Ria R. Dewanti
Perbincangan mengenai feminisme dan maskulinisme semakin gencar diberitakan akhir-akhir ini. Namun agaknya pengertian feminism dan maskulinism tidak hanya berkisar pada jenis kelamin saja. Sekalipun asal-usul pengertiannya berkaitan dengan kedua jenis kelamin manusia yang ada di muka bumi ini yaitu wanita dan pria. Wanita biasanya dikaitkan dengan feminisme beserta segala sifat yang melekat padanya seperti kasih, sayang, menciptakan, memelihara. Sementara pria dikaitkan dengan maskulinisme beserta segala sifat yang melekatinya seperti agresif, ambisius, egois, inisiatif.
Asumsi demikian tidak sepenuhnya benar. Mereka yang memberikan pemisahan yang konkret tentang wanita dan pria serta antara feminism dan makulinisme. Sebenarnya sedang melupakan asal-usul dari makhluk yang bernama manusia. Tentunya telah dipahami bahwa setiap manusia lahir dari ayah dan ibunya. Dengan demikian setiap anak, apakah dia berjenis kelamin laki-laki ataupun perempuan. Tetapi yang jelas dia memiliki unsur laki-laki dan perempuan dalam dirinya.
Inilah yang saya sebut sebagai kesatuan dalam hal feminism dan maskulinisme. Tidak ada satu pun wanita yang sepenuhnya seorang wanita. Dan tak ada satu pun pria yang sepenuhnya seorang pria. Karena baik wanita maupun pria sama-sama berasal dari ayah dan ibu mereka tanpa terkecuali.
Inilah sebabnya mengapa di dunia ini ada wanita yang bersifat maskulin dan pria bersifat feminism. Karena tak seorang pun yang bersifat feminism sepenuhnya atau pun maskulin sepenuhnya. Dan saya kira inilah dasar dari kesetaraan gender yang sebenarnya. Kesetaraan antara wanita dengan pria. Bukankah wanita atau pria, miskin atau kaya, suku dan bangsa tidak menjadi soal di hadapan Tuhan. Dan yang diperhatikan Tuhan pada umatnya adalah perbuatannya yaitu perbuatan takwa.
Sekalipun di masa lalu karena sempitnya ruang untuk berkembang, dan tingginya dominasi pria di segala bidang menyebabkan wanita tidak dapat melakukan peran strategis di masyarakat. Dan inilah yang menjadi perjuangan bagi kaum feminism yang menyuarakan posisi yang sama antara wanita dan pria. Dan saya pikir tidak ada yang salah dengan hal itu. Akan lebih baik apabila dunia ini dipenuhi dengan sikap penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia. Memperlakukan sesama dengan sikap yang baik dan benar. Serta menjaga kehormatan yang dimiliki oleh orang lain adalah sesuatu yang harus diutamakan. Pembahasan tentang wanita dan pria terlalu sempit bila dibandingkan dengan kemanusiaan. Perlu adanya pemikiran yang jernih dalam memandang seorang manusia berdasarkan kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki.
Salam hangat kemanusiaan!
Monthly Archives: December 2011
Resolusi Tahun 2012 Dalam Hidupku
Ria R. Dewanti
Untuk tahun 2012 ini ada hal yang akan kulakukan dengan segenap hati dan penuh tanggung jawab. Hal itu adalah bekerja. Dalam bekerja aku ingin meniru jejak hidup Steve Jobs. Tetap idealis. Karena idealis adalah awal mula kesuksesan seseorang. Seperti penemu I-pad ini, beliau mengawali kariernya dengan menjalani apa yang diinginkan hatinya. Sejak awal ketertarikan Steve Jobs adalah pada computer. Sehingga dia berusaha mengembangkan segala kemampuan di bidangnya itu. Kemudian setelah berpuluh tahun karirnya, beliau mampu menghasilkan produk teknologi mutakhir seperti I-pad dan kawan-kawannya.
Untuk hidupku, aku ingin mengawali dengan berkarir di bidang yang aku senangi. Serta sesuai dengan latar belakang pendidikan yang kumiliki. Setahap demi setahap aku pasti akan menemukan jalan keluar. Dengan banyaknya buku yang kubaca mengenai kisah orang sukses, aku memiliki gambaran mengenai kesuksesanku di masa yang akan datang. Sekalipun aku harus gagal, berusaha lagi, belajar dan terus berjuang. Aku yakin suatu saat nanti keberhasilan sejati akan kutemui. Entah berapa lama aku harus menunggu. Tapi aku tahu saat itu pasti akan datang.
Beberapa dari teman-temanku telah bekerja di tempat masing-masing. Aku jadi terinspirasi oleh mereka. Walau beberapa mengatakan bahwa ini bukanlah apa yang mereka inginkan. Dengan demikian mereka masih memiliki cita-cita yang ingin dicapai namun belum menemukan cara untuk meraihnya.
Hampir mirip dengan kisah suksesku. Aku pun tak ingin m,asa muda ini datang percuma. Aku akan menjadikannya pondasi yang kokoh demi meraih kesempatan dan masa depan yang indah dan bermanfaat untuk orang banyak. Seperti kisah hidup Steve Jobs, salah satu semangat yang dapat kutiru adalah “saat engkau sukses maka uang akan mengikutimu”. Kali ini aku benar-benar ingin mewujudkannya. Ternyata inilah resep suksesnya. Tetapi tentu saja harus sesuai dengan hati nurani kita. Karena kesuksesan hanya akn terjadi apabila kita melakukan hal-hal yang sesuai dengan kebaikan dan kebenaran yang mana selalu diingatkan oleh hati masing-masing insan.
Oke, oke, oke aku adalah mahasiswa hukum. Aku akan sukses di bidang hukum. Tidak ada kata gagal dalam kamus hidupku. Yang ada hanyalah dorongan untuk berbuat lebih baik lagi serta lebih bersungguh-sungguh. Kali ini aku tidak akan menyerah. Aku akan mengumpulkan segenap kekuatan dan semangat guna menyongsong tahun 2012 ini dan meraih segala kesuksesan yang aku idam-idamkan.
Mari bersama meraih impian!
Mengartikan Perasaan
Ria R. Dewanti
Bagaimana cara mengartikan perasaan. Bagaimana cara berdamai dengan hati. Akhir-akhir ini aku jadi sering memikirkannya. Berpikir tentang perasaanku. Yang tentu saja tak dapat kutemui jawabannya. Dengan kata lain tidak nyambung. Pikiran itu ada di kepala. Sementara perasaan itu ada di dalam hati. Lalu bagaimana mungkin aku mengetahui arti perasaanku dengan cara berpikir.
Ah sudahlah. Aku merasa ini akan percuma saja. Lihatlah kali ini tidak ada gunanya aku belajar logika dan argumentasi hukum apalagi penelitian hukum. Aku jadi merasa sia-sia harus mempelajari banyak buku namun tak satu pun yang dapat membantuku memberi jawaban atas pertanyaanku.
Jadi sebenarnya pertanyaanku cukup mudah. Apa arti dari perasaanku. Apa ini hanyalah imajinasi. Atau mungkin halusinasi. Tapi jelas ini nyata. aku berada dalam kesadaran diriku. Aku sehat dan cakap berpikir. Dan pastinya aku memiliki kecakapan dalam melakukan perbuatan hukum. Tapi tunggu dulu. Ah, benar-benar membingungkan. Siapakah yang dapat membantuku kali ini.
Aku percaya, beriman, serta bertakwa pada Tuhan. Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah swt. Sampai di sini aku merasa tertolong memiliki pegangan dalam menghadapi perasaan yang aneh ini. Paling tidak aku memiliki keyakinan bahwa Dia yang Maha Kuasa hendak memberiku rahmat dan kasih sayang melalui berbagai masalah yang kuhadapi. Tapi aku harus ingat bahwa Tuhan tentu tidak semudah itu melimpahkan rahmat Nya. Dia akan mengujiku. Aku tahu itu. Dan saat ini aku harus menggunakan segenap kemampuan yang Dia berikan padaku untuk memecahkan sebuah pertanyaan yaitu perasaanku.
Itu sebabnya aku jadi semakin bingung. Apa aku harus menggunakan tekhnik melayang seperti para ahli spiritual yang senang bermeditasi untuk temukan jati diri dan mungkin juga past live. Siapa tahu aku mengingat kejadian dahulu di masa lampau seperti reinkarnasi. Tetapi lagi-lagi sepertinya itu juga tidak mudah. Lalu bagaimana kalau aku menggunakan tekhnik analisis seperti para detektif yang akan memecahkan kasus. Dan ini juga sepertinya kurang masuk akal. Dan sekarang aku menjadi lebih bingung lagi. Benarkah aku harus mengartikan perasaanku ini. Apa yang terjadi apabila aku tidak berhasil mengartikannya. Haruskah aku mengulang kehidupanku hanya untuk menemukan jawabannya.
Lihatlah ini merupakan suatu masalah yang tidak mudah. Seandainya para filsuf dari kaum stoa itu masih hidup. Aristoteles, Plato, dan Socrates akan kuajukan pertanyaanku ini pada mereka. Hmmm. . apa gunanya para filsuf apabila mereka tak mampu memecahkan persoalan hidup.
Ooh . . Ya Tuhanku . . kumohon tunjukkan jalan . . bagaimana menemukan arti perasaan ini . . teman-temanku adakah yang bisa membantuku ?