Ria R. Dewanti
Apa yang kalian pikirkan tentang teman – teman yang menyebalkan? Apa kalian pernah bertemu dengan teman – teman yang tidak sesuai dengan kepribadian serta cenderung untuk mengalami gesekan dalam bergaul karena perbedaan visi hidup misalnya. Saya pernah.
Pada awalnya seperti biasa ketika kita berada di suatu komunitas, beradaptasi dan menyesuaikan diri adalah hal yang wajar. Kita akan mendapati beberapa perbedaan dan kesamaan dengan orang – orang di sekeliling kita. Mungkin ada yang senang, ada pula yang tidak suka. Selanjutnya waktu yang akan membuktikan apakah pertemanan dapat berjalan dengan baik atau tidak.
Apabila untuk mengatasi perbedaan kita memilih untuk bertoleransi. Pada akhirnya kita memahami bahwa toleransi memiliki batas. Dan akan kita sadari pula bagaimana perbedaan yang terjadi. Apakah terlalu lebar ataukah masih bisa ditengahi.
Kalau kita mengalah, dalam arti membiarkan perbedaan itu terjadi namun masalah yang sebenarnya tak dapat dituntaskan. Maka yang terjadi selanjutnya adalah jatuhnya korban jiwa. Entah itu dari pihak kita ataukah dari pihak mereka. Bisa saja kita akan memendam perasaan jengkel atau pun marah. Sekali pun kita berusaha memaafkan. Tapi saya pikir akan sia – sia apabila kita berusaha memahami dan membangun jembatan. Namun teman yang berbeda kepribadian dan visi hidup itu tengah membangun pagar.
Lalu muncullah suatu keputusan terakhir. Apakah kita bisa tetap melanjutkan pertemanan ataukah kita harus meninggalkan mereka. Sebelumnya mari kita periksa terlebih dahulu. Apakah selama kita berteman dengan mereka kita dapat melakukan hal yang positif dan bermanfaat ataukah tidak. Apakah lebih banyak kesalah pahaman yang terjadi. Apakah kita merasa bahagia berteman dengan mereka atau tidak. Apakah kata – kata yang mereka ucapkan menyenangkan hati kita atau tidak. Apakah akan lebih baik bila kita meninggalkan mereka dan berteman dengan teman –teman yang serasi serta selaras dengan kita.
Sebenarnya kalau hanya menjadi sekedar teman biasa, mungkin tidak apa – apa berteman dengan orang – orang yang agak menjengkelkan dan membuat hati gerah. Tetapi coba bayangkan apabila hampir tiap hari kita bertemu dengan orang – orang yang visi hidupnya berbeda. Apa iya, kita mau mengorbankan kebahagiaan hidup hanya untuk berdamai dan mengalah.
Kalau saya, apabila saya berpikir dan menganalisa kalau semua hal sudah tak mungkin dilanjutkan. Dan saya menyadari kurangnya kebahagiaan yang saya rasakan ketika bersama mereka. Dengan pertimbangan saya tetap bisa berbuat baik dengan teman – teman yang menjengkelkan ini walau tak dalam jarak yang dekat. Misalnya saja saya berusaha mengurangi intensitas interaksi saya dengan orang – orang tersebut. tentu ini akan jauh lebih baik. Karena ketika saya merasa kesal pada mereka. Mungkin saja mereka juga merasakan hal yang sama.
Lalu untuk kebaikan dan kebahagiaan bersama. Saya mengambil keputusan untuk meninggalkan teman – teman yang menjengkelkan tersebut. Bisa saja melalui menghapus pertemanan di media sosial. Bisa juga berusaha mengambil hikmah dari perbedaan perbuatan dalam menyikapi kepribadian dan visi hidup yang berbeda.
Surabaya, 03 Februari 2012
Pukul 15.33 WIB