Ria R. Dewanti
Socrates adalah seorang filsuf yang namanya sudah tidak asing lagidi telinga
para peminat karya filsafat. Beliau adalah seorang yang hidup pada abad 490 SM dan memiliki pemikiran yang mendalam mengenai kebijaksanaan. Salah satu murid Socrates bernama Plato. Selama hidupnya Socrates tidak pernah menulis buku. Yang menulis tentang pemikiran Socrates adalah murid – muridnya sendiri. Salah satunya adalah Plato. Oleh karena itu beberapa pihak mengatakan bahwa Socrates yang diceritakan dalam beberapa karya Plato merupakan Socratesnya Plato. Artinya ini merupakan sebuah pujian terhadap kemampuan Plato dalam menulis tentang pendapat dan aktivitas Socrates dalam menghadapi kesulitan dan berbagai tuduhan namun dalam persepsi Plato. Hal ini dapat dimaklumi karena Plato sendiri tidak mungkin dapat mengingat dialog demi dialog yang diucapkan Socrates ketika berdebat dengan Eutyphro misalnya mengenai tuduhan yang diajukan Melitus terhadap Socrates.
Sementara itu Eutyphro adalah seorang jaksa yang menjadi lawan debat atau pun diskusi dari Socrates. Mereka bertukar pikiran mengenai makna dari kesucian dan kesalihan. Hal mana yang menjadi titik tolak penyebab Socrates dituntut oleh Melitus. Disebutkan dalam tuntutan Melitus bahwa Socrates adalah seseorang yang tidak salih karena menolak untuk menyembah tuhan –tuhan yang dimiliki masyarakat Athena saat itu. Socrates menolak untuk disebut demikian. Karena bagi Socrates, perlu pemikiran yang mendalam sebelum menuduh seseorang tidak salih dan tidak suci hanya karena melakukan penyembahan terhadap tuhan – tuhan yang disembah masyarakat Athena dengan cara yang berbeda.
Seperti yang disebutkan dalam suatu dialog antara Socrates dan Eutyphro tentang makna suci. Socrates mempertanyakan tentang para dewa yang saling bertentangan dalam memutuskan suatu hal. Ketika sebagian dewa menyetujui suatu perbuatan ternyata sebagian dewa mengutuk perbuatan tersebut. Apabila telah ditetapkan yang dimaksud dengan suci adalah suatu perbuatan yang disetujui para dewa, namun ternyata dalam beberapa hal para dewa berbeda pendapat mengenai hal itu. Hal ini menandakan bahwa tak ada definisi baku mengenai kesucian. Seperti yang dilakukan Eutyphro kepada ayah kandungnya. Suatu ketika Eutyphro mengetahui bahwa ayah kandungnya telah membunuh seseorang. Demi mengetahui hal itu Eutyphro menuntut sang ayah di pengadilan atas kesalahannya. Hal ini dipandang oleh sebagian orang sebagai perilaku yang tercela. Karena bagi masyarakat Athena saat itu tak sepatutnya seorang anak menuntut ayah kandungnya di pengadilan. Mendengar pengalaman dari Eutyphro lalu timbullah niat dari Socrates untuk berdialog bersama. Karena Socrates merasa ada kecocokan dalam hal pemikiran dan ketidak setujuan terhadap apa yang dianggap benar oleh masyarakat Athena pada saat itu.
Pada akhirnya perdebatan itu berakhir dengan cara yang tidak indah. Karena Eutyphro menolak untuk melanjutkan perdebatan. Saat itu Eutyphro mengatakan bahwa ia sedang memiliki suatu urusan yang penting. Socrates menjadi agak kecewa. Karena ia merasa masih banyak pertanyaan yang ada di kepalanya dan begitu ingin terselesaikan. Perdebatan mengenai suci dan tidak suci. Serta perdebatan tentang salih dan tidak salih masih belum tuntas kiranya.
Surabaya, 02 Februari 2012
Pukul 22.14 WIB