Tetap Semangat Berkarya Walau Patah Hati

Cover of "Legally Blonde"

Cover of Legally Blonde

Ria R. Dewanti

Ini adalah kisah tentang patah hati. Suatu kisah yang dialami anak manusia. Masing-masing orang memiliki persepsi berbeda dalam menyikapinya. Apa yang seharusnya dilakukan ketika patah hati. Apa yang dilakukan setelahnya. Apa yang terjadi setelah kita patah hati.   

Setiap insan punya kisah. Bagaimana dengan diri kita. Mari kita simak kisahnya . .

1.      Tokoh Zainuddin dalam Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya HAMKA

Pria ini mengalami patah hati. Gadis yang ia suka menikahi pria lain. Berhari-hari lamanya ia menangisi masa-masa penuh kenangan bersama pujaan hatinya. Setiap kali ia mengingat, hatinya menjadi terenyuh lalu mengalirkan butiran air di pipinya. Dia mengutuk dirinya yang lemah dan tak berdaya. Hingga suatu ketika ia lelah dalam ratapan dan penantian. Rasa sakit yang dia derita, rasa cinta yang tak tersampaikan, semua menjadi motor untuk merubah hidupnya.

Di suatu malam, ia mengetikkan huruf pertamanya dalam selembar kertas. Ia mengisi waktu luangnya dengan ketikan itu. Bermalam-malam lamanya. Kisah cintanya menjelma menjadi lembaran karya. Hingga buku pertamanya berhasil diterbitkan. Serta merta hidupnya menjadi terbalik. Dia yang dulunya bukan siapa-siapa. Kini telah menjadi seorang novelis yang dikenal.

(novel berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, tokoh utama bernama zainuddin).

2.      Tokoh Elle Woods pada Film Legally Blonde

Dikisahkan bahwa seorang gadis pirang menyukai seorang pria yang kuliah di fakultas hukum universitas Harvard, Amerika Serikat. Untuk mendapatkan perhatian dan cinta dari pria itu, si gadis rela berjuang mati – matian untuk belajar agar di terima di universitas Harvard. Dan ternyata setelah si gadis diterima di universitas tersebut, dia menyadari bahwa sang pria telah memiliki seorang tunangan. Pria tersebut membuat sang gadis patah hati. Tapi gadis itu tak menyerah dan tak ingin perjuangannya sia – sia. Ia berusaha keras agar dapat menjadi mahasiswa berprestasi di fakultas hukum universitas Harvard.

Pada akhirnya ia meraih impiannya di universitas Harvard. Lalu sang pria menemuinya dan memohon agar sang gadis menerima cintanya. Namun sang gadis hanya berlalu. Ia telah memaafkan dan melupakan pria tersebut.

Setelah membaca cuplikan 2 kisah patah hati di atas. Hal – hal yang dapat kita ambil sebagai pelajaran adalah jangan putus asa walau pun patah hati. Jangan mengira dunia sudah berakhir hanya karena kita kecewa atas perlakuan yang tidak memuliakan dari orang yang kita sayangi. Tetaplah semangat dan berkarya. Mohonlah pada Tuhan agar mengaruniai kesabaran. Cinta sejati akan datang pada saatnya nanti. Untuk mencapainya marilah kita muliakan diri kita melalui karya dan hasil yang bermanfaat. Agar pada saat – Nya nanti kita telah siap untuk berdampingan dengan dia yang direncanakan Tuhan untukmu.

Selamat berkarya, tetap semangat!

Surabaya, 31 Januari 2012

Pukul 13.49 WIB  

   

Penipuan Cinta yang Gagal

English: its was the time i was broken heart.....

Image via Wikipedia

Ria R. Dewanti

Seseorang bisa saja mengatakan kebohongan untuk suatu waktu. Tetapi tidak pernah untuk selamanya. Mereka yang pandai dan beruntung pasti akan menemukan cara untuk mengetahui dan memahami penipuan yang dilakukan.

Tak seorang pun mau menjadi korban penipuan. Itu sebabnya seseorang tak seharusnya melakukan penipuan kepada sesamanya.

Lalu bagaimana dengan penipuan cinta. Tentu saja tidak boleh. Seorang penipu cinta akan mengucapkan kata – kata untuk mendapatkan kepercayaan dari sesame yang akan dia jadikan mangsa. Dia akan menikmati permainannya. Karena melakukan penipuan cinta adalah kesenangan baginya.

Seorang yang bijak tidak akan melakukan penipuan atau pun kebohongan. Karena penipuan dan kebohongan akan menyakiti dan melukai sesamanya. Oleh karena itu, harus dihindari serta dijauhi.

Untuk menghindari penipuan cinta mari kita perhatikan terlebih dahulu tentang gejala adanya cinta. Kebahagiaan adalah salah satu tanda adanya cinta. Mari perhatikan sebelum kita mengenal seseorang. Bagaimana perilakunya. Bagaimana karakternya serta wataknya. Apakah ia orang yang taat beragama ataukah orang lalai.

Orang yang agamanya baik maka hatinya baik. Hal ini akan tercermin dalam perilaku dan tindakannya untuk memuliakan diri dan sesamanya. Seseorang yang dengan mudah menyakiti dan melukai sesamanya dapat dikatakan orang tersebut tidak memiliki hati yang baik. Maka ada baiknya bila kita introspeksi diri. Memeriksa kembali isi hati kita. Adakah terselip niat jahat. Ataukah ketulusan dan kebaikan senantiasa kita junjung tinggi.

Orang yang mengabaikan kejujuran serta menyukai kebohongan adalah seseorang yang tidak bernilai. Dia tidak memahami dan tidak dapat membedakan antara yang benar dan salah, antara yang baik dan buruk. Karena baginya segala sesuatu dapat ia tempuh untuk menyenangkan hatinya.

Tidak perduli apakah seseorang terluka atau tersakiti oleh kata – katanya. Apabila ia merasa senang maka hal itu tak akan menjadi persoalan baginya.

Seorang penipu cinta akan menuai apa yang dia lakukan di kemudian hari. Tapi mereka yang tertipu tak seharusnya meratapi kepergian penipu cinta. Kepergian penipu cinta adalah sesuatu yang harus disyukuri. Bahwa yang Maha Kuasa hendak memberikan ganti yang terbaik di sisi – Nya. Karena ketulusan dan kebohongan adalah dua hal yang saling bertolak belakang. Orang – orang yang indah hatinya, dan tulus kasih sayangnya tidak akan dapat bersatu dengan mereka yang penuh tipuan. Seperti air dan minyak yang tidak akan pernah bersatu.

Mari kita lebih banyak belajar dan memohon pertolongan pada Allah SWT. Agar doa kita diperkenankan. Dan diberi petunjuk untuk menemukan dia yang terbaik bagi hidup kita di dunia dan akhirat.

Selamat belajar!

Pasuruan, 29 Januari 2012

Pukul 20.50 WIB

 

 

 

Pekuburan 25 Bulan

Deutsch: Der Vollmond, fotografiert in Hamois ...

Image via Wikipedia

Ria R. Dewanti

Sahabatku,

Di tempat ini telah kukuburkan seseorang. Sebuah hati dan segenggam perasaan bersama akal yang melekat padanya. Kulitnya telah terasa mulai dingin. Wajahnya menunjukkan raut yang menyedihkan. Aku tak ingin melihat wajahnya. Air matanya terlalu mulia untuk mengalir di atas nama kepalsuan.

Hari berganti hari. Berpuluh purnama telah hadir dan tenggelam. Sementara dia selalu hidup dalam kecemasan dan kegamangan hidup. Nasehatku untuknya tak pernah dia hiraukan. Hingga semua kenyataan merenggut kepercayaannya. Dia selalu sulit untuk memahami apa yang hendak kusampaikan untuknya.

Lalu di sinilah kupandangi lembut wajah ayunya. Untuk terakhir kalinya kusentuh keningnya dengan halus. Tempat di mana ia meletakkan akal sehatnya. Akal yang selama ini telah cedera oleh perasaan yang tertipu.

Kemudian kupandangi rembulan yang bersinar di langit malam ini. Tak pernah kuketahui akan begini jadinya. Selalu kubayangkan kebahagiaanya. Namun mungkin dengan begini dia akan bahagia. Karena hidup hanya tersedia bagi mereka yang mampu bernafas dan menghirup udara segar. Bukan mereka yang mencium bau busuk yang menyengat. Dan keliru untuk menamainya sebagai parfum yang memikat.

Bulan purnama selalu menampilkan keindahannya dalam kemisteriusan penglihatan penikmatnya. Tak akan pernah diketahui daya pikatnya bila ia tak berkawan dengan gelap malam. Sungguh sebuah lukisan yang rupawan.

Purnama menyimpan rahasianya. Seperti bulan yang berganti rupa. Dari kecil, mungi, membentuk sabit hingga sempurna purnama. Dan setelah pemandangan menakjubkan maka bulan telah siap untuk kembali pada bentuk awalnya.

Bukankah ini rahasia alam. Segala sesuatu yang berawal akan kembali menjadi bentuk aslinya pada akhir perjalanan. Getir. Bila yang ia rasakan ini tak lagi nyata. Hanya bait – bait indah yang membentuk lagu pengantar tidur anak – anak kecil yang merindukan mimpi.

Bagaimanakah dia sanggup bertahan dalam angin malam yang sungguh menyakitkan. Peristirahatan terakhirnya sebelum pekuburan ini menyembunyikannya dalam kegelapan tanah dan kekosongan hati.

Bagaimanakah kita bisa mengetahui semudah itu hati terluka. Ketika berangsur – angsur dia harus mati. Bersama rasa dan akal yang dimiliki. Akan kukabulkan permintaan terakhirnya. Bila ini yang menjadi kehendak – Nya.

Adakah kehangatan di antara makam – makam pekuburan ini. Satu orang, seratus orang dan berapa banyak lagikah yang akan terluka dan mati seperti ini. Tetapi aku harus tetap menguburkannya malam ini. Karena hanya dengan kematiannya, diriku dapat kembali menghirup udara bebas. Untuk hidup dan menikmati purnama – purnama lainnya.

 

Pasuruan, 28 Januari 2012     

Pukul 23.31 WIB

Jangan Mempermainkan Hidupmu

Capung merah, salah satu serangga yang hidup d...

Image via Wikipedia

Ria R. Dewanti

Entah apakah kita sungguh paham mengenai arti waktu atau tidak. Tapi jelas sekali bahwa sebagian besar dari kita merupakan orang – orang yang suka menyia – nyiakan waktu. Mungkin kita mengira seolah hidup kita tak berakhir. Seolah kesenangan hidup dapat kita raih. Atau mungkin kita tak mengerti arti hidup itu.

Sebenarnya mudah saja untuk mengartikan hidup. Hidup adalah waktu, serangkaian waktu yang membentuk pengalaman dari makhluk hidup. Bisa kita bayangkan bila manusia hidup tanpa waktu. Yaitu tanpa melewati hari ini, esok, atau kemarin. Jadi kita berada dalam bentuk seperti itu saja. Bayi saja, remaja saja, atau dewasa saja. Tanpa waktu mungkin tidak ada jasad/fisik. Karena manusia sebenarnya memiliki 2 hal yaitu ruhani dan jasmani. Ruhani yang dimiliki manusia merupakan energy yang tak dapat dimusnahkan. Sehingga dengan demikian, ruhani kita tak dapat musnah. Walau tubuh fisik dapat hancur. Perpisahan antara tubuh fisik dan ruhani adalah kematian.

Karena kematian adalah sesuatu yang pasti bagi setiap insan yang hidup. Maka sewajarnya apabila seorang insan yang pandai mampu mempersiapkan dirinya dalam menghadapi kematian dan kehidupan sesudah mati nantinya.

Telah jelas bukan. Bahwa hidup adalah kesempatan terbesar yang kita punyai. Saat ini kita dapat merasakan waktu, kini, kemarin, dan esok, adalah karena kita masih hidup. Saat kita mati, ruh kita berpisah dengan tubuh fisik. Maka tak ada lagi makna hidup dan waktu yang kita rasakan.

Sementara kita tak pernah tahu kapan kematian itu tiba. Kita tak pernah dapat menghitung dengan baik, apakah kegiatan yang kita lakukan dalam hidup ini telah sempurna atau belum. Lebih sering kita terlena oleh apa yang menarik di atas bumi dan segala penghias dunia. Kita lupa seringkali pada amalan yang akan kita bawa setelah kematian.

Tanpa sadar kita telah menjadi para manusia yang senang mempermainkan hidup. Menikmati hidup dengan kegiatan yang sia – sia dan tidak bernilai pahala di hadapan Ilahi. Seringkali kita lalai dan lupa.

Entahlah berapa lama waktu yang kita miliki. Hingga kita dapat menemui kematian. Bisakah kita sadar terhadap segala kesalahan dan kerugian yang kita lakukan.

Padahal melupakan waktu adalah kerugian terbesar yang pernah dilakukan oleh umat manusia. Termasuk di dalamnya melakukan hal – hal jahat dan tercela yang cenderung menyia – nyiakan hidup.

Sebelum azab datang dan mengingatkan kita. Marilah kita introspeksi diri kita masing –masing. Semoga Allah SWT mengampuni dosa dan berkenan memberikan pertolongan pada kita untuk menghadapi kesulitan hidup. Amin.

Selamat memanfaatkan waktu!

Pasuruan, 28 Januari 2012

Pukul 21.57 WIB

 

 

Penyebab Organisasi Tidak Sehat

English: Erythrina variegata defoliated tree, ...

Image via Wikipedia

Ria R. Dewanti

Banyak yang bertanya tentang penyebab organisasi yang tidak sehat. Saya pikir penyebabnya adalah pemahaman tentang nilai yang lemah. Sehingga pengurus organisasi tidak dapat berbuat atau pun menjalankan organisasi dengan semestinya.

Yang dimaksud dengan nilai di sini adalah tentang baik atau buruk, benar atau salah, patut atau tidak. Pengurus organisasi yang memahami nilai akan dapat berlaku sesuai dengan yang diinginkan visi dan misi organisasi. Jadi dia tidak akan bertindak hanya dengan menuruti keinginan yang tidak sesuai dengan nilai yang diatur dalam sebuah organisasi.

Ketidak pedulian pengurus organisasi terhadap nilai akan menyebabkan dia bertindak sembarangan dan tidak sesuai aturan. Hal ini sangat berbahaya karena dengan demikian dia akan meletakkan keinginan yang buruk serta jahat di tempat yang pertama. Seseorang yang tidak memedulikan kebaikan dan kebenaran maka dia akan lebih dekat pada kejahatan dan keburukan.

Ketidak pedulian terhadap nilai akan melahirkan sifat malas untuk belajar. Dia akan merasa enggan dalam mempelajari cara – cara menjalankan organisasi yang baik dan benar.

Sifat yang mengabaikan nilai dalam sebuah organisasi tercermin dalam perbuatan ingin menguasai organisasi dengan cara yang tidak baik dan tidak benar. Padahal sesungguhnya sebuah organisasi didirikan dengan niat yang mulia. Sementara niat yang mulia tidak mungkin dapat terwujud dengan perbuatan yang buruk dan jahat.

Saat ini kita perhatikan betapa banyaknya seseorang yang mengikuti serta aktif dalam sebuah organisasi namun memiliki ambisi yang salah dan berlebihan. Biasanya hal ini tercermin saat pemilihan ketua umum. Pengurus organisasi berlomba membentuk kelompok dan golongan untuk mengusung seseorang yang akan mereka jagokan dalam pemilihan. Jadi sebelum pemilihan dan musyawarah berlangsung secara diam – diam mereka telah menetapkan cara – cara agar jago mereka dapat menang dalam pemilihan.

Pertanyaannya sekarang adalah apabila kelompok – kelompok pengurus organisasi telah menetapkan calon ketua umum. Lalu untuk apakah sebuah organisasi menyelenggarakan musyawarah.

Kelompok – kelompok berisi pengurus organisasi yang memiliki jago dalam pemilihan ketua umum ini akan berusaha dengan segala cara agar jago mereka dapat memenangkan pemilihan ketua umum. Sekali pun bagi saya itu bukanlah kemenangan. Dan tidak pantas untuk dibangga – banggakan. Kecuali dengan sekedarnya saja. Dan dilakukan melalui cara yang baik dan juga benar sesuai aturan.

Pengurus organisasi yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup dan keyakinan yang kuat tentang nilai akan mudah terbujuk oleh ajakan kelompok – kelompok organisasi yang menginginkan kemenangan yang tidak tulus dalam pemilihan ketua umum. Hal – hal semacam ini tidak baik dan tidak benar. Tapi pengurus organisasi yang yang tidak paham nilai tidak akan memedulikannya. Cara apa pun akan mereka gunakan agar keinginan kelompok mereka dapat terwujud.

Dia atas segalanya seharusnya kejujuran diutamakan. Karena kebaikan dan kebenaran mensyaratkan kejujuran di dalamnya. Tidak ada kebaikan yang dilakukan tanpa kejujuran. Begitu pun, tak ada kebenaran yang dilakukan tanpa kejujuran.

Sepertinya perlu ditanya di manakah hati dan akal yang biasanya menuntun manusia ke jalan yang benar. Apakah semua benar – benar sudah berubah. Setahu saya tidak banyak yang berubah pada hati dan akal yang dimiliki manusia pertama hingga saat ini. Tetap sama dalam member nilai sesuatu.

Sebenarnya apa yang menjadi dasar pemikiran dari para pengurus organisasi yang sengaja mempermainkan aturan dan norma dalam organisasi. Apakah mereka akan merasa puas dan bahagia bila jago mereka menang dalam pemilihan ketua umum. Aneh sekali. Bukankah ini tidak mencerminkan perbuatan dari seorang filsuf yang mengerti ilmu pengetahuan. Terlebih lagi bila pelakunya adalah mahasiswa dan para sarjana.

Seolah tidak ada lagi ilmuwan yang tersisa saat ini. Semua menjadi tak lebih dari seorang manusia yang begitu mengagungkan dunia dan menginjak kebenaran dan kebaikan dengan kedua kakinya.

Selanjutnya yang terjadi adalah ketua umum yang tidak memiliki kompetensi yang sesungguhnya dibebani oleh tanggung jawab besar yang tidak mampu ia penuhi. Sehingga akibatnya dalam kepemimpinannya sebuah organisasi tak dapat berjalan sesuai dengan visi misi yang dimiliki. Organisasi menjadi tidak sehat. Dan pada akhirnya apabila terjadi secara terus – menerus bisa saja organisasi dapat mengakhiri riwayatnya.

Selamat berpikir, organisatoris!

Pasuruan, 27 Januari 2012     

Pukul 00.19 WIB

Ternyata Normatif dan Positiv Itu Berbeda

Giulia Grisi as Norma in the opera Norma

Ria R. Dewanti

Dahulu saat saya masih menjadi mahasiswa S1, saya mengira bahwa antara normatif dan positive itu sama. Seringkali dikaitkan satu sama lain. disebut sebagai normatif – positivis.

Tapi ternyata kedua hal itu berbeda. Tidak sama. Sehingga keliru dan salah apabila menyebut normatif – positivis. Ini adalah sebuah kesalah pahaman.

Normatif itu berkaitan dengan norma. Tentang tatanan nilai. Tetapi norma itu berbeda dengan aturan. Agak sedikit membingungkan memang. Karena keberadaan aturan merupakan kandungan dari suatu norma. Jadi norma itu letaknya berada di atas aturan. Norma itu digali. Bisa jadi aturan tertulis maupun tidak tertulis yang ada mengandung kelemahan. Sehingga perlu melakukan interpretasi terhadap norma untuk melengkapi aturan tersebut.

Sementara positive itu berkaitan dengan peraturan yang diundangkan oleh pemerintah yang berkuasa. Ada kekeliruan dan kesalahan yang terjadi dalam bangku kuliah S1. Yaitu pengertian bahwa hukum positive adalah hukum yang berlaku di suatu tempat, pada waktu tertentu. Ini merupakan pengertian yang salah.

Menurut John Austin dalam bukunya yang berjudul The Basic of Jurisprudence, hukum positif adalah hukum yang menjadi alat penguasa. Suatu aturan umum tentang perbuatan yang dibuat oleh penguasa kepada rakyatnya. Dalam buku aslinya ditulis sebagai berikut:

“Austin broad approach to law was to regard it as the command of the souvereign. Positive law is a general rule of conduct laid down by a political superior to a political inferior.”

Perlu diingat bahwa john Austin adalah murid dari Jeremy bentham, seorang pendiri legal positivism. Beliau membuat pembedaan yang tajam antara jurisprudence dan the science of ethics. Dengan kata lain antara hukum dan etika dibuat suatu perbedaan. Sehingga hukum tidak dipandang baik atau buruk. Apa pun yang terjadi, hukum yang merupakan produk penguasa harus diikuti.

Dengan demikian normatif dan positive itu berbeda, tidak dapat disamakan. Perlu perjuangan untuk mengembalikan hukum sesuai dengan norma. Bukan hukum positive. Karena hukum positive adalah produk pemerintah yang belum tentu menjamin keadilan, kebaikan dan kebenaran. Oleh karena itu diperlukan kejelian dan kecermatan untuk memahami pengertian – pengertian dalam hukum. Karena kesalahan dalam memahami akan membuat seorang mahasiswa tersesat.

Pembelajaran yang sejati adalah belajar terus – menerus. Tidak pernah berhenti. Membaca dan berdiskusi. Dan yang lebih penting lagi adalah terus berusaha mengamalkan ilmu agar bermanfaat untuk segenap manusia. Karena kebaikan yang kita lakukan akan menimbulkan kebahagiaan.

Selamat belajar!

Surabaya, 25 January 2012

Pukul 21.41 WIB     

 

 

 

 
By Ria Resti Dewanti Posted in Hukum

Sahabat yang Palsu

I Miss My Friend (song)

Image via Wikipedia

Ria R. Dewanti

Hanya waktu yang akan membuktikan kuatnya ucapan dan kesungguhan kata – kata yang dimiliki seseorang. Waktu akan menunjukkan watak seorang pembohong dan seorang bijak. Mereka yang memiliki ketulusan dan kesetiaan pada yang benar akan menguasai waktu. Namun mereka yang senang berbohong dan berdusta akan tergilas oleh waktu. Sahabat serta teman sejati akan datang setelah diuji oleh waktu. Begitu pula dengan teman yang pendusta akan segera ditinggalkan dengan berlalunya waktu.

Apabila ingin menguji karakter seseorang, ingatlah baik – baik saat pertama kali berjumpa. Lalu perhatikan saat dirimu berpisah dengannya. Adakah kesamaan atau perbedaan. Ketahuilah bahwa watak dan karakter seseorang itu sulit berubah. Dalam hidup sangat penting untuk belajar mengetahui watak mereka. Jangan sampai kita keliru menafsirkan seorang penipu sebagai filsuf. Berbahaya sekali. Ini akan mempertaruhkan kehidupan dan kebahagiaan kita seumur hidup.

Dan yang perlu diingat adalah ketenangan dan ketegasan diri untuk memutuskan dan mengikuti prinsip hidup. Jangan tergoda untuk merasa iba dan kasihan kepada seorang penipu. Karena sekali dirimu percaya maka dia akan makin menjadi dalam mencengkeram leher dan jiwamu. Ingatlah bahwa seorang penipu akan mencari ratusan cara agar dirimu terpikat pada bujukannya. Mintalah pertolongan pada Tuhan agar menunjukkan siapa sahabat sejati yang sebenarnya.

Seorang yang berjiwa kesatria sejati tidak akan pernah main – main dengan apa yang diucapkannya. Dia tak akan sembarang berkata. Karena dia paham besarnya nilai sebuah tindakan di hadapan Tuhan. Bukan karena hasrat semata. Inilah yang akan membedakan mereka yang palsu dengan mereka yang asli. Perhatikan seseorang yang suka melemparkan janji dan ucapan ke mana saja. Lihatlah adakah seluruh ucapannya menjadi kenyataan. Adakah ketulusan dia miliki saat mengucapkan kata – kata.

Seorang yang bijaksana tidak akan sembarang dalam berucap. Dia tak akan berusaha mengecewakan hati dari sahabat – sahabatnya. Bila seseorang berusaha mengecewakan orang lain demi mengambil keuntungan atau pun karena suatu gurauan maka dia tak dapat dikatakan bijaksana.

Berhati – hatilah dalam memilih sahabat. Pada akhirnya kita dapat mengetahui apabila kita mau membuka mata lebar – lebar. Mana yang dusta dan mana yang jujur akan kelihatan. Teruslah belajar. Jangan lupakan doa. Hatimu akan menunjukkan mana yang terbaik untukmu. Jadilah orang baik. Maka engkau akan dipertemukan dengan mereka yang baik hatinya. Amin.

Selamat menilai!

Jangan Mencinta Karena Iba

Deutsch: Sioux tipi English: Sioux teepee

Image via Wikipedia

Ria R. Dewanti

Mungkin perasaan yang bernama cinta dapat tumbuh karena berbagai cara dan alasan. Tetapi sebaiknya bukan karena iba. Karena iba akan meniadakan batas tipis antara cinta dan tak cinta. Kita akan tersesat dalam suatu perasaan mengasihi namun bukan yang menyebabkan kebahagiaan. Perasaan yang menyesakkan di dada dan tak dapat kita selesaikan dengan mudah. Kecuali kita berani mengakhiri dengan tekad yang lebih besar. Bukan dengan kebaikan yang salah diterima.

Rasa iba bisa muncul karena salah satu pihak memulai dengan mengutarakan perasaan. Perasaan yang bisa saja muncul dalam suatu persahabatan. Tetapi yang harus diingat adalah terkadang untuk mencintai seseorang kita harus kehilangan seorang sahabat. Dan yang lebih berbahaya adalah kita kehilangan keduanya. Karena perasaan yang salah diterapkan dan salah dipahami dapat menyebabkan kita kehilangan seorang sahabat dan juga kekasih dalam waktu bersamaan.

Saat kita merasa iba kepada sahabat, saat itu pula kita mulai waspada. Tetapi ternyata perasaan cinta begitu halus. Merasuk melalui segenap penjuru hati – hati. Karena pertemuan dan perasaan yang tak dapat dihindari. Semakin kita pergi, semakin kita dekat. Namun akhirnya, perasaan ini pun harus diuji. Apakah kita akan lanjutkan atau akan menghentikan. Saat kita melanjutkan dengan bijaksana, maka akan kita dapatkan seorang kekasih. Namun bila kita menghentikan maka kita akan kehilangan seorang sahabat.

Dengan segala pertimbangan, kita akan berusaha mengenal kedalaman pribadi dan karakter dari sahabat kita. Kita amati dan perhatikan baik – baik tentang perasaan kita padanya. Kita pikirkan lagi apa yang menyebabkan kita menyukainya. Kita begitu berhati – hati untuk mengetahui nama perasaan itu. Agar nantinya tak ada kesalah pahaman yang akan mengganggu persahabatan.

Namun bisa jadi, selanjutnya yang lebih kita kenal adalah kejahatan sahabat kita. Sekalipun  kita tak menginginkan hal ini untuk terjadi. Mungkin hati kita akan terluka demi menemui kebenaran yang sesungguhnya. Segala perbuatan yang dilakukan sahabat kita ternyata berbeda dengan yang kita kira. Lalu kita kecewa. Namun kita tak ingin mengecewakan sahabat. Kita merasa iba. Tapi tak ingin sahabat mengetahuinya. Kita memperhatikan sahabat. Namun kita tak ingin sahabat mengetahui. Itu semua karena kita belum merasa yakin dengan perasaan ini. Khawatir bila tak sesuai harapan.

Hingga hal terburuk yang kita takutkan terjadi juga. Kita mencintai sahabat karena berawal dari rasa iba. Kita mengawalinya dalam kesunyian. Maka saat rasa itu berakhir. Kita pun mengakhirinya dengan kesunyian pula. Namun saat berakhir, kita menyadari bahwa perasaan pada sahabat telah berbeda. Persahabatan menjadi retak. Dan kita tak siap untuk segera memulihkannya. Kita butuh waktu untuk menyembuhkan perasaan walau mungkin tak bisa seperti dulu lagi.

Semoga ada pengertian antara dua orang sahabat yang salah dalam mengartikan perasaannya. Semoga jalinan persahabatan dapat utuh walau mungkin mereka harus belajar menjadi dewasa. Semoga belum terlambat untuk memperbaiki diri.

Salam persahabatan!

Pasuruan, 23 Januari 2012

Pukul 08.41 WIB

Kebulatan Tekad Untuk Maju Terus Pantang Mundur

English: Errochty Water goes through stone gat...

Image via Wikipedia

Ria R. Dewanti

Kalau melupakan lebih mudah dari pada mengingat. Apabila melangkah menuju masa depan lebih baik dari pada melihat terus ke belakang dan masa lalu. Kalau memafkan lebih mudah dari pada terus memendam.

Mengapa tidak kita maafkan. Mengapa tidak melangkah ke masa depan. Mengapa tidak kita lupakan saja masa lalu.

Ada kalanya keputusan yang diambil dengan tegas saat ini akan menjadi penentu bagi kemuliaan dan kebaikan di masa depan. Setelah mempertimbangkan segala baik dan buruk, segala sebab dan akibat, sebuah keputusan harus segera diambil. Luka harus diobati. Agar sembuh.

Agar bisa melupakan, memaafkan, dan meninggalkan masa lalu. Ada baiknya bila kita menjauhkan diri dari segala hal yang mendekatkan kita pada masa lalu tersebut. Menghapus nomor telepon, menghapus dari media sosial, menjaga jarak serta membatasi komunikasi. Ada kalanya kita merubah kebiasaan kita untuk bisa menjadi diri dan pribadi yang diharapkan.

Tak mau lagi memikirkan masa lalu. Hanya ingin konsentrasi pada masa depan serta membangun jalinan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Berusaha belajar dari pengalaman dahulu. Untuk kemudian menjadi pribadi yang bahagia dengan masa depan cerah serta member kontribusi bagi kebaikan masyarakat.

Ini mirip dengan kisah Xiang Yu. Seorang komandan pasukan pada peperangan antara Negara Zhao dan Negara Qin. Saat itu karena dikepung pasukan lawan, ia memutuskan untuk menenggelamkan perahu dan memecahkan periuk. Sehingga mental dan semangat pasukan menjadi termotivasi untuk bertempur. Pada akhirnya, pasukan Xiang Yu yang berjumlah 20.000 pasukan berhasil menumbangkan pasukan lawan yang jumlahnya 100.000 pasukan.

Dari cerita tersebut, yang dapat kita ambil sebagai pelajaran adalah bahwa pertimbangan yang jeli serta keputusan yang tepat dapat menyelamatkan pasukan yang kita miliki. Kemenangan dapat diraih karena ketepatan pengambilan keputusan oleh komandan. Sekali pun kalau dilihat dari segi jumlah, ada keraguan untuk menjadi pemenang. Namun ternyata dengan keteguhan hati dan kebulatan tekad pasukan Xiang Yu yang jumlahnya sedikit mampu memenangkan pertandingan.

Anggaplah masa lalu adalah pasukan lawan yang hendak mengepung kita. Seolah kita akan kalah dan segera musnah. Kemungkinan untuk menang begitu kecil hingga menyiutkan nyali. Tapi seperti pasukan Xiang Yu, kita tak boleh menyerah. Tetap harus berani menghadapi masa depan dengan segenap hati dan kebulatan tekad.

Ayo, jangan menyerah!

Pasuruan, 23 Januari 2012

Pukul 00.24 WIB  

 

 

Kamu Beruntung

English: Sanderlings, Calidris alba and a seag...

Image via Wikipedia

Ria R. Dewanti

Menurutku kamu beruntung. Sekalipun hal itu bukanlah keputusan yang baik, namun pasti itulah yang terbaik. Ingatlah ketegasanmu hari ini akan menentukan keberhasilan masa depanmu esok nanti.

Kamu sudah siap. Itu yang ingin kukatakan. Kemarin adalah saat dirimu belajar. Mengetahui dan mengalami akan membuatmu makin kaya dan dewasa. Kamu telah berhasil mengalahkan keraguan dan ketakutanmu.

Tidak. Janganlah bersedih seperti itu. Satu – satunya yang membuatmu begitu bersedih adalah karena dirimu masih belum yakin pada kejahatannya. Percayalah. Dia tak baik.

Seperti yang selalu kukatakan. Hatimu terlalu baik untuk mengasihi seorang yang tidak tulus. Ingatlah bahwa hati selalu menunjukkanmu jalan yang benar. Kamu telah merasakannya sejak awal. Tidak. Janganlah bersedih. Jalanilah hidupmu dengan baik. Kelak kau akan mengetahui. Yang terbaik telah dipersiapkan Tuhan untukmu. Bukankah kita tahu bahwa tugas kita hanya berusaha, berdoa serta bertawakal pada pemberian – Nya. Percayalah. Yakinlah. Keberanianmu sedang diuji.

Tak mengapa. Tak apa – apa. Dirimu telah lakukan yang terbaik. Berjalanlah terus. Temukan kebahagiaan di sana. Takdirmu telah menunggumu.

Masa lalu telah usai. Sungguh tak seharusnya dirimu kecewa. Bahagialah. Perjuanganmu tidak akan sia – sia. Tuhan mendengar semua permohonanmu. Teruslah berdoa. Bersabarlah.

Hatimu akan sembuh sedikit demi sedikit. Hingga di masa yang akan datang, engkau akan takjub pernah mengalami hari kemarin. Jangan khawatir. Tenanglah.

Mari persiapkan keberhasilan dan kemenangan gemilang. Bukankah itu yang kau citakan sejak lama. Mari ingat kembali niat tulus itu. Mari ulang kembali keikhlasan itu. Marilah.

Jangan pernah buang waktumu untuk melihat ke masa lalu. Masa depan akan setia menantimu. Sambutlah dengan gigih dan senyuman. Seperti biasa.  

Kuulangi sekali lagi. Kamu beruntung. Kamu sungguh beruntung. Saatnya akan tiba. Dirimu akan mengetahui dengan segera. Optimislah. Dia yang telah dipersiapkan untukmu telah menunggu kedatanganmu.

Bismillahirrahmanirrahim. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tuhan yang paling penyayang di antara semua yang penyayang. Bersyukurlah. Sebutlah nama Tuhanmu sebanyak – banyaknya.

Pasuruan, 20 Januari 2012

Pukul 22.17 WIB