Oleh
Ria R. Dewanti
Ada yang berbeda antara kuliah di sarjana dengan magister di tempatku. Untuk menyelesaikan sarjana hukum dan mendapatkan gelar S.H. dibutuhkan paling cepat waktu sekitar 3 tahun 8 bulan. Sementara di magister, untuk meraih gelar M.H. dibutuhkan waktu kurang lebih 1 tahun. Teori perkuliahan bisa diselesaikan paling cepat 9 bulan. Hal ini sangat efisien, mengingat pada umumnya magister hukum ditempuh dalam waktu kurang lebih 2 tahun.
Memang tawaran untuk lulus 1 tahun dalam kuliah magister hukum begitu menggiurkan. Namun bukan berarti tanpa tantangan. Yang harus dipikirkan berikutnya adalah bagaimana cara mendapat nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang tinggi dengan waktu lulus yang cepat. Dan yang menjadi tantangan berikutnya adalah, bagaimana cara menyeimbangkan prestasi yang baik di kampus dengan keberhasilan dalam bekerja.
Semua tantangan ini sebenarnya bagus. Dalam arti, selama usia masih muda akan lebih baik untuk mencari pengalaman yang berguna bagi masa depan nantinya. Sehingga di masa tua, dapat menikmati hasil dan usaha yang dilakukan ketika mudah. Sekali pun dalam mencapai kesuksesan hidup, tentu harus diimbangi dengan perilaku hidup sehat, ibadah dan doa kepada Yang Maha Kuasa. Agar selalu mendapat petunjuk kepada jalan yang baik dan benar.
Aktivitas mahasiswa biasanya berkisar antara kuliah, diskusi, membaca, dan menulis. Sedangkan bekerja tentu berbeda dengan kuliah. Namun keduanya dapat saling melengkapi. Dalam arti dapat saling menyesuaikan jadwal antara yang satu dengan lainnya. Karena biaya kuliah juga tidak murah, dan bekerja pun harus dengan tanggung jawab. Maka aktivitas kuliah dan bekerja juga harus dilakukan dengan penuh kesadaran untuk mencapai tujuan yang mulia. Keduanya dilakukan dengan penuh keikhlasan, semangat, senang hati bahwa pada akhirnya akan selalu ada jalan bagi mereka yang tekun dan berdo’a.
Suatu waktu mungkin akan terjadi saat di mana harus memilih yang terpenting di antara keduanya. Namun seperti pilihan-pilihan lain yang sebelumnya pernah dilalui, pilihan yang terbaik adalah yang dilakukan sesuai dengan kapasitasnya. Serta tepat sasaran. Apa yang urgent dan benar-benar harus dilakukan adalah pilihan yang di ambil. Mungkin selalu ada resiko dari setiap pilihan. Tapi setiap pilihan harus diawali dengan niat baik dan benar. Keseimbangan dalam memilih prioritas mana yang harus dilakukan, berapa lama, dan berapa kali akan sangat berkaitan dengan pertimbangan akal pikiran serta perasaan.
Bissmillahirrahmanirrahim, semoga sukses!