuktikan berita yang seing dia dengar mengenai kekeras kepalaan yang dimiliki pertapa itu. Pejabat itu pun memutuskan untuk menemui pertapa itu.  

Pada suatu sore hari yang tenang. Sampailah pejabat itu di gubuk sang pertapa tua. Pejabat itu datang mengetuk pintu gubuk yang sama tuanya, dengan membawa sebuah bungkusan sebagai hadiah bagi sang pertapa. Setelah ketokan pintu yang ketiga, terdengar suara dari balik pintu untuk membuka. Sang pejabat pun dipersilahkan masuk.

“selamat sore, paman. Saya datang dari jauh untuk menemui paman”, ucap sang pejabat.

“apa yang kau inginkan dariku wahai orang asing?’

“saya telah lama mendengar kisah tentang paman. Untuk itu saya memberanikan diri datang kemari untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.”

“diriku ini telah renta. Yang kumiliki hanyalah gubuk bersama ladang kecil yang menjadi sumber penghasilanku. Apabila dirimu berpikir kau dapat terlihat mengagumkan dengan membawa hadiah-hadiah untuk menolong penderitaan tua renta ini. Sebaiknya lupakan saja. Kembalilah engkau ke rumahmu. Aku tidak membutuhkan pertolongan dari siapa pun.”

“kalau begitu, paman. Benarlah berita yang selama ini saya dengar. Untuk itu terimalah buah labu ini.”

“hmmm,. . . buah labu. Besar sekali labu ini. Dagingnya keras dan juga pahit. Bagaimana aku bisa menggunakan labu ini untuk keperluanku. Sebaiknya labu seperti ini dibuang saja.”

“betul sekali, paman. Labu itu memang keras dan rasanya pahit. Sebaiknya memang dibuang saja. Tidak ada manfaat yang bisa diambil dari labu seperti itu.”

Pejabat itu pun pergi meninggalkan pertapa tua bersama labu tersebut. Sayangnya pertapa itu terlalu tua untuk memahami apa yang dimaksud oleh pejabat. Apalagi mengambil hikmah dari kejadian tersebut.

Lulusan Sarjana Tidak Lekas Bekerja

salah satu bursa kerja (Job Fair) di Malang, Jawa Timur 01 Juli 2011.

“Di antara para sarjana yang diwisuda,”

“Tidak semua segera bekerja,”

“Mengapa bisa demikian.”

“Apa penyebabnya?”

Sebelum membahas lebih lanjut, mari ditelusuri alasan seseorang berkuliah di perguruan tinggi. Seorang mahasiswa dibekali tidak saja ilmu pengetahuan yang sifatnya akademik selama kuliah, namun juga pengetahuan non akademik lainnya. Pengetahuan akademik didapatlan dalam proses belajar mengajar di kampus pada suatu mata kuliah yang ditempuh dengan sejumlah sistem kredit semester (sks). Sementara pengetahuan non akademik didapatkan melalui banyak cara, diantaranya adalah dengan melibatkan diri secara aktif pada organisasi yang berada di dalam kampus (intra) maupun di luar kampus (ekstra). Beberapa tahun terakhir ini pun, banyak perguruan tinggi yang membekali para mahasiswanya dengan ketrampilan berwirausaha, dengan cara memberikan bantuan dana sebagai modal untuk mengembangkan ide kreatif dalam wirausaha yang mereka jalankan.

Beberapa pengetahuan yang diberikan kampus sebagai almamater tersebut bertujuan agar mahasiswa setelah lulus dapat menerapkan dan mengamalkan segala macam ilmu dan ketrampilan yang berhasil mereka dapatkan selama duduk di bangku kuliah. Tentunya diharapkan bahwa kemajuan dan tiungginya kualitas lulusan dapat membawa perubahan serta kesejahteraan yang lebih baik di masyarakat.

sebuah stan perusahaan di bursa kerja.

Kini yang menjadi persoalan adalah mengapa banyaknya lulusan sarjana yang dihasilkan perguruan tinggi dengan sejumlah ketrampilan yang dimiliki namun tidak semua lekas bekerja. Dalam hal ini perlu dipahami pula, jenis pekerjaan seperti apakah yang menjadi ukuran dari keberhasilan para lulusan sarjana ini. Untuk itu lebih jelasnya akan diuraikan dalam analisis di bawah ini. Terdapat beberapa jenis pencari kerja terkait dengan ketrampilan yang dimiliki, yaitu:

1. berketrampilan namun belum bekerja

biasanya hal ini dialami oleh para pencari kerja yang berjiwa idealis. Dalam artian para pekerja jenis ini menginginkan agar dirinya dapat bekerja di tempat yang sesuai dengan bakat dan kemampuan yang dimiliki dengan penghasilan yang sesuai pula. Sehingga mereka rela untuk meningkatkan kualitas diri mereka sampai mereka berhasil mendapatka pekerjaan yang sesuai.

2. berketrampilan dan sudah bekerja dengan mapan

ini adalah yang banyak diimpikan oleh para pencari kerja. Setelah menggunakan bertahun-tahun waktu kuliah untuk mengembangkan diri dengan berbagai macam aktivitas yang terkendali dan disiplin tinggi, pada akhirnya setelah bekerja mendapatkan pekerjaan yang mapan sesuai dengan ketrampilan dan kemampuan yang mereka miliki serta penghasilan sesuai. Permasalahannya adalah berapa waktu yang dibutuhkan para pencari kerja ini agar mencapai keadaan yang demikian.  

3. berketrampilan dan sudah bekerja, namun ingin mencari kerja yang lebih baik

hal ini terjadi pada para pencari kerja yang sebenarnya telah memiliki pekerjaan namun karena beberapa hal berkeinginan untuk mencari kerja yang lebih sesuai. Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan dari para pekerja jenis ini, misalnya, penghasilan yang tidak sesuai, suasana kerja yang tidak nyaman, pekerjaan yang tidak sesuai minat dan bakat, dan lain sebagainya.  

4. berketrampilan dan tidak bekerja

beberapa lulusan sarjana ada yang memiliki ketrampilan tertentu namun tidak berusaha untuk mengamalkan kemampuan yang dimilki. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal. Misalnya situasi yang tidak mendukung, tidak didukung oleh keluarga, memiliki motivasi yang kurang untuk bekerja, ada keinginan untuk mengandalkan orang lain sebagai pemenuh kebutuhan hidup sehingga dirinya tidak perlu bekerja, dan lain sebagainya.  

5. tidak berketrampilan dan tidak bekerja  

hal ini mungkin sangat bertolak belakang dengan misi pencari kerja. Karena pada jenis ini, para lulusan sarjana selama kuliah tidak mau atau memiliki motivasi yang kurang untuk menempa diri dengan berbagai ketrampilan. Sehingga pada saat lulus mereka tidak hanya minim kemampuan namun yang jauh lebih parah lagi adalah kekurangan etos kerja untuk berusaha memenuhi kualifikasi yang diminta dalam lapangan kerja. Apabila tidak diperbaiki, para lulusan jenis ini akan mengalami kesulitan untuk berkarya ataupun bekerja di kemudian hari.

Berikut tadi adalah ulasan mengenai bermacam jenis pencari kerja beserta kualitas ketrampilan yang dimiliki. Berdasarkan ulasan tersebut terdapat beberapa fase agar para pencari kerja mendapatkan pekerjaan yang diidam-idamkan. Jadi, tidak semua lulusan sarjana yang diwisuda lekas mendapat pekerjaan. Dan belum tentu juga, para lulusan yang telah bekerja mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Oleh karena itu diperlukan semangat yang tinggi dan pantang menyerah untuk berusaha dan berkarya hingga menemukan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan kemampuan yang dimiliki. Pada akhirnya dapat dimengerti bahwa bekerja bukanlah sekedar mencukupi kebutuhan hidup namun juga untuk menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat lainnya. Dengan begitu kebahagiaan lahir dan batin akan diperoleh para pekerja tersebut.

Selamat mencari kerja!          

para pencari kerja sedang berjubel di stan-stan bursa kerja.

Tulisan Ilmiah Vs Tulisan Populer

Oleh

Ria R. Dewanti

“Beberapa penulis pemula mengalami kebingungan,”

“Ketika menulis artikel di media massa,”

“Tulisan seperti apakah yang seharusnya?”

Menulis artikel di media massa memiliki beberapa ketentuan. Artikel yang mudah dibaca, menarik minat siapa saja yang membaca. Semua itu akan memberikan penilaian terhadap kualitas dari sebuah karya yang ditulis. Karya yang bagus akan mendapat penghargaan yang seimbang.

Beberapa kesulitan seringkali ditemui pada para penulis pemula. Beberapa tulisan yang dibuat seakan belum menemukan arah. Apakah tulisan tersebut akan disusun secara ilmiah atau populer. Terlebih lagi beberapa tulisan berisi semacam kritikan, entah itu ditujukan pada pemerintah, sosio-kemasyarakatan atau lainnya. Para pembaca seringkali menanyakan bobot ilmiahnya. Yaitu mengenai sumber ataupun validitas dari karya yang ditulis. Karena bagi sebagian orang, tulisan yang bersifat kritik harus disusun dengan ‘serius’ agar kritikan tersebut tidak menyesatkan para pembaca.

Berangkat dari persoalan karakteristik mutu suatu tulisan di media massa. Terdapat dua jenis karya yang bisa dijumpai, yaitu: tulisan ilmiah dan tulisan populer. Kedua jenis tulisan ini tentu saja memiliki perbedaan. Lebih lanjut mengenai perbedaanya akan dijelaskan pada uraian berikut ini:

1. Judul

Pada umumnya judul sebuah tulisan dibuat menarik dan mengajak orang untuk membaca tulisan sampai selesai. Judul tulisan populer menggunakan bahasa menarik dan tidak terbatas pada bahasa baku. Sebaliknya judul tulisan ilmiah mengandung bahasa baku sesuai Ejaan yang Disempurnakan (EYD) serta cukup menarik minat orang untuk membaca isi tulisan.    

2. Tekhnik penulisan

Pada tulisan populer, tekhnik penulisan yang digunakan bebas, runtut, jelas. Tulisan populer tidak mengacu pada suatu tekhnik penulisan tertentu. Sementara tulisan ilmiah, memiliki tekhnik penulisan yang baku. Ada beberapa tekhnik penulisan yang umum digunakan, salah satunya yaitu: Pendahuluan, Tinjauan Pustaka, Metode Penelitian, Pembahasan, dan Kesimpulan. Tekhnik penulisan ilmiah disesuaikan dengan kebutuhan dari materi yang dibahas dan teori tekhnik penulisan yang dianut penulis.      

3. Validitas

Adalah nilai dari sebuah tulisan apakah telah akurat, benar, dan tepat sesuai dengan kaidah penulisan ilmiah yang berlaku. Tidak semua tulisan memiliki validitas yang baik. Terkadang beberapa tulisan yang cemerlang, tidak memilki validitas yang baik. Sebab tidak semua hal dapat dibuktikan validitasnya. Misalnya dalam ilmu pengetahuan alam, pada awalnya tidak dapat dibuktikan argumentasi bahwa bumi itu bulat. Sehingga argumentasi tersebut dinyatakan tidak valid (tidak benar, tidak akurat). Namun setelah teknologi semakin canggih (ditemukan teleskop, manusia berhasil ke luar angkasa), akhirnya diyakini bahwa bumi memang bulat, dan argumentasi tersebut dinyatakan valid.

Pada tulisan populer, validitas suatu karya tidak terlalu dipersoalkan. Karena sifatnya bebas namun tetap harus bisa dipertanggungjawabkan. Sementara tulisan ilmiah, validitasnya sangat penting. Kualitas dari sebuah tulisan ilmiah, salah satu tolak ukurnya adalah validitas.      

4. Tujuan penulisan

Tulisan populer ditulis dengan tujuan untuk memberikan informasi tertentu kepada khalayak ramai. Sementara tulisan ilmiah ditulis dengan tujuan untuk menyelesaikan tugas akhir kuliah di universitas, maupun untuk melakukan suatu penelitian secara mendalam terhadap objek yang diteliti.  

5. Bahasa penulisan

Tulisan populer menggunakan bahasa umum di masyarakat, tidak terlalu terikat dengan kaidah penulisan seperti Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) misalnya. Sementara tulisan ilmiah menggunakan bahasa baku yang sesuai dengan kaidah penulisan ilmiah yang baik dan juga benar, dan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Demikian perbedaan antara tulisan ilmiah dengan tulisan populer. Setelah dapat membedakannya, penulis dapat menggunakannya sesuai dengan kebutuhan. Sehingga dapat melakukan penulisan dengan lebih terarah dan memahami berbagai macam tulisan.

Semoga bermanfaat!

 

Menghilangkan Stress Dengan Kamboja Jepang

tanaman kamboja jepang. koleksi pribadi. Lokasi: pekarangan rumah penulis.  “Di tengah kepadatan aktivitas sehari-hari

Tubuh dan pikiran rentan mengalami stress.

Apakah yang bisa dilakukan untuk mengatasinya?”

Pernahkah anda meluangkan waktu untuk melihat pemandangan alam. Menggunakan sebagian waktu pagi atau sore hari yang santai untuk menikmati segarnya udara dan angin yang bertiup lembut. Mendengarkan suara dedauan yang gugur, kering, berserak di jalanan. Lalu beberapa kendaraan melintas di atasnya sehingga menimbulkan suara berisik dari dedaunan yang terinjak.

Ada perasaan yang berbeda ketika memandang tanaman yang dipelihara dan dirawat di kebun dekat rumah. Warna –warni bunga memberikan semangat yang berbeda. Terlihat mencolok di antara tanaman serta dedaunan yang hijau. Bunga-bunga memiliki anugerahnya sendiri. Merasuk ke dalam hati. Memberikan spirit baru. Salah satunya adalah kamboja jepang.

tanaman kamboja jepang. koleksi pribadi. Lokasi: pekarangan rumah penulis.

Kamboja jepang biasanya digunakan sebagai tanaman hias. Batangnya berwarna cokelat, tumbuh melintang dan ditumbuhi sedikit daun kecuali di sekitar bunga. Daun kamboja jepang berwarna hijau, bentuknya memanjang dan mengecil di ujungnya. Bunga kamboja jepang biasanya terdiri dari 5 kelopak. Warnanya ada yang merah muda, merah terang dengan semburat warna putih maupun perpaduan antara warna merah dan putih yang seimbang komposisinya.

Sejenak, kamboja jepang mengingatkan kita pada pohon kamboja yang tumbuh di kuburan. Tetapi tentu saja keduanya sangat berbeda. Pohon kamboja yang biasanya ditanam di kuburan bernama kamboja lokal. Bunganya berwarna macam-macam, ada yang putih, merah dan lain sebagainya. Batang kamboja lokal tumbuh besar dan kokoh menancap di dalam tanah. Sementara kamboja jepang biasa dijumpai berada di dalam pot dan berbentuk mungil dibandingkan kamboja lokal.

Merawat kamboja jepang membawa keasyikan tersendiri. Meyemprotkan obat dan vitamin tanaman pada kurun waktu tertentu sesuai kebutuhan tanaman. Memberikan pupuk apabila diperlukan. Mengamati perubahan bunga kamboja jepang dari waktu ke waktu. Semuanya merupakan kenikmatan yang mengagumkan.

Kamboja jepang memiliki nilainya. Perhatian yang diberikan secara tepat kepadanya akan memberikan perubahan berarti bagi kesehatan kamboja jepang. Mekarlah terus kamboja jepangku. Gugurlah dengan indah. Tetapi janganlah engkau layu. Karena kehadiranmu akan selalu kami nantikan.

Selamat merawat kamboja jepang!   

     tanaman kamboja jepang. koleksi pribadi. Lokasi: pekarangan rumah penulis.