Penyebab Organisasi Tidak Sehat


English: Erythrina variegata defoliated tree, ...

Image via Wikipedia

Ria R. Dewanti

Banyak yang bertanya tentang penyebab organisasi yang tidak sehat. Saya pikir penyebabnya adalah pemahaman tentang nilai yang lemah. Sehingga pengurus organisasi tidak dapat berbuat atau pun menjalankan organisasi dengan semestinya.

Yang dimaksud dengan nilai di sini adalah tentang baik atau buruk, benar atau salah, patut atau tidak. Pengurus organisasi yang memahami nilai akan dapat berlaku sesuai dengan yang diinginkan visi dan misi organisasi. Jadi dia tidak akan bertindak hanya dengan menuruti keinginan yang tidak sesuai dengan nilai yang diatur dalam sebuah organisasi.

Ketidak pedulian pengurus organisasi terhadap nilai akan menyebabkan dia bertindak sembarangan dan tidak sesuai aturan. Hal ini sangat berbahaya karena dengan demikian dia akan meletakkan keinginan yang buruk serta jahat di tempat yang pertama. Seseorang yang tidak memedulikan kebaikan dan kebenaran maka dia akan lebih dekat pada kejahatan dan keburukan.

Ketidak pedulian terhadap nilai akan melahirkan sifat malas untuk belajar. Dia akan merasa enggan dalam mempelajari cara – cara menjalankan organisasi yang baik dan benar.

Sifat yang mengabaikan nilai dalam sebuah organisasi tercermin dalam perbuatan ingin menguasai organisasi dengan cara yang tidak baik dan tidak benar. Padahal sesungguhnya sebuah organisasi didirikan dengan niat yang mulia. Sementara niat yang mulia tidak mungkin dapat terwujud dengan perbuatan yang buruk dan jahat.

Saat ini kita perhatikan betapa banyaknya seseorang yang mengikuti serta aktif dalam sebuah organisasi namun memiliki ambisi yang salah dan berlebihan. Biasanya hal ini tercermin saat pemilihan ketua umum. Pengurus organisasi berlomba membentuk kelompok dan golongan untuk mengusung seseorang yang akan mereka jagokan dalam pemilihan. Jadi sebelum pemilihan dan musyawarah berlangsung secara diam – diam mereka telah menetapkan cara – cara agar jago mereka dapat menang dalam pemilihan.

Pertanyaannya sekarang adalah apabila kelompok – kelompok pengurus organisasi telah menetapkan calon ketua umum. Lalu untuk apakah sebuah organisasi menyelenggarakan musyawarah.

Kelompok – kelompok berisi pengurus organisasi yang memiliki jago dalam pemilihan ketua umum ini akan berusaha dengan segala cara agar jago mereka dapat memenangkan pemilihan ketua umum. Sekali pun bagi saya itu bukanlah kemenangan. Dan tidak pantas untuk dibangga – banggakan. Kecuali dengan sekedarnya saja. Dan dilakukan melalui cara yang baik dan juga benar sesuai aturan.

Pengurus organisasi yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup dan keyakinan yang kuat tentang nilai akan mudah terbujuk oleh ajakan kelompok – kelompok organisasi yang menginginkan kemenangan yang tidak tulus dalam pemilihan ketua umum. Hal – hal semacam ini tidak baik dan tidak benar. Tapi pengurus organisasi yang yang tidak paham nilai tidak akan memedulikannya. Cara apa pun akan mereka gunakan agar keinginan kelompok mereka dapat terwujud.

Dia atas segalanya seharusnya kejujuran diutamakan. Karena kebaikan dan kebenaran mensyaratkan kejujuran di dalamnya. Tidak ada kebaikan yang dilakukan tanpa kejujuran. Begitu pun, tak ada kebenaran yang dilakukan tanpa kejujuran.

Sepertinya perlu ditanya di manakah hati dan akal yang biasanya menuntun manusia ke jalan yang benar. Apakah semua benar – benar sudah berubah. Setahu saya tidak banyak yang berubah pada hati dan akal yang dimiliki manusia pertama hingga saat ini. Tetap sama dalam member nilai sesuatu.

Sebenarnya apa yang menjadi dasar pemikiran dari para pengurus organisasi yang sengaja mempermainkan aturan dan norma dalam organisasi. Apakah mereka akan merasa puas dan bahagia bila jago mereka menang dalam pemilihan ketua umum. Aneh sekali. Bukankah ini tidak mencerminkan perbuatan dari seorang filsuf yang mengerti ilmu pengetahuan. Terlebih lagi bila pelakunya adalah mahasiswa dan para sarjana.

Seolah tidak ada lagi ilmuwan yang tersisa saat ini. Semua menjadi tak lebih dari seorang manusia yang begitu mengagungkan dunia dan menginjak kebenaran dan kebaikan dengan kedua kakinya.

Selanjutnya yang terjadi adalah ketua umum yang tidak memiliki kompetensi yang sesungguhnya dibebani oleh tanggung jawab besar yang tidak mampu ia penuhi. Sehingga akibatnya dalam kepemimpinannya sebuah organisasi tak dapat berjalan sesuai dengan visi misi yang dimiliki. Organisasi menjadi tidak sehat. Dan pada akhirnya apabila terjadi secara terus – menerus bisa saja organisasi dapat mengakhiri riwayatnya.

Selamat berpikir, organisatoris!

Pasuruan, 27 Januari 2012     

Pukul 00.19 WIB

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s