Pada awalnya aku tidak mengerti apa yang dimaksud berdamai dengah hati. Itu adalah sebuah frase yang sering kubaca di novel-novel karya Darwis Tere Liye. Rembulan tenggelam di wajahmu dan kisah sang penandai adalah dua novel yang pernah kubaca dari Tere Liye. Kisah tentang pergulatan hidup anak manusia. Beserta lika-liku sang tokoh utama dalam berdamai dengan hati. Mengenai perasaan yang terkadang menguasai seluaruh alur hidup manusia. Betapa beruntungnya mereka yang mampu mencapai kedamaian hati. Berusaha berakomodasi dengan segala permasalahan atau petaka yang mereka alami dalam hidup.
Berdamai dengan hati tidaklah mudah bagiku. Ada orang yang menyimpan rasa kesal sepanjang hidupnya karena keprihatinan yang dia alami. Namun tak kunjung dapat berdamai dengan hati bahkan mendekati akhir hayatnya. Sangat menyedihkan bukan. Tanpa disadari kehidupan manusia tak hanya diliputi oleh hal-hal yang dapat dipikirkan oleh akal. Terkadang seorang manusia menjadi begitu hina akibat perasaan yang tak termaafkan dalam hatinya. Seseorang bisa saja mengalami kemenangan yang gemilang, kekayaan yang melimpah tetapi hal itu pun harus disertai perasaan yang penuh syukur. Bila hati masih menyimpan amarah, dendam dan sakit hati. Bagaimana hati itu dapat memaafkan, tenang dan terdamaikan.
Tidak mudah untuk berdamai dengan hati. Karena saat melakukannya kita harus memiliki pengetahuan yang cukup tentangnya. Perlu waktu untuk berdamai dengan hati. Begitu pula dengan diriku. Di tahun baru ini aku ingin memulainya dengan semangat baru. Mengawali dengan perdamaian hatiku. Paling tidak ini adalah awal bagi hidupku yang baru. Dengan sikap yang baru. Bahwa aku bisa melewati hari-hari yang baru dan penuh maaf. Perjalanan berdamai dengan hati tidak mudah memang. Tetapi aku akan terus berusaha. Pasti aka nada jalan keluar bagi orang yang bersungguh-sungguh. Aku akan meraih kesuksesanku. Saat aku benar-benar meraihnya. Ku tahu saat itu aku dapat menikmatinya dengan penuh syukur. Bersama hatiku yang damai.
Bukankah beginilah arti tahun baru. Suatu awal bagi hal-hal baru. Pikiran yang baru. Hati yang baru. Maka akan lahir pengalaman baru dan keberuntungan baru besertanya. Bagi setiap air mata, luka, doa di tahun-tahun kemarin. Aku akan member maaf. Agar aku bisa melangkah. Bersama diriku yang sebenarnya. Hatiku akan memberiku petunjuk ke mana arah yang aku tuju. Teman-teman baru serta jalan yang baru akan menjadi bintang pemandu dalam perjalanan ini.
Selamat tahun baru, semoga damai selalu!
Pasuruan, 1 januari 2012
Contoh contoh yang lain adalah • Katakan Mandi dulu pada saat dia akan dimandikan dan jangan mengatakan kata itu apabila tidak akan dimandikan.