Menyontek di Kelas Sebagai Awal dari Kejahatan Korupsi

Oleh

Ria R. Dewanti

Fenomena menyontek telah lama menuai pro kontra di masyarakat. Para pelajar dan mahasiswa selalu diingatkan agar tidak melakukannya saat ujian berlangsung di sekolah atau pun di kampus. Peringatan selalu dilakukan secara tertulis maupun tidak tertulis. Namun tak jarang pula kenyataan sebaliknya terjadi. Beberapa pelajar memilih untuk melakukan menyontek dengan berbagai alasan. Seolah tidak memahami sebab-sebab dilarangnya perbuatan melanggar aturan tersebut.

Di suatu ruang ujian, selalu terdapat pengawas yang bertugas mengawasi jalannya ujian. Para pengawas yang biasanya berasal dari kalangan dosen, guru maupun pejabat pemerintah ini biasanya berjalan melalui setiap sudut ruangan sambil memeriksa suasana serta gerak-gerik peserta ujian. Dalam pengawasan tersebut, dilakukan penertiban terhadap barang-barang yang dibawa peserta ujian. Tas dan buku tidak diperbolehkan untuk dibawa. Di atas meja ujian hanya ada lembaran kertas soal dengan lembar jawaban yang disediakan. Alat tulis seperti pulpen atau pensil dibawa dari rumah, juga penggaris apabila dibutuhkan.

Suatu ketika seorang pengawas menemukan peserta yang sedang berbincang dengan peserta lainnya. Pengawas lalu menghampiri kedua peserta tersebut. Apabila pengawas melihat ada yang tidak beres, maka pengawas akan memerintahkan peserta yang bersangkutan untuk segera mengumpulkan jawaban. Atau mungkin mengambil barang lainnya yang terlihat mencurigakan seperti kertas contekan ataupun handphone dan alat-alat lainnya yang digunakan untuk menyontek.  

Penertiban perlu dilakukan agar peserta ujian tidak mengulangi perbuatan menyontek. Sehingga ujian dapat berlangsung dengan tertib dan aman. Tertib dalam arti lancar tanpa hambatan sehingga waktu yang tersedia dapat digunakan semaksimal mungkin. Aman yaitu sesuai aturan sehingga tidak membahayakan peserta dan mengganggu peserta yang sedang mengerjakan soal ujian.

Menyontek bukanlah perbuatan yang benar. Perlu dipahami mengenai asal-usul serta fungsinya sehingga seorang siswa jera untuk tidak melakukan perbuatan ini. Pengertian yang baik akan membawa perilaku yang baik pula. Memarahi dan menghukum bukanlah solusi yang bijak. Seorang siswa yang menyontek tidak akan sadar kalau hanya dimarahi dan dihukum.

Mengapa menyontek dilarang

Sekolah sangat menghargai kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki masing-masing individu. Setiap murid memiliki keunikannya masing-masing. Oleh sebab itu setiap siswa diberi kebebasan dan kesempatan untuk mengasah bakat yang dimilikinya. Agar di kemudian hari dapat berguna bagi masyarakat, bangsa, dan Negara.

Ada beberapa karakter yang hendak dicapai melalui pendidikan di sekolah. Salah satunya adalah kejujuran. Akhir-akhir ini kejujuran menjadi sesuatu yang langka. Manusia dari beragam usia sedang diuji kejujurannya. Semakin jarang ditemukan kejujuran. Di berbagai tempat, penipuan senantiasa menjadi ketakutan masyarakat. Banyak orang merasa sangsi dengan keberhasilan dari orang-orang yang jujur. Sehari-hari ditemukan bahwa orang yang korupsi, menipu dan lihai dapat lolos dari jeratan hukum. Penjara diisi oleh para maling kelas teri. Sementara kasus korupsi yang merugikan Negara milyaran ataupun trilyunan rupiah lolos dari jerat hukum.

Kepesimisan masyarakat berbanding imbang dengan optimismenya. Tak sedikit pula yang berusaha melakukan perlawanan terhadap keberadaan korupsi di mana pun termasuk lingkungan tempat tinggal, sekolah dan kantor mereka. Orang-orang ini tetap berusaha untuk bertekad jujur meskipun harus bertentangan dengan situasi yang mereka hadapi.

Korupsi merupakan suatu hasil dari kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang bertahun-tahun dan secara tidak sadar mengalir dalam daging. Dalam arti korupsi berawal dari kesalahan untuk meninggalkan nilai-nilai kejujuran yang seharusnya dipupuk. Sehingga ketika mendapat kesempatan untuk berbuat korup, seseorang yang telah terbiasa menganggap kecil sebuah nilai kejujuran akan mudah untuk melakukan korupsi.

Ketakutanku yang Terbesar

Oleh

Ria R. Dewanti

Ketahuilah, kawanku. Adalah wajar ketika seorang manusia di dunia ini memiliki rasa takut. Setiap kita akan menghadapi perasaan senang, bahagia, atau pun sedih. Ini semua adalah sebuah cobaan kehidupan. Sebuah ujian dari yang Maha Kuasa. Yang pasti akan dihadapi oleh setiap insan. Tak seorang pun dapat lari dari sini. Karena saat itu pasti akan datang.

Dahulu aku tidak pernah mempercayai ini. Aku selalu yakin bahwa aku tidak akan terluka oleh hal ini bagaimana pun caranya, apa pun jadinya. Aku selalu berusaha menjauhi perasaan ini. Mendengar cerita orang-orang yang pernah mengalami saja aku sudah cukup gemetar. Aku tidak dapat membayangkan apabila aku yang mengalaminya. Aku takut pada diriku. Bila ku terlena oleh perasaan ini hingga menjadi sebab murkanya Tuhan kepadaku.

Perasaan ini tidak pernah kuharapkan untuk datang. Sementara aku selalu berusaha menjauhinya. Aku berjalan agar tak bertemu dengannya. Namun dia selalu menemukanku di setiap sudut perjalananku. Membuatku semakin ketakutan. Bahwa hal ini semakin nyata. aku khawatir bahwa kesadaranku tak akan mampu menolongku. Bahwa akal pikirku akan lemah karenanya.

Saat itulah di mana hatiku semakin terpaut kepada Tuhanku. Kuucapkan pujian dan komohon ampun atas derita yang kualami. Sungguh kawan, kau tak akan tahu bagaimana menderitanya perasaan ini. Tak seperti yang kau lihat di televisi atau film dan novel picisan lainnya. Kau tak akan tahu rasanya, sebelum mengalaminya.

Ayat demi ayat Al Qur’an kulantunkan pada-Nya yang Mencipta perasaan ini. Kuserahkan semua rasaku pada-Nya. Aku berharap semua ini hanyalah sementara. Aku tak ingin terbuai apabila hal ini tak semestinya terjadi. Ketakutanku mulai mereda. Hatiku tentram untuk sesaat. Ku tak ingin memikirkannya lagi. Sekalipun bayangnya selalu hadir membawa butiran air mata di pipiku.

Namun perasaan ini tak kunjung hilang. Aku tak mengerti. Dan mungkin ini bukanlah saat untuk mengerti. Ini adalah saat untuk bersabar. Karena sang Pencipta air mata tengah memberiku kesempatan untuk merasai kenikmatan berairmata.

Ya Allah, Astaghfirullahalazim, la illaha illallah, inni kuntu minadz dzolimin. . .

Aku takut pada laranganMu, Tuhanku. Aku berlindung pada-Mu pada segala yang menyebabkan murka-Mu. Aku berlindung pada-Mu dari susah dan duka cita, tentang rasa ini. 

 

Out of Place (Organisatoris Salah Tempat)

 

Oleh

Ria R. Dewanti

Pernahkah anda merasa salah tempat. Bahwa tempat yang anda diami saat ini bukanlah tempat yang sebenarnya anda tinggali. Keadaan atau pun situasi yang terjadi tidak sesuai dengan hati anda. Seperti ada yang salah dan tidak sesuai. Tetapi anda tak bisa menjelaskan penyebabnya. Tidak ada yang mengerti apa anda pikirkan atau rasakan.

Itulah yang pernah saya alami saat masih aktif di beberapa organisasi di kampus. Banyak hal yang terjadi di organisasi tidak sesuai dengan diri saya. Saat organisasi berjalan tanpa arah. Sementara teman-teman lainnya tak perduli dengan keheranan saya. Entah apa yang ada di pikiran teman-teman saya saat itu.

Banyak hal tidak terjadi seperti seharusnya. Namun yang lain hanya diam. Tidak perduli terhadap tantangan yang seharusnya dihadapi. Tantangan yang sebenarnya bisa saja menghancurkan keutuhan sebuah organisasi yang dicintai. Tidak lagi menjadi tempat untuk berkembang. Melainkan arena untuk saling membunuh antar pengurus.

Seperti ketika saya menemukan beberapa pengurus yang memiliki sifat tercela. Bukannya memberikan peringatan atau nasehat. Pengurus lainnya seolah membiarkan hal itu terjadi. Apakah pengurus yang berbuat tidak baik itu memiliki kesamaan sifat dengan pengurus lainnya. Atau kah para pengurus sudah kehilangan daya kritis dan ketangguhan dalam membela kebaikan dan kebenaran.

Kedengarannya memang agak klise. Namun apa manfaat menjadi pengurus organisasi kalau tidak memiliki prinsip dan visi hidup yang mulia. Saya pikir organisasi adalah tempat untuk mengembangkan potensi diri dan menggali kemampuan yang terpendam sehingga bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

Lebih mendasar lagi apa gunanya seorang manusia hidup. Apabila tidak memiliki penghargaan terhadap aturan Tuhan. Tidak menghargai kebaikan. Bagaimana sebuah organisasi bisa maju. Padahal usia manusia tidak ada yang tahu. Masa menjadi mahasiswa adalah masa muda yang tidak terulang lagi. Selagi masih muda tentunya harus berusaha menjadi baik. Untuk bekal di kemudian hari. Di masa depan yang tidak ketahui ujung perjalanannya.

Beberapa organisasi didiami oleh orang-orang berbahaya yang menyesatkan. Dalam arti mereka kehilangan kendali terhadap apa yang harus mereka lakukan dan apa yang tidak boleh mereka lakukan. Dan parahnya orang-orang semacam itulah yang paling ambisius dalam meraih control atas sebuah organisasi. Pengurus yang berusaha mengingatkan dan berbuat baik sengaja ditinggalkan dan dicari kesalahannya. Agar tidak menghalangi maksud yang tidak baik dari orang-orang tersebut.

Menghadapi orang-orang semacam itu terkadang membuat saya merasa out of place. Saya merasa berada di tempat yang salah. Saya menjadi sangat heran dengan pengurus yang saya hadapi. Sementara dalam hati, selalu ada dorongan untuk meluruskan hal-hal yang semrawut semacam itu. Saya sadar resiko yang saya hadapi. Pengurus yang berniat buruk tentu tidak akan senang diingatkan tentang kebaikan. Sekali pun kebaikan itu untuk diri mereka sendiri. Mereka bagus untuk diri mereka. Perbuatan jahat pun pasti akan kembali kepada pemiliknya.

Namun sayangnya, telinga, mata dan hati mereka masih tertutup untuk itu. Karena yang ada hanya keegoisan dan kesombongan semata. Tidak mau menerima kebenaran dan kebaikan sebagai adanya. Berpura-pura tidak mengetahui kejahatan. Tidak mau bertindak tegas terhadap orang-orang yang berbuat tidak baik dan tidak benar. Sehingga menyebabkan perbuatan tidak baik it uterus berlarut-larut. Semakin parah hingga pada akhirnya merusak diri mereka sendiri. Menghancurkan segala apa yang mereka banggakan secara berangsur-angsur.    

 

Ketua Atau Pemimpin

 

Oleh

Ria R. Dewanti

Tulisan ini dibuat atas dasar kegalauan hatiku tentang fenomena yang kutemui selama aku kuliah di sarjana strata 1. Kejadian yang mengusik nalar dan pikiranku. Tak kunjung aku temukan jawabannya sekali pun beberapa karya tulis telah ku buat. Dan puluhan atau bahkan banyak artikel lainnya aku baca. Aku tetap merisaukannya. Masalah ini tetap ku temui. Tidak saja di kalangan mahasiswa di mana aku sempat berada. Namun juga di kalangan pemerintahan yang sering aku amati di layar kaca maupun surat kabar.

Sesuatu hal telah merasuk dalam peristiwa ini. Menyebabkan kekacauan terjadi di mana-mana. Di segala usia maupun tempat. Segalanya menjadi tidak terbendung. Tidak diketahui dari mana hal ini berasal. Tiba-tiba saja semua seolah terhanyut. Pada aliran yang merusak. Kehilangan kendali terhadap aturan dan keyakinan pada kebenaran keadilan. Semua seolah menjadi klise. Kehilangan kewibawaan. Tidak bisa diharapkan. Tinggal menunggu saat kehancuran saja.

Berapa banyak orang-orang yang berpengetahuan. Mencoba berbuat baik dan benar. Melakukan pertolongan terhadap tatanan masyarakat yang hampir ambruk. Tapi itu pun akan percuma. Apabila masyarakat yang mengalami sendiri tidak berusaha melakukan perubahan. Mengubah pemikiran mereka. Mengubah pandangan mereka. Mencari kesadaran yang selama ini terbuang. Digantikan oleh persepsi palsu yang keliru dijadikan pegangan.

Tidak ada kesadaran. Orang-orang sedang terbius oleh sesuatu yang sungguh fana. Tak berarti dan tak mau mengerti. Apa yang sedang mereka kejar. Tidak akan berpengaruh apa-apa. Keputus asaan yang pada akhirnya mereka jumpai. Tak mau menerima nasehat. Seolah mereka buta, tuli dan mati dari kebenaran. Orang-orang memakai topeng kesenangan sementara batin mereka terluka oleh perbuatan yang mereka lakukan sendiri.

Saling menyalahkan tak akan mendapatkan penyelesaian. Itulah yang terjadi bila mereka tak mau mendengar kata hati. Harga diri dan keegoisan hanya menjadi sarana pembelaan diri. Bukan sesuatu yang dijunjung tinggi.

Berada di puncak ataukah di pucuk. Orang-orang sering salah dalam memahaminya. Mereka yang berada di puncak senantiasa mendasari hati dengan niat suci yang tulus. Keinginan berlepas diri dari belenggu tiran sekalipun berada dalam diri. Ucapan yang senantiasa dilakukan menjadi pedoman. Namun mereka yang berada di pucuk tak menemukan kesejatian diri yang dimaksud. Kelemahan yang mereka miliki hanya akan menyebabkan kejatuhan sekeliling yang mereka naungi. Seperti tetesan air yang berada di pucuk daun. Tetesan air di pucuk sejatinya adalah pemberat yang melemahkan daun untuk berdiri tegak. Terus melemah hingga tetesan air itu jatuh mengalir ke bawah. Tanpa kekuatan. Tanpa manfaat.

Tetesan air yang jatuh akan merangsang tumbuhnya benih-benih tumbuhan baru yang berada di dekat pucuk daun tersebut. Benih – benih tumbuhan baru yang bertekad melakukan perubahan, membenahi ketak berhasilan air yang berada di pucuk. kegagalan untuk diserap oleh daun dan akar yang dituju.

Lalu pada akhirnya tumbuhan baru tersebut akan berkembang. Lambat laun berada di puncak. Dengan akar yang kokoh dan daun yang berdaya serap tinggi. Peka terhadap apa yang ada di sekitar. Hingga tinggi menuju ke puncak. Bersama-sama membentuk sebuah hutan hijau di atas bumi yang mendekati akhir usia.

Cerdas Berorganisasi dengan Emosi dan Spiritual

 

Oleh

Ria R. Dewanti

Beberapa tahun terakhir ini, popularitas kecerdasan emosi dan spiritual semakin meningkat. Kehidupan modern yang serba canggih tak dapat diatasi hanya dengan kecerdasan intektual. Pelatihan emosi dan spiritual pun bermunculan di mana-mana. Segala bidang kehidupan segera menjadi sasaran dari kecerdasan baru ini.

Begitu pula dengan organisasi. Selama ini pembahasan seputar organisasi, manajemen dan kepemimpinan lebih banyak dilakukan melalui perspektif fisik yang kasat mata. Sesuatu yang tampak, dapat dilihat serta terukur. Hal inilah yang menjadi ciri khas dari kecerdasan intelektual. Hal yang selama ini diagung-agungkan oleh sebagian besar pengurus maupun aktivis organisasi. Kegiatan diskusi, debat, dialektika, atau pun retorika selalu dikaitkan dengan kecerdasan yang satu ini.

Namun pada kenyataannya, cerdas secara intelektual saja tidak cukup membawa seorang kader menjadi manusia berkompeten dan bahagia. Pada prakteknya, ditemukan bahwa organisatoris yang hanya mengandalkan potensi intelektual saja tidak dapat mencapai keberhasilan seutuhnya. Keberhasilan yang dimaksud di sini adalah keberhasilan dari segi kepuasan diri terhadap segala hal yang telah dicapai dan dilakukan dengan melihat kebermanfaatan bagi lingkungan sekitarnya. Sementara sebaliknya seorang organisatoris yang cerdas secara emosi, spiritual dan intelektual lebih mampu menghadapi tantangan dan perubahan jaman.

 

Keberhasilan seorang kader dalam mengolah potensi emosi dan spiritual dapat membawanya menemukan kehidupan yang bahagia. Memang benar, emosi dan spiritual tidak dapat diukur dengan alat. Sampai saat ini belum ada alat yang dapat digunakan untuk mengukur kecerdasan tersebut. Namun tinggi rendah kualitas emosi spiritual seseorang dapat dirasakan. Orang–orang maupun lingkungan sekitar akan merasakan akibat dari tinggi atau rendahnya kualitas kecerdasan yang dimiliki seseorang. Seperti sebuah pohon yang kokoh, tinggi, berbuah lebat dan bermanfaat bagi manusia, begitulah orang cerdas emosi spiritual diibaratkan.   

Tidak mudah untuk mencapai cerdas emosi, spiritual dan intelektual. Perlu pengetahuan dan komitmen yang kuat untuk meraihnya. Sangat disayangkan apabila seseorang hanya memperhatikan kecerdasan intelektual semata. Karena dapat dipastikan hidupnya akan kering kerontang tanpa kebahagiaan sekalipun dia tercukupi secara materi. Begitulah karakteristik dari kecerdasan intelektual. Oleh karena itu, perlu pembinaan dan pelatihan sejak awal untuk menanamkan kecerdasan yang lengkap bagi seorang individu dan pribadi di organisasi.

Alkisah pada saat perang dunia ke 2. Di Jepang, tepatnya di Hiroshima yang diserang oleh bom nuklir. Seluruh gedung dan rumah penduduk yang berada di sana berada sejajar dengan tanah. Meninggalkan puing-puing yang berhamburan. Tetapi ada sebuah gedung yang tetap berdiri kokoh. Tidak mengalami kerusakan berat seperti lainnya. Gedung itu tetap tegak berdiri di tempatnya semula. Setelah diselidiki oleh para peneliti, ternyata gedung tersebut memiliki pondasi yang kuat. Pondasi yang kuat menyebabkan gedung tersebut mampu bertahan goncangan keras yang ditimbulkan oleh bom nuklir yang meluluh lantakkan gedung dan rumah lainnya.

Cerdas emosi dan spiritual diibaratkan sebagai pondasi gedung. Apabila pondasinya kuat maka kuatlah bangunan yang ada di atasnya. Dan apabila pondasinya lemah maka runtuhlah bangunan yang ada di atasnya. Setinggi apa pun  bangunan akan mudah hancur apabila tidak diawali dengan pondasi yang kuat. Seperti sebuah bangunan, begitu cerdas intelektual diibaratkan.

Para kader organisasi yang berusaha membangun emosi spiritual dengan bertahap. Sekalipun hasilnya belum tampak namun kesuksesan dan kebahagiaan telah menghampiri mereka. Karena yang dibangun adalah mental dan batin yang sangat peka terhadap goncangan menuju bangunan kesuksesan. Sementara mereka yang melalaikan diri dengan membangun cerdas intelektual tanpa memperkuat pondasi emosi spiritual, sekali pun mendapatkan kesuksesan materi dan duniawi sebenarnya keruntuhan tengah menunggu mereka.

Berapa banyak telah terjadi perusahaan besar kelas dunia dengan keuntungan milyaran dolar amerika mengalami krisis dan kebangkrutan seketika. Berapa banyak pula terjadi perusahaan yang dipimpin oleh pengusaha yang jujur dan berani berbuat baik serta benar mampu menyelamatkan perusahaan serta para karyawan yang berada di dalamnya dari PHK dan kejatuhan yang lebih besar lagi.

Perusahaan Honda adalah salah satu contohnya. Suatu ketika pernah terjadi krisis yang sangat hebat hingga menyebabkan banyak perusahaan besar di Jepang runtuh karenanya. Namun Honda mencoba bertahan. Dia bertekad untuk tidak memecat karyawannya. Dan berusaha mencari cara untuk membiayai gaji karyawan yaitu dengan menjual beberapa asset yang dimilikinya. Usaha itu berhasil dengan dukungan seluruh karyawan. Akhirnya perusahaan Honda terselamatkan dan semakin maju hingga mampu bertahan sampai sekarang.

Dengan melihat begitu pentingnya memiliki kecerdasan emosi spiritual sebagai pondasi serta kecerdasan intelektual sebagai pengembangnya. Maka perlu untuk diperhatikan betul-betul bagi segenap aktivis dan organisatoris yang hendak meraih kesuksesan dan keberhasilan dalam dunia dan akhirat. Agar senantiasa memperhatikan dan mencari ilmu bagaimana cara mempraktekkan kecerdasan emosi spiritual dalam kehidupan sehari-hari maupun berorganisasi.

Selamat mengembangkan diri!

Penyegaran dari Program Kerja ala Organisatoris

 

Oleh

Ria R. Dewanti

“apakah Anda aktif di organisasi,”

“bosan dengan program kerja yang ada,”

“ingin tahu cara me-refresh-nya. . .”

Terkadang menjalani program kerja sangatlah membosankan. Segala sesuatu yang dilakukan sama saja dari hari ke hari. Minggu ke minggu. Perlu adanya penyegaran. Penting agar tidak menjadi kejenuhan hingga akhirnya menyebabkan kemandegan lalu kemunduran dalam hal kreativitas dan kualitas organisasi.

Ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang merasa jenuh menjalani rutinitas. Konflik kecil dengan rekan kerja pun bisa menjadi hal yang berbahaya pada saat seperti ini. Bisa-bisa ketersinggungan yang biasanya bisa diselesaikan dengan mudah menjadi sulit dan memakan waktu.

Pada kondisi emosi yang tidak stabil, sebaiknya hindari berbicara terlalu banyak dengan teman-teman. Karena dikhawatirkan dapat memicu salah paham atau pun hal-hal yang bersifat personal lainnya. Persoalannya selanjutnya adalah saat menghadapi rapat harian atau pun agenda organisasi lainnya yang mensyaratkan bertemu dengan banyak orang.

Akan sangat disayangkan apabila kondisi pribadi yang cukup pelik dan bahkan terkadang tak dapat dimengerti ini disalah artikan pihak lain sebagai bagian dari karakter pribadi sebenarnya. Padahal tidak seperti itu. Apabila diteruskan, tentu hal ini akan memberi dampak yang tidak baik bagi keberlanjutan seorang pengurus di suatu organisasi. Atau pun bagi organisasi itu secara keseluruhan. Karena setiap pengurus memiliki kelebihannya masing-masing. Mereka adalah asset yang penting bagi suatu organisasi.   

Diperlukan pengertian dari sesama teman organisasi mengenai keadaan diri yang sedang tidak betul-betul sehat. Secara fisik mungkin terlihat optimal. Namun perlu disadari keadaan psikis yang tidak selalu sama dengan kondisi fisik. Teman-teman yang pengertian akan sangat membantu seorang pengurus dalam menghadapi situasi seperti ini. Itulah gunanya teman. Saling memahami dan mengerti. Bisa merasakan apa yang dirasakan temannya. Atau paling tidak berempati terhadap kondisi teman yang sedang tidak stabil.

Harus diakui seorang pengurus yang sedang mengalami kejenuhan tidak bisa menghadapi sendirian. Dukungan teman seorganisasi akan sangat membantu. Dalam titik ini, teman yang mau memberikan dukungan akan mengukuhkan ikatan solidaritas organisasi tersebut. Sebaliknya teman yang memojokkan akan membuat ikatan organisasi menjadi lemah dan renggang.

Sementara itu bagi pengurus yang sedang merasa jenuh. Melakukan rehat sejenak terhadap kegiatan organisasi sangat dianjurkan. Melakukan hobby atau mungkin menyelesaikan tugas kampus yang sempat tertunda dapat mengurangi beban bathin. Agar pikiran menjadi segar dan ide cemerlang kembali lagi. Beristirahat sebentar dari organisasi memberi waktu bagi pikiran dan badan untuk menemukan semangatnya. Setelah merasa cukup bugar, kegiatan organisasi dapat dilanjutkan seperti sedia kala.

Selamat me-refresh diri!

Jangan Paksa Saya Ikut Organisasi

 

Oleh

Ria R. Dewanti

Hidup di jaman pasar bebas, memang perlu ketelitian dan kekritisan dalam menganalisa kejadian yang ada di sekitar. Jaman yang berubah menuntut manusia untuk menyesuaikan diri dengan perubahan. Setiap hari selalu saja ada barang baru diikuti dengan iklan-iklan persuasive yang seolah menyihir jutaan pemirsa televisi maupun pembaca media massa lainnya. Hampir sulit untuk menemukan hal yang alami dalam keseharian. Di jalan raya, toko buku, pusat perbelanjaan, papan reklame warna-warni menjadi media promosi yang sukses menarik perhatian orang-orang yang berlalu lalang. Segalanya dibuat sedemikian rupa agar dapat menciptakan kesan mewah dan berkebalikan dengan situasi yang sedang dihadapi sebagian besar masyarakat. Berlebihan dan mengandung maksud tersembunyi.

Kondisi yang demikian, sedikit banyak mempengaruhi perilaku sebagian orang. Tidak mudah percaya pada iklan adalah sikap yang bijaksana. Perlu waktu dan pengetahuan yang cukup untuk menentukan apakah suatu barang dibeli karena memang dibutuhkan. Bukan karena keinginan semata akibat pengaruh dahsyatnya iklan.

Begitu pula dengan berorganisasi. Sejatinya seseorang mengikuti sebuah organisasi karena ingin menimba ilmu serta pengalaman di dalamnya. Tentu saja dengan mempertimbangkan faktor bakat, minat serta kemampuan pengolahan diri yang dimiliki terkait lamanya waktu berorganisasi.

Namun ternyata, tidak semua orang memiliki motivasi ideal semacam itu. Beberapa di antaranya bahkan mengikuti organisasi dengan alasan mengikuti bujukan teman. Ada juga yang tertarik karena gencarnya media memberitakan tersohornya alumni dari beberapa organisasi. Dan tak jarang pula ketertarikan tersebut berkembang menjadi keinginan untuk menjadi seseorang yang berhasil dari organisasi namun tanpa menjalani dan mengalami proses berorganisasi yang sewajarnya.

Ketertarikan awal seseorang untuk berorganisasi menjadi indikasi awal bagaimana perjalanan berorganisasi seorang kader nantinya. Apakah dia akan menjadi seorang kader berlian yang cemerlang dan juga mampu mewujudkan karakter organisatoris yang budiman serta cakap. Ataukah dia adalah seorang kader bawang goreng yang siap saji, instan, mengejar suatu posisi, lantas bekerja apa adanya dengan sikap membela diri berlebihan hingga tak mau introspeksi dan evaluasi diri.

Kader bagaimanakah yang diinginkan dan dicetak di sebuah organisasi. Apabila melihat kenyataan saat ini hampir-hampir seorang kader organisasi tidak mampu mengorganisasikan dirinya sendiri. Sementara di lain tempat ia menjadi sosok yang penuh ambisi atau ketidak pedulian dengan nilai tertentu yang seharusnya dia capai di organisasi.

Ada kalanya kekeliruan persepsi seorang kader dalam memahami arti nilai di organisasi menjadi sebab lemahnya peran dan minimnya kualitas diri. Sehingga dalam suatu waktu tidak terlihat perbedaan dari pribadi yang aktif berorganisasi dengan yang tidak. Lemahnya pemahaman tentang nilai, menyebabkan seorang kader kehilangan arah. Untuk apa berorganisasi.

Nilai seorang kader dalam organisasi tidak dilihat dari posisinya sebagai ketua atau bukan ketua. Tingginya kualitas serta kontribusi pemikiran dan pembenahan diri yang sebenarnya menjadi ukuran. Pengalaman berorganisasi seorang kader diukur dari kemampuannya dalam menyelesaikan dan menghadapi permasalahan yang terjadi di organisasi. Kemampuan emosi, spiritual yang baik akan diuji. Sementara kemampuan intelektuil sebenarnya hanya beberapa prosen saja pengaruhnya.

Inilah yang dimaksud dengan kesuksesan dan keberhasilan berorganisasi. Sukses karena mampu menaklukkan ambisi yang tak pada tempatnya serta bersifat merusak dan merugikan diri sendiri maupun orang banyak. Berhasil karena mampu menghasilkan karya yang orisinil dan bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang banyak.

Oleh sebab itu, berorganisasi harus diawali dengan penuh kesadaran. Dengan niat yang lurus. Tidak sekedar ikut teman tanpa mengetahui ilmunya. Atau terpengaruh bujukan promosi untuk mengikuti organisasi tertentu. Carilah informasi sebanyak-banyaknya tentang cara berorganisasi. Temukan tujuan hidup yang hakiki. Dan jangan merasa terpaksa ikut organisasi.

Selamat berorganisasi!

Menciptakan Surga di Dekat Rumah

Oleh

Ria R. Dewanti

“seperti apakah surga menurut Anda”

“bisakah Anda menggambarkannya”

“tentang surga dan rumah . . .”

Setiap orang memiliki gambaran tentang surga. Pada umumnya surga diibaratkan bagi sesuatu yang baik-baik dan disukai. Menyenangkan serta membahagiakan. Kira-kira demikianlah gambaran surga di benak sebagian besar manusia. Surga dapat ditemui di mana saja. Asalkan tempat atau hal tersebut dapat memunculkan kebahagiaan di dalam hati.

Di barat surga digambarkan sebagai daerah pantai tropis dengan banyak buah-buahan dan pepohonan. Sebaliknya di Negara tropis, surga digambarkan sebagai sebuah tempat yang sejuk dan dingin. Hal ini disebabkan oleh pengalaman hidup masing-masing manusia serta kebudayaan yang melatar belakanginya. Mungkin inilah yang menyebabkan perbedaan persepsi manusia tentang pengertian dan gambaran tentang surga. Namun terlepas dari hal itu, terdapat sebuah hal yang sama yaitu ketertarikan manusia terhadap tempat yang bernama surga.

Dan yang dimaksud di sini bukanlah surga yang berada di alam akhirat. Karena manusia pasti tidak akan mengetahuinya dengan pasti. Bagaimana rupa dan bentuknya, atau siapa saja yang akan memasukinya. Sekalipun aturan untuk memasukinya sudah dijelaskan sejak berabad-abad yang lalu.

Surga yang dimaksud dalam tulisan ini adalah surga yang dapat ditemui di dunia. Bahkan tidak perlu jauh-jauh untuk menemukannya. Surga tersebut berada di dekat rumah tempat tinggal. Surga yang diciptakan oleh para penghuni rumah. Segenap manusia yang berada di lingkungan tersebut. Surga itu adalah pekarangan rumah.

Tidak seperti yang dikira kebanyakan orang. Surga ternyata tidak terlalu sulit untuk ditemukan. Cukup meluangkan waktu untuk member perhatian dan perawatan yang tepat. Sebuah taman surga dapat tercipta di kebun pekarangan masing-masing rumah. Dan juga tidak memerlukan lahan yang luas. Yang penting ada ketekunan serta semangat untuk membuatnya. Sebuah kebun pekarangan rumah yang mendamaikan hati pemiliknya akan tercipta.

Betapa banyak pemandangan indah yang dapat dinikmati setiap hari. Pagi hari, siang hari, atau pun sore hari, waktu bersantai menjadi semakin berkualitas. Udara yang sejuk dengan angin segar, beserta tanaman hijau semakin meneduhkan pandangan mata. Bahagia sekali bila dapat mewujudkannya.

Tanaman – tanaman hijau ciptaan Tuhan ini, begitu ajaib. Berapa banyak manusia yang jatuh hati padanya. Pikiran menjadi jernih dengan merasakan keberadaannya. Tanaman hijau seolah dititipkan Tuhan kepada manusia untuk dipelihara. Seperti sebuah kehendak Tuhan akan kedamaian hati dan ketentraman jiwa yang disampaikan melalui indahnya tanaman.

Selamat menikmati surga di dekat rumah!    

Sumber gambar berasal dari koleksi pribadi penulis. Lokasi pengambilan gambar: Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia.

Apa Kabarmu Hari Ini Mawapres

 

Oleh

Ria R. Dewanti,

alumni mahasiswa berprestasi Univ. Jember 2009

Begitu banyak keinginan yang dimiliki dalam hidup ini. Begitu banyak rencana yang telah disusun. Satu per satu berusaha untuk ditepati. Seperti sebuah janji kepada diri sendiri. Mengikuti niatan hati dengan berbagai ikhtiar yang tidak kecil.

Tugas kuliah yang menumpuk, buku-buku yang harus dibaca, kegiatan organisasi yang harus disusun, pelatihan dan seminar yang menanti. Sepintas mengingatnya membuat diri menjadi lelah. Tiba-tiba saja ada keinginan untuk berhenti dari semuanya. Andai tak ada impian, tentu semuanya mudah sekali hilang. Sirna tak berbekas.

Setiap hari semangat baru harus tetap diciptakan. Keberhasilan di hari sebelumnya tak boleh melenakan diri untuk menjadi sukses hari ini.

“Apa kabarku hari ini?”

Itulah pertanyaan yang kukatakan pada diriku.

Wajar bukan. Dengan begitu padatnya kegiatan, perhatian terhadap diri harus senantiasa diutamakan. Kalau bukan kita yang memperhatikan, lalu siapa lagi yang akan kita harapkan untuk melakukannya. Tentu saja hal ini tidak dimaksudkan untuk menjadi egosentris atau pun narsistik. Walaupun ketika membahas cinta kepada diri sendiri, seringkali hal ini disalah artikan menjadi keegoisan yang berlebihan serta percaya diri di atas kewajaran.

Menulis status facebook misalnya. Beberapa orang menulis kalimat yang sarat dengan motivasi, pada dasarnya mereka sedang memberi semangat pada diri mereka sendiri. Kalimat yang sama telah memberi semangat baru untuk menjalani kehidupan. Begitu pula dengan kebiasaan meluangkan waktu beberapa menit setiap hari untuk sekedar bertanya dan mengamati perubahan apa yang sedang terjadi pada diri. Adakah sesuatu yang harus diperbaiki dengan segera. Kesehatan yang menurun, kelelahan pikiran akibat permasalahan yang membutuhkan kinerja fisik dan nalar yang cukup tinggi untuk menyelesaikannya. Bertanya kepada diri sendiri, menjadi alat evaluasi diri dan komunikasi diri.

Manfaat dari terhubungnya antara aktivitas, hati dan pikiran adalah kesatuan tindakan yang memiliki nilai kesadaran. Menghindari perbuatan yang mencederai diri, mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh diri. Terlebih lagi untuk menggapai tujuan hidup dan kesuksesan, adalah penting untuk memahami kelemahan dan kekuatan diri. Dengan demikian, seseorang dapat membedakan mana kritik membangun dan mana yang tidak perlu ditanggapi. Kritik membangun yang berasal dari lingkungan sekitar biasanya merupakan akibat dari perbuatan yang tidak pada tempatnya. Sehingga mendapat tanggapan dari lingkungan sekitar. Kritik yang membangun akan membawa nasehat yang baik, sesuatu yang memiliki potensi untuk dikembangkan guna perbaikan pribadi di masa yang akan datang. Dan sebaliknya, kritik yang tidak perlu ditanggapi adalah kritik yang sifatnya merusak, tidak memiliki faedah cenderung menjatuhkan sehingga lebih baik tidak diperhatikan. Terus berusaha dan bersemangat menjalani hari. Sesuai dengan target yang ingin dicapai. Siapkan hati yang bersih. Iringi niat baik dengan senantiasa berdoa kepada Sang Maha Pencipta.

Selamat menjalani hari!     

 

Kucing KPK dan Pra Persalinan

Oleh

Ria R. Dewanti

Baru seminggu ini, seekor kucing dipelihara di rumahku. Dia bertugas memangsa tikus yang mengganggu dan berkeliaran di sudut ruangan juga tempat cuci piring. Belakangan sebelum kucing KPK datang, tikus-tikus tersebut malah bebas bermain-main di mana-mana, bahkan di depan teras rumah. Hmmm . . . papaku dibuat kesal karenanya.

Kucing KPK sebenarnya memiliki nama panjang yaitu Kucing Pemberantas Tikus, tetapi disingkat KPK bukan KPT. Alasannya, karena lebih keren. Hehehehe.

Seminggu ini aku mengamati sesuatu yang berubah pada diri kucing KPK. Semakin lama perutnya makin besar dan membuncit. Apakah gerangan yang terjadi pada kucing tersebut. Sepertinya dia sedang hamil. Kemungkinan dalam waktu dekat ini akan melahirkan. Terbukti setiap saat kucing tersebut masuk ke dalam rumah sambil mengendus kamar tidur dan kain di sekitarnya. Mamaku jadi antusias menutup pintu kamar dengan rapat setiap kali meninggalkan kamar.

Pagi ini aku mencarikan sebuah kardus kosong bekas minuman air dalam kemasan gelas. Kucing itu hanya membau sebentar kemudian berlalu. Cukup sulit mencari tempat bersalin untuk kucing KPK. Biarlah aku mempersiapkan dahulu, agar nanti saat melahirkan, ada tempat untuk meletakkan bayi-bayi kucing.

Perburuan tikus yang dilakukan kucing KPK masih akan terus berlanjut. Mengendap-endap, mengendus, mengamati hingga menerkam dilakukannya dengan cemerlang. Tikus-tikus jadi tidak berani keluar sekarang. Satu per satu tikus di dalam rumah menjadi mangsa pemburu baru. Tidak bisa dibayangkan bagaimana keadaan para tikus itu saat ini. Mungkin mereka sedang gemetar ketakutan. Dan betapa lezat daging tikus yang dinikmati kucing KPK. Tentu daging empuk dan gurih dari tikus-tikus membuat kucing KPK semakin bersemangat dan berselera untuk menjadikan santapan sehari-hari. Tikus yang nikmat, di mana makanannya berasal dari sisa nasi dan sayuran. Tikus yang hidup di gorong-gorong. Tikus yang sebenarnya berwajah lucu mirip kartun Mickey Mouse. Dan tikus yang dagingnya terkoyak akibat tajamnya cakar kucing KPK.

Kucing KPK kini terlihat kebingungan. Mungkin saat persalinannya kian dekat. Beberapa tempat yang nyaman untuk bersalin telah dijelajahinya. Perjuangannya untuk melahirkan bayi kucing kian menanti. Kucing KPK kini tengah menyiapkan mental dan jiwanya untuk menghadapi sebuah ujian kehidupan.

Berjuanglah kucing KPK!

 

Sumber gambar berasal dari koleksi pribadi penulis. Di ambil pada tanggal 2 Agustus 2011, pagi hari jam 6.00-07.00 WIB.