Keluar dari Organisasi (Out of Organization)


Ria R. Dewanti

Why should I think about my organization. Meanwhile my organization is never think of me. They just called me when they need me. I want to know the truth. Although truth is never change my wound”. (my status in facebook, December 2009).  

Ini adalah status facebook yang saya tulis pada bulan desember tahun 2009 yang lalu. Ada banyak orang yang salah mengartikan status tersebut. Tapi saat itu saya tidak ingin menanggapi berbagai komentar tentang status tersebut. Ini murni isi hati saya. Saya tidak ingin menghapusnya. Dan belakangan saya berhasil membuktikan bahwa kata – kata yang tulis tersebut adalah sebuah kebenaran. Organisasi yang saya ikuti ini memang benar sangat menyakitkan. Penuh dengan kegagalan dan membuat saya mengeluarkan kata klimaks berupa berhenti dari organisasi secara permanen.   

Banyak teman yang salah menduga siapa organisasi yang saya maksud. Mereka salah mengira tentang hal ini. Sebenarnya organisasi ini adalah organisasi yang saya ikuti sejak semester 1 (satu). Saya resmi menjadi anggota pada tahun 2006. Dan menjadi pengurus di bagian anggota departemen pada tahun 2008. Selama berkecimpung di organisasi tersebut saya menemukan banyak permasalahan yang tak dapat diselesaikan. Saya anggap organisasi ini adalah organisasi yang gagal dan harus dihindari. Karena saya sadar begitu kecil manfaat yang dapat dihasilkan dari berkecimpung di dalamnya.

Organisasi ini memiliki latar belakang agama dan merupakan organisasi mahasiswa ekstra kampus. Dia didirikan sejak tahun 1948 di Indonesia. dan hingga saat ini telah melahirkan bermacam alumni di seluruh pelosok nusantara. Organisasi kemahasiswaan ini begitu disegani pada pemerintahan presiden soeharto. Karena telah berhasil mengorbitkan beberapa alumninya di sektor eksekutif (pemerintahan).

Sayangnya apa yang saya temukan selama menjadi anggota maupun pengurus organisasi sungguh sangat berbeda dengan fakta sejarah yang ada. Semuanya benar – benar berbalik 180 derajat. Bahkan bertentangan dengan visi misi serta nilai – nilai keagamaan yang dianut. Betapa pun kerasnya saya berusaha untuk melakukan perubahan ke arah yang saya harapkan. Hal itu terasa amat berat dan sia – sia. Karena yang saya hadapi adalah kultur organisasi dan orang – orang yang sangat jauh pemahaman konsep dan perbuatan yang dilakukan dalam berorganisasi.

Prinsip yang saya terapkan dalam hidup saya sangat bertentangan dengan perbuatan yang dilakukan teman – teman pengurus dalam organisasi tersebut. Itulah yang mendasari saya melakukan penolakan saat diminta menjadi ketua bidang keperempuanan pada bulan desember 2009. Setelah mempertimbangkan dan berpikir selama beberapa hari akhirnya saya mengajukan jawaban penolakan berikut alasannya dan penyelesaiannya bagi organisasi. Bagi saya ini adalah sebuah kejujuran dan pembelaan saya terhadap apa yang saya yakini sebagai prinsip hidup dan sebuah kebenaran. Tak lama setelah saya mengajukan penolakan itu, saya menulis status facebook.  

Tetapi pada saat itu saya belum bisa berhenti sepenuhnya dari organisasi tersebut. Bagaimana pun juga mama (ibu kandung) saya adalah alumni dari organisasi itu. Sehingga dengan berbagai macam cara, mama selalu berusaha memberi semangat untuk terus aktif dan membantu organisasi. Walau saya merasa segan namun berusaha menuruti apa yang dinasehatkan mama.

Pada bulan februari 2010 saya mengikuti latihan kader 2 yang membawa saya aktif kembali sebagai pengurus di tingkat cabang. Saya bekerja keras melakukan penyesuaian antara prinsip hidup yang saya miliki dengan kultur organisasi. Saya berusaha melakukan perubahan organisasi ke arah yang saya mau. Agar saya bisa beradaptasi dan meluruskan hal – hal yang selama ini saya lihat sebagai masalah.

Namun hasilnya berbeda. Organisasi masih belum bisa menerima perubahan yang saya lakukan. Mereka masih tetap sama seperti dahulu yang menyebabkan saya menolak untuk menjadi ketua bidang keperempuanan. Saya berbeda haluan dengan organisasi. Saya tidak bisa menerima perbuatan mereka yang melampaui batas dan tak memiliki prinsip. Hingga akhir 2010 saya masih berusaha menutupi hal ini. Karena terus terang, saya merasa tak enak dengan hubungan kekerabatan antara saya dengan beberapa alumni organisasi. Hingga saya berusaha mengambil jalan diplomasi dengan cara menolak organisasi namun masih berusaha bertoleransi.

Saat ini di awal tahun 2012 saya berpikir bahwa prinsip saya yang bertabrakan dengan organisasi sudah tidak bisa ditawar lagi. Saya bertekad untuk berhenti sama sekali untuk berkecimpung di organisasi. Saya mengurangi intensitas pertemuan saya dengan beberapa teman pengurus dan menghapus pertemanan di media sosial dengan jaringan organisasi. Dalam hati dan tindakan telah terukir untuk keluar serta menolak untuk aktif dalam kegiatan apa pun terkait organisasi. Hal ini telah menjadi keputusan bagi saya. Tidak ada lagi perdebatan mengenai hal ini.    

Pasuruan, 9 April 2012

Organisasi yang Kehilangan Anggota Terbaiknya


Ria R. Dewanti

Organisasi yang tidak bisa memecat anggota yang jelek, maka akan kehilangan anggota terbaiknya. Ini adalah sebuah nasehat yang benar. Karena para manusia bergerak sesuai dengan arah tujuan dan nilai diri yang dimiliki. Seperti air dan minyak yang tak dapat bersatu. Anggota yang jelek dan anggota terbaik tidak bisa bersama. Karena mereka pasti akan bentrok. Dan ujungnya akan terjadi perpecahan dalam tubuh organisasi.

Yang dimaksud dengan orang jelek di sini adalah orang yang memiliki karakter yang tidak mulia serta gemar berbuat jahat. Entah mereka sadar atau tidak namun yang jelas keberadaan orang jelek sangat mengganggu pertumbuhan dan kelangsungan organisasi. Mereka hanya akan membuat rusuh, onar dan keributan dengan melakukan perbuatan yang merusak citra sebuah organisasi.

Sedangkan yang dimaksud dengan orang terbaik adalah orang yang memiliki karakter yang mulia dan dapat dipertanggung jawabkan. Orang terbaik dapat dipercaya, amanat dan keberadaannya dalam organisasi akan membawa perubahan yang baik dan dinamis. Orang terbaik biasanya tanggap terhadap perubahan yang harus segera disikapi oleh organisasi.

Dengan melihat perbedaan antara orang jelek dengan orang terbaik dapat disimpulkan bahwa keduanya tak dapat dipertemukan. Bukan karena perbedaan yang membawa rahmat, namun ini adalah tanda dari harus dilakukannya suatu ketegasan untuk memilih mana yang akan dipertahankan. Apakah organisasi akan memilih untuk mempertahankan orang jelek ataukah organisasi akan mempertahankan orang terbaik.

Sekilas dapat dilihat bahwa yang lebih menguntungkan adalah orang terbaik. Melihat prospek dan daya guna dari kontribusi yang dapat dilakukan orang terbaik tentu sebuah organisasi sepatutnya memilih orang terbaik. Begitulas yang semestinya diperhatikan. Tetapi pada kenyataannya tidak semua organisasi memilih orang terbaik untuk tinggal dan membangun organisasi. Sebagian organisasi memilih orang jelek untuk bertahan dan menghancurkan organisasi perlahan – lahan atau serta merta. Sebuah kesalahan yang besar bukan.

Alasan organisasi mempertahankan orang jelek    

Seseorang akan menyukai mereka yang serupa dengan dirinya. Apabila sebuah organisasi memilih orang jelek untuk bertahan maka itu artinya kepemimpinan organisasi juga dikendalikan oleh orang jelek. Sehingga sebagus apa pun upaya orang terbaik untuk membangun organisasi akan tetap sia – sia. Karena orang jelek akan senantiasa mengganggu dan iri terhadap ide hebat yang dilakukan orang terbaik. Satu hasta orang terbaik menyusun bata. Satu hasta pula orang jelek menghancurkan hasil karya itu. Dengan demikian terdapat hubungan yang erat antara suburnya anggota jelek dan kepemimpinan yang dikendalikan orang jelek.

Pada sebagian organisasi orang jelek juga dapat dipergunakan untuk tujuan tertentu. Misalnya untuk dengan sengaja mengusir orang terbaik dari organisasi tersebut. Hal ini biasanya terkait dengan kompetisi yang tidak sehat di sebuah organisasi. Sehingga pengurus organisasi saling berlomba untuk menduduki posisi tertentu dengan melakukan hal – hal yang melawan aturan. Dan inilah hasilnya yaitu mempertahankan keberadaan orang jelek.

Alasan lainnya adalah melanggengkan posisi dari kepemimpinan orang jelek sebelumnya. Sehingga yang direkrut serta terus berkecimpung dengan aktif dalam organisasi adalah orang jelek. Padahal orang jelek biasanya tidak memiliki program kerja yang jelas. Mereka hanya mengandalkan premanisme sambil menunjukkan arogansi dalam berorganisasi. Mereka akan menerapkan nilai – nilai yang bertentangan dengan aturan organisasi yang sebenarnya. Menonjolkan keberingasan yang menjadi ciri khas mereka. Dan bisa ditebak jangka akhir dari kepemimpinan orang jelek adalah kehancuran organisasi secara total.

Yang diharapkan oleh orang jelek adalah mereka dapat meraih keuntungan melalui organisasi yang mereka duduki. Mereka menguasai perkenalan dengan jaringan organisasi beserta alumni – alumninya. Kemudian mereka akan mendapat prioritas dalam memasuki lini – lini tertentu. Dengan kemudahan tersebut mereka akan mulai membayangkan kehidupan yang lebih bahagia dan mengesankan. Tapi sayangnya baying tersebut tidak seratus persen benar. Kalian pernah mendengar pepatah yang mengatakan bahwa “terkadang kita mengira itu berlian padahal hanya pecahan gelas.” Artinya manusia terkadang salah menilai karakter seseorang hanya dari luarnya saja. Orang yang melakukan perbuatan tertentu dinilai sebagaimana apa yang diharapkan. Ternyata kebenaran tidak sesuai dengan harapan. Seperti dalam contoh orang jelek. Alumni organisasi mengira orang jelek adalah generasi emas yang memiliki kualifikasi cemerlang dan mampu menunaikan amanat organisasi yang tertuang dalam visi misi mulia. Sungguh disayangkan bahwa itu adalah perkiraan yang keliru dan fatal. Dikatakan keliru karena keadaan yang sebenarnya berkebalikan dengan harapan para alumni. Dan dikatakan fatal karena harapan yang keliru itu telah menyebabkan jatuhnya amanat kepada orang yang salah. Sehingga di masa akan datang terwujudnya visi organisasi dapat diperkirakan tidak mungkin terjadi. Ini hanyalah harapan kosong. Bersama orang jelek hanya kehancuran yang terjadi.

Kepercayaan diri orang terbaik

Orang terbaik tidak merasa kehilangan bila harus meninggalkan organisasi yang tidak bisa menghargainya. Mereka akan senantiasa berdedikasi terhadap kebaikan dan keluhuran budi pekerti di mana pun tempatnya. Sehingga keinginan untuk mengalami bentrokan di organisasi bersama orang jelek itu tidak ada. Bagi orang terbaik melakukan kontribusi tidak harus di satu tempat melulu.

Inilah saatnya untuk memperlebar sayap dengan menjangkau banyak tempak yang belum diakses oleh orang terbaik. Lagi pula buat apa menjadi katak dalam tempurung dengan menghabiskan waktu untuk berdebat bersama orang jelek yang secara jelas telah sangat berbeda dengan orang terbaik. Tidak ada faedah yang dapat diambil. Tidak ada ruginya bagi orang terbaik untuk pergi dan kemudian menemukan tempat terbaik. Pasti akan ada jalan keluar. Kebaikan ditakdirkan untuk bersama kebaikan.

Orang terbaik selalu menemukan cara untuk dapat berdiri di atas keyakinannya yang teguh. Tak perlu menyesal dengan besarnya usaha untuk membangun organisasi yang telah dihancurkan orang jelek. Orang terbaik akan menerima semua hasil dengan legawa. Setiap usaha memang akan berawal dan juga berakhir. Mereka tidak perlu menyalahkan siapa – siapa. Tapi tentu saja orang terbaik akan senantiasa mengingat siapa saja orang jelek yang patut dihindari seumur hidup mereka.

Pengalaman adalah hasil yang didapatkan melalui usaha dan semangat dalam menanggapi permasalahan hidup yang dilalui. Apabila seorang manusia hanya berdiam diri dan mengeluh maka dia tak akan pernah menyadari di mana kekurangan dirinya dan di mana dia dapat meraih kesuksesan. Orang terbaik paham hal ini. Mereka yakin setiap pengalaman pahit dan tidak enak suatu saat nanti pasti akan membawa hasil yang memuaskan. Karena mereka memiliki kesungguhan hati dan tidak menyerah walau apa pun rintangan yang menghadang. Pergi dari organisasi bukan berarti mereka menyerah dan kalah. Justru sebaliknya merekalah pemenang sejati. Dan piala itu harus ia dapatkan di tempat lain bukan organisasi tersebut. dia yakin terhadap ketentuan Tuhan Yang Maha Kuasa terhadap orang beriman dan bertakwa. Tak mungkin Tuhan akan menyia –nyiakan hambanya yang saleh dan salehah.

Kesimpulan  

Keputusan sebuah organisasi sangat penting untuk mempertahankan anggota yang bertahan di dalamnya. Apakah orang jelek atau orang terbaik. Apabila sebuah organisasi salah menilai, maka hasilnya adalah kehancuran. Dan ini sudah pasti. Karena orang terbaik akan memilih untuk tumbuh subur di tempat yang sesungguhnya berperan bagi mereka. Daripada hidup sengsara dalam kebodohan orang jelek. Dan organisasi yang didiami orang jelek lama – kelamaan akan meredup dan ditinggalkan anggota – anggota lainnya. Calon anggota baru pun akan segan untuk aktif dalam organisasi yang jelek.  

 

Pasuruan, 7 April 2012, pukul 18.08 WIB  

*sebuah perenungan terhadap masa lalu, masa kini dan masa depan.

 

Organisasi yang Lengang


Ria R. Dewanti

Pernakah saudara berada di sebuah organisasi, mampir ke sekretariat, dan bertemu dengan pengurus yang berada di dalamnya. Lalu saudara menemukan ada sesuatu yang salah. Sesuatu yang yang tampak ganjil. Yaitu kegiatan organisasi yang nyaris tak ada. Tanpa aktivitas, agenda, maupun target. Lebih dari itu, tak tampak adanya semangat dari pengurus untuk membangun organisasi.

Sekilas tampak aneh. Tapi bagaimana bila hal inilah yang terjadi. Apa yang akan saudara lakukan sebagai bagian dari pengurus atau pun orang yang pernah aktif dalam organisasi tersebut. Tentunya hal demikian tak dapat dibiarkan. Harus dilakukan sebuah penyelesaian.

Apa yang akan terjadi bila organisasi menjadi lengang. Sepi seolah tak ada penghuni. Atau pengurus dan anggota ramai berdatangan namun yang dibahas adalah hal – hal lain di luar organisasi. Sangat menyebalkan bukan. Saudara sudah meluangkan waktu untuk datang. Tapi organisasi yang bersangkutan tidak memberikan penampilan terbaik sesuai yang saudara harapkan. Yaitu kegiatan berorganisasi yang bermanfaat dan sesuai dengan tujuan berorganisasi.

Bila hal seperti terjadi sekali atau dua kali, mungkin saudara akan berusaha memaklumi sebagai kegiatan selingan. Tapi bila hampir setiap kali datang ke sekretariat dan yang disuguhkan adalah hal semacam ini. Tentu saudara tidak bisa terima. Apalagi bila saudara termasuk orang yang idealis dalam berorganisasi dan tidak ingin bersikap gegabah dalam berorganisasi. Ini bukan masalah kecil.

Bercanda pada waktunya akan menjadi obat jenuh dalam berorganisasi. Bercakap dengan sesama teman akan meningkatkan persahabatan dan keakraban. Sehingga sewaktu – waktu diperlukan kerja sama tim maka telah ada penyesuaian diri antar pengurus. Tertawa bersama teman – teman untuk suatu hal yang disukai akan membawa kebersamaan dalam berorganisasi. Asalkan tidak berlebihan tentu semua hal itu akan bermanfaat.

Saat menemukan organisasi saudara menjadi lengang. Sebaiknya segera cari tahu penyebabnya. Dekatilah teman- teman pengurus dan anggota untuk mengetahui duduk permasalahan dengan jelas. Setelah terkumpul informasi lalu telitilah mana yang masuk akal dan mana yang tidak. Setelah melakukan penyempitan masalah komunikasikan dengan salah seorang teman yang dipercaya untuk menentukan langkah selanjutnya. Usahakan cara agar dapat mengumpulkan seluruh pengurus dan anggota untuk melakukan agenda organisasi bersama. Berinisiatiflah untuk mengutarakan pendapat secara bijak dan argumentative. Sehingga dapat memudahkan pihak lain untuk mengerti itikad baik saudara untuk mengembalikan keaktifan organisasi seperti sedia kala.

 

Selama tinggal organisasi yang lengang!       

 

 

Persepsi yang Salah dalam Berorganisasi


Ria R. Dewanti

Apa yang aku persepsikan tentang organisasi, berbeda dengan yang dimiliki teman – temanku. Bagiku sebuah organisasi haruslah memiliki jiwa. Mempunyai arah. Tapi tidak demikian bagi mereka. Menjalankan organisasi hanya dengan setengah hati. Dan aku pun menjadi setengah hati berorganisasi bersama mereka.

Selalu saja begitu. Tak dapat ditemukan kata sepakat dalam hal ini. Kami berbeda. Dan menuju arah yang berlainan. Sering kali ini menjadi hal yang menyakitkan. Betapa pun yang terbaik adalah yang sedang kami usahakan. Namun bagaimana sebuah organisasi dapat menjadi besar bila tanpa kekompakan.

Mereka ingin menuju utara. Aku ingin ke selatan. Semakin lama semakin pusing. Karena tidak kunjung temukan arah untuk bersatu. Seperti ketika teman – teman berorganisasi agar dapat menempa diri. Tetapi pertanyaannya adalah menempa diri seperti apa. Mencari kenalan di mana – mana kah. Atau sekedar berada dalam suatu posisi saja. Lantas setelah itu mau apa. Apa yang dilakukan. Bukankah ini sangat mudah. Hanya mendaftar di sebuah organisasi, setelah itu jadi pengurus. Lalu menjadi ketua. Tanpa kemampuan dan kemauan untuk membawa arah di organisasi. Sehingga ketika benar – benar terpilih menjadi ketua, kegiatan yang dilakukan tak dapat memberikan hasil yang didamkan. Organisasi menjadi sepi dari kegitan. Tanpa perhatian pengurusnya. Dan lama – lama organisasi akan ditinggalkan. Atau mungkin kembali ramai untuk suatu tujuan tertentu. Biasanya saat pemilihan ketua umum yang baru. Semua kegiatan organisasi hanya sebagai penggugur syarat. Bukan sebagai penopang keberhasilan menempa diri.

Kesalahan yang tak dapat diperbaiki

Aneh bukan, mengapa seseorang bisa begitu berambisi aktif di organisasi dengan cara begitu. Apakah sebegitu menariknya berorganisasi. Apakah itu benar. Atau salah. Apakah seseorang yang berorganisasi dengan cara demikian itu dapat dikatakan benar.

Tentu sulit untuk membuktikan kesalahan dan kekeliruan yang dilakukan seorang pengurus organisasi. Nasehat dan peringatan mungkin tidak akan pernah mempan. Lihatlah pasti kita akan berbantah – bantahn hingga ada salah satu yang memutuskan untu diam. Tetapi itu artinya membiarkan pengurus untuk tetap berada dalam kekeliruan.

Sangat menjengkelkan bila menemui orang – orang yang berbuat dan berkepribadian seperti itu. Bukan saja karena nasehat baik tidak dapat mereka dengar. Tetapi juga karena perbuatan yang mereka lakukan itu tak dapat diubah. Kalau ada orang yang mengingatkan pasti akan mereka anggap serangan. Padahal ini bisa jadi nasehat yang akan menyelamatkan hidup mereka selamanya. Sebelum terlambat.

Secara berulang – ulang dari kepengurusan yang satu ke pengurusan lainnya selalu sama. Begitu terus. Hingga kepercayaan terhadap organisasi menurun lalu menghilang. Lantas jangan kaget bila banyak kader lama menghilang. Karena perbedaan persepsi ini tadi.

Masih ingat bukan dengan filosofi air dengan minyak. Bahwa keduanya tidak dapat bersatu. Saling bertentangan dalam hal kandungan kimiawi. Sering kali digunakan untuk menggambarkan kedua pihak yang tak dapat berada dalam satu wadah. Salah dan benar itu berbeda. Tidak ada wilayah abu – abu. Hanya orang gila dan orang mabuk saja yang tidak dapat membedakan antara salah dan benar. Karena orang gila dan mabuk sudah tidak bisa menggunakan akalnya, sehingga tak dapat berpikir untuk kemudian memutuskan mana yang benar dan salah.

Pengurus yang Terus Melanggar Aturan  

Sedikit demi sedikit lama – lama menjadi bukit. Mula – mula memberanikan diri untuk melanggar aturan. Menyiasati beberapa pasal untuk melakukan ambisi. Kemudian jadi terbiasa melanggar segala aturan agar sesuai dengan apa yang diinginkan. Berusaha sebaik mungkin agar dapat memanipulasi aturan. Membuat aturan tunduk pada keinginan mereka. Menomor satukan ambisi duniawi.

Saya jadi teringat sebuah kalimat dalam ilmu hukum. Hukum untuk manusia atau manusia untuk hukum. Mana di antara keduanya yang lebih tepat. Kalau dikaitkan dengan pengurus organisasi yang memanipulasi aturan ini, mungkin kalimat yang cocok adalah hukum untuk manusia. Karena pengurus tersebut berusaha menggunakan aturan untuk memuaskan keinginan yang berkaitan dengan nafsu sebagai manusia. Walau sebenarnya ini berkonotasi negative. Semacam sindiran. Karena pada awalnya, kalimat hukum untuk manusia seringkali diutarakan oleh para penganut hukum progresif. Agar manusia tidak menjadi korban dari hukum. Hukum yang dimaksud adalah hukum positive. Yaitu yang lahir dari kekuasaan pemerintah. Sehingga hukum hanya menjadi alat yang digunakan untuk kekuasaan. Tetapi hukum seperti itu tidak memihak pada rakyat. Sehingga rakyat dirugikan.

Tetapi coba pikir bagaimana kalau kalimat hukum untuk manusia disalah artikan. Orang – orang yang hendak mengeruk kekayaan Negara lalu berusaha memanipulasi hukum agar mereka dapat lolos dari jeratan hukum. Bayangkan saja. Apa jadinya suatu Negara yang memiliki hukum seperti itu.

Saya jadi teringat dengan hukum normatif. Bahwa hukum itu tidak hanya yang berada dalam undang – undang. Namun juga yang tidak ditulis dalam undang – undang. Hukum dapat digali dan diketemukan berkaitan dengan kearifan lokal masyarakat. Hukum ditegakkan seperti seharusnya. Segala sesuatu ada aturannya. Para ahli hukum harus menggalinya.

Lihatlah betapa pertentangan antara hukum normatif dan progresif mencoba untuk menemukan solusi. Saya pikir keduanya mempunyai tujuan yang mulia. Namun bagaimana cara ahli hukum menggunakannya yang akan menentukan keberadaan dari teori – teori tersebut. Termasuk dalam masalah yang dihadapi oleh pengurus organisasi tersebut.

Selamat menemukan hukum!

Hati – Hati Memilih Organisasi Mahasiswa


Ria R. Dewanti

Saat menginjakkan kaki pertama kali menjadi mahasiswa. Tentu ada banyak hal berbeda dengan yang kita ketahui di masa sebelumnya. Menjadi mahasiswa memiliki tanggung jawab berbeda. Yaitu harus lebih memperhatikan masa depan dengan cara menambah pengetahuan dan pengalaman di luar kegiatan perkuliahan.

Kegiatan organisasi dapat meningkatkan pengetahuan dan pengalaman yang kita miliki. Kemampuan bermasyarakat akan sangat membantu kita dalam menghadapi masa depan. Di dunia kerja misalnya. Bila kita telah terbiasa berorganisasi, kita tidak akan canggung dalam menghadapi orang – orang yang berbeda karakter dengan kita. Serta mampu untuk mengambil keputusan yang tepat dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.

Namun tidak semua organisasi dapat kita ikuti. Selain karena pertimbangan efisiensi waktu, juga perlu memperhatikan sejauh mana kecocokan dan kesuksesan organisasi tersebut bagi masa depan kita. Adapun panduan dalam memilih organisasi yang tepat adalah sebagai berikut:

1. Sesuaikan dengan minat dan bakat yang dimiliki

Mengenali apa yang menjadi bakat dan minat sangat penting. Hal ini akan membantu kita mengenali potensi diri. Sehingga dapat meraih prestasi tertinggi seperti yang diharapkan. Apabila kita memiliki minat di bidang olahraga. Tidak ada salahnya kita aktif dalam organisasi yang bergerak dalam bidang olah raga.

Atau dapat juga kita mempelajari minat kita sebanyak mungkin. Mana yang kira – kira kita sukai. Apakah mungkin kita menyukai kegiatan yang bersifat penalaran.  

2. Berusaha mencari tahu visi misi organisasi

Sangat penting untuk mengetahui visi misi organisasi. Karena ada ratusan organisasi mahasiswa yang beredar di kampus. Apabila kita tidak mempelajari visi misi itu. Dikhawatirkan kita akan terjerumus pada organisasi yang tidak sesuai dengan tujuan hidup dan kepribadian kita.

Misalnya saja organisasi tersebut memiliki visi misi suatu agama tertentu. Lalu kita teliti sejauh mana pengaruhnya terhadap para pengurus di organisasi tersebut. minimal kita memiliki gambaran tentang bagaimana diri kita 4 tahun kemudian setelah aktif di organisasi tersebut. Oleh karena itu hindarilah organisasi yang memiliki visi misi yang jelas.

3. Mencari tahu sejarah organisasi

Ada yang bilang sejarah itu menunjukkan identitas. Mengetahui sejarah sebuah organisasi dapat membuat kita memiliki ikatan batin dengan organisasi tersebut. sehingga kita dapat lebih memahami siapa dan apa sebenarnya organisasi yang kita akan aktif di dalamnya.

4. Mengenali karakter dan kepribadian pengurus organisasi

Mengenali pengurus dalam suatu organisasi sangatlah penting. Paling tidak kita dapat memperkirakan sejauh apa kita bertoleransi terhadap perbedaan karakter yang ada. Karena ketika kita berada dalam suatu perkumpulan pasti akan muncul perbedaan karakter. Kita hanya harus memilih seberapa siap untuk menghadapinya. Apabila perbedaannya terlalu bertolak belakang. Sebaiknya diurungkan. Karena pada akhirnya pasti aka nada salah satu yang harus berkorban.

Kita juga harus memilih dan memilah karakter apa saja yang bermanfaat dan mana yang tidak. Karena dengan demikian kita dapat memperhitungkan pengaruhnya terhadap karakter diri yang akan kita bina di organisasi.  

5. Mantapkan hati untuk menjadi anggota organisasi   

Setelah kita memperhatikan langkah – langkah sebelumnya, maka kini tinggal memutuskan bagaimana kebulatan tekad kita terhadap organisasi yang kita pilih. Pilihlah dengan jernih, penuh pertimbangan dan logika. Selain juga pertimbangkan dengan hati. Karena terkadang hati mampu menunjukkan mana yang sesuai dan mana yang tidak, sebelum akal sampai padanya.

Oleh karena itu untuk memantapkan hati, iringilah dengan berdoa dan mohon pertolongan dari Allah SWT. Jangan sampai menyesal kemudian. Dan tetaplah kritis selama berorganisasi. Jangan mudah terbawa arus. Selalu berpikir dan menganalisis setiap persoalan yang ada.

Selamat memilih organisasi!

Mengapa Organisasi Ekstra Mahasiswa Cenderung Bernuansa Politik


Ria R. Dewanti

Pada awalnya saya tidak percaya ketika teman – teman di kampus mengatakan bahwa organisasi ekstra mahasiswa cenderung bernuansa politik. Dalam benak saya kata – kata politik bermakna tidak baik seperti aktivitas partai politik yang melakukan berbagai macam cara agar memenangkan pemilihan umum. Sering kali media massa menayangkan berita partai politik yang menggunakan cara – cara yang tidak baik untuk memperoleh simpati masyarakat. Begitu yang ada di pikiran saya saat itu.

Organisasi ekstra mahasiswa yang bernuansa politik sangat jauh dari bayangan saya. Karena pada saat SLTP saya aktif di berbagai kegiatan organisasi siswa seperti OSIS, PMR, Seni Lukis, Mading, dan Karate. Di organisasi – organisasi tersebut saya belajar mengenai kepemimpinan serta manajemen siswa. Bagaimana rapat diselenggarakan, bagaimana mengadakan suatu kegiatan, apa saja yang menjadi aktivitas bidang – bidang organisasi, tugas dan kewajiban pengurus, penyelenggaraan pemilihan ketua umum.

Bahkan sejak kecil, sekalipun saya menyadari bahwa pemilihan ketua umum adalah bagian paling menarik dari sebuah organisasi. Saya tidak menyukai penyatuan suara dari pengurus untuk memilih calon tertentu. Bagi saya pemilihan ketua umum harus diselenggarakan secara musyawarah. Manakala pemilih ingin memilih salah seorang calon maka dia memiliki hak untuk memilihnya. Namun apabila tidak ingin memilih, maka dia juga tidak dipaksa untuk memilih calon yang bersangkutan.

Kurangnya perhatian terhadap masalah manajemen dan kepemimpinan organisasi

Yang menjadi permasalahan adalah organisasi ekstra mahasiswa dalam penyelenggaraan organisasi kurang memperhatikan masalah manajemen dan kepemimpinan. Organisasi ekstra mahasiswa biasanya hanya ramai saat pemilihan ketua umum. Selebihnya hanya kegiatan hampa yang kurang bernilai terhadap potensi seorang organisatoris.

Lemahnya organisasi ekstra mahasiswa dalam mendidik para mahasiswa dalam hal organisasi. Membuat saya berpikir bahwa organisasi ekstra mahasiswa tidak dapat menghasilkan seorang organisatoris. Mereka lebih mirip aktivis partai politik yang sedang mencari popularitas tanpa memperhatikan aspek – aspek filosofis dan etika dalam berorganisasi. Tidak heran dalam perjalanannya, sebuah organisasi ekstra mahasiswa cenderung menemui banyak permasalahan. Semakin tinggi jenjang organisasi ekstra mahasiswa yang diikuti, bukannya semakin bagus, justru semakin jauh dari nilai – nilai seorang organisatoris sejati.

Hal seperti ini sebenarnya sangat merugikan. Di saat negara sedang membutuhkan pembaharuan dari generasi muda untuk menjadi pemimpin bangsa yang disegani dan mumpuni. Kenyataan menunjukkan bahwa impian generasi muda yang militan agaknya sulit dicapai.    

Hasil dari perkaderan organisasi ekstra mahasiswa yang cenderung pada nuansa politik dapat dilihat dari munculnya kader – kader organisasi yang hanya mementingkan segi pencitraan diri dengan diikuti pengabaian dalam menjalankan prinsip kepemimpinan dan kemanajemenan organisasi yang baik dan benar. Semakin mudah dijumpai kader organisasi ekstra mahasiswa yang pandai berpolitik namun lemah dalam menunjang amanat dan aspirasi masyarakat. Sehingga yang terjadi adalah ketidak percayaan masyarakat terhadap partai politik. Hal ini seringkali diungkapkan dalam kalimat, “janji – janji politik, setelah terpilih, lupa pada janji sendiri.”

Kurangnya manfaat yang dapat diperoleh dari keberadaan organisasi ekstra mahasiswa dalam peningkatan kualitas individu mahasiswa sebagai organisatoris menyebabkan keengganan para mahasiswa untuk aktif dalam kegiatan organisasi tersebut. Mahasiswa lebih memilih untuk mengikuti berbagai kegiatan organisasi intra atau pun organisasi swadaya yang disponsori pihak tertentu yang lebih bergengsi dan memiliki kualitas yang dapat dijamin.

Pencatatan keuangan yang tidak sistematis pada organisasi ekstra mahasiswa dan perihal ketidak kejujuran

Beberapa kasus penyalah gunaan dana diidentifikasi dilakukan oleh organisasi ekstra mahasiswa. Hal ini juga berkaitan dengan pengawasan yang lemah dalam hal keuangan. Berbeda dengan organisasi intra yang memperoleh dana dari pihak universitas atau pun fakultas. Organisasi ekstra mahasiswa mendapatkan pemasukan keuangan terbanyak dari para alumni dan juga iuran anggotanya.

Mungkin karena sifatnya sebagai organisasi ekstra kampus yang tidak memiliki lembaga pengawas keuangan sehingga menyebabkan pencatatan keuangan yang dilakukan tidak secara sistematis. Hal inilah yang pada akhirnya mendorong untuk terjadinya penyalah gunaan keuangan.

Yang lebih berbahaya adalah pendidikan keuangan. Ketika para pengurus organisasi ekstra mahasiswa telah terbiasa menggunakan keuangan organisasi dengan tidak secara sistematis. Yang terjadi selanjutnya adalah pemahaman tentang aspek kejujuran yang rendah. Dan mereka akan membiasakan diri untuk bersikap lalai dalam menggunakan keuangan organisasi. Padahal penggunaan uang organisasi tentu berbeda dengan menggunakan unag pribadi. Di organisasi seharusnya setiap pengeluaran memiliki bukti pengeluaran keuangan seperti nota pembelian misalnya. Sehingga dapat dipastikan bahwa keuangan organisasi berjalan aman dan mengantisipasi perbuatan penyalah gunaan keuangan.

Pendidikan keuangan yang lemah pada segenap aktivis dan organisatoris mahasiswa akan menghasilkan watak dan kepribadian yang tidak memerdulikan kejujuran keuangan. Para mahasiswa yang lalai cenderung akan bersikap menuruti dorongan pribadi untuk melakukan perbuatan penyalah gunaan keuangan. Sikap mental semacam ini perlu dijauhi. Sehingga harus diwaspadai oleh segenap aktivis dan organisatoris.

Apabila sikap lalai terhadap kejujuran keuangan ini tetap dipelihara maka akan berdampak buruk bagi Negara di masa yang akan datang. Para organisatoris mahasiswa yang nantinya bekerja di birokrat akan menjadi terbiasa dalam melakukan perbuatan penyalah gunaan keuangan.

Seperti kasus – kasus korupsi yang sejak agenda reformasi dijalankan menjadi musuh nomor satu. Banyak pejabat yang terlibat kasus korupsi. Kasus suap wisma atlet yang masih berjalan dan melibatkan para pejabat partai politik. Hal ini tentu tak dapat diteruskan. Karena kalau tidak, maka Negara akan terus dirugikan oleh ulah para pejabat dan anggota DPR yang tidak memiliki pengetahuan mengenai kejujuran keuangan.

Apabila segala sesuatu sudah menjadi mangsa dari politik. Dan kebenaran tak lagi dihiraukan. Maka kekacauan yang dialami Negara ini tidak akan dapat diselesaikan. Perlu pembelajaran yang sungguh – sungguh dari segenap organisatoris mahasiswa, baik intra maupun ekstra. Karena seperti yang sering dibaca dalam buku – buku kepemimpinan. Bahwa para pemuda adalah generasi penerus bangsa. Apabila pemudanya baik maka baiklah Negara itu. Begitu pula sebaliknya. Sebab kemajuan dan keruntuhan sebuah Negara akan terlihat dari kualitas pemudanya.

Penyebab Organisasi Tidak Sehat


English: Erythrina variegata defoliated tree, ...

Image via Wikipedia

Ria R. Dewanti

Banyak yang bertanya tentang penyebab organisasi yang tidak sehat. Saya pikir penyebabnya adalah pemahaman tentang nilai yang lemah. Sehingga pengurus organisasi tidak dapat berbuat atau pun menjalankan organisasi dengan semestinya.

Yang dimaksud dengan nilai di sini adalah tentang baik atau buruk, benar atau salah, patut atau tidak. Pengurus organisasi yang memahami nilai akan dapat berlaku sesuai dengan yang diinginkan visi dan misi organisasi. Jadi dia tidak akan bertindak hanya dengan menuruti keinginan yang tidak sesuai dengan nilai yang diatur dalam sebuah organisasi.

Ketidak pedulian pengurus organisasi terhadap nilai akan menyebabkan dia bertindak sembarangan dan tidak sesuai aturan. Hal ini sangat berbahaya karena dengan demikian dia akan meletakkan keinginan yang buruk serta jahat di tempat yang pertama. Seseorang yang tidak memedulikan kebaikan dan kebenaran maka dia akan lebih dekat pada kejahatan dan keburukan.

Ketidak pedulian terhadap nilai akan melahirkan sifat malas untuk belajar. Dia akan merasa enggan dalam mempelajari cara – cara menjalankan organisasi yang baik dan benar.

Sifat yang mengabaikan nilai dalam sebuah organisasi tercermin dalam perbuatan ingin menguasai organisasi dengan cara yang tidak baik dan tidak benar. Padahal sesungguhnya sebuah organisasi didirikan dengan niat yang mulia. Sementara niat yang mulia tidak mungkin dapat terwujud dengan perbuatan yang buruk dan jahat.

Saat ini kita perhatikan betapa banyaknya seseorang yang mengikuti serta aktif dalam sebuah organisasi namun memiliki ambisi yang salah dan berlebihan. Biasanya hal ini tercermin saat pemilihan ketua umum. Pengurus organisasi berlomba membentuk kelompok dan golongan untuk mengusung seseorang yang akan mereka jagokan dalam pemilihan. Jadi sebelum pemilihan dan musyawarah berlangsung secara diam – diam mereka telah menetapkan cara – cara agar jago mereka dapat menang dalam pemilihan.

Pertanyaannya sekarang adalah apabila kelompok – kelompok pengurus organisasi telah menetapkan calon ketua umum. Lalu untuk apakah sebuah organisasi menyelenggarakan musyawarah.

Kelompok – kelompok berisi pengurus organisasi yang memiliki jago dalam pemilihan ketua umum ini akan berusaha dengan segala cara agar jago mereka dapat memenangkan pemilihan ketua umum. Sekali pun bagi saya itu bukanlah kemenangan. Dan tidak pantas untuk dibangga – banggakan. Kecuali dengan sekedarnya saja. Dan dilakukan melalui cara yang baik dan juga benar sesuai aturan.

Pengurus organisasi yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup dan keyakinan yang kuat tentang nilai akan mudah terbujuk oleh ajakan kelompok – kelompok organisasi yang menginginkan kemenangan yang tidak tulus dalam pemilihan ketua umum. Hal – hal semacam ini tidak baik dan tidak benar. Tapi pengurus organisasi yang yang tidak paham nilai tidak akan memedulikannya. Cara apa pun akan mereka gunakan agar keinginan kelompok mereka dapat terwujud.

Dia atas segalanya seharusnya kejujuran diutamakan. Karena kebaikan dan kebenaran mensyaratkan kejujuran di dalamnya. Tidak ada kebaikan yang dilakukan tanpa kejujuran. Begitu pun, tak ada kebenaran yang dilakukan tanpa kejujuran.

Sepertinya perlu ditanya di manakah hati dan akal yang biasanya menuntun manusia ke jalan yang benar. Apakah semua benar – benar sudah berubah. Setahu saya tidak banyak yang berubah pada hati dan akal yang dimiliki manusia pertama hingga saat ini. Tetap sama dalam member nilai sesuatu.

Sebenarnya apa yang menjadi dasar pemikiran dari para pengurus organisasi yang sengaja mempermainkan aturan dan norma dalam organisasi. Apakah mereka akan merasa puas dan bahagia bila jago mereka menang dalam pemilihan ketua umum. Aneh sekali. Bukankah ini tidak mencerminkan perbuatan dari seorang filsuf yang mengerti ilmu pengetahuan. Terlebih lagi bila pelakunya adalah mahasiswa dan para sarjana.

Seolah tidak ada lagi ilmuwan yang tersisa saat ini. Semua menjadi tak lebih dari seorang manusia yang begitu mengagungkan dunia dan menginjak kebenaran dan kebaikan dengan kedua kakinya.

Selanjutnya yang terjadi adalah ketua umum yang tidak memiliki kompetensi yang sesungguhnya dibebani oleh tanggung jawab besar yang tidak mampu ia penuhi. Sehingga akibatnya dalam kepemimpinannya sebuah organisasi tak dapat berjalan sesuai dengan visi misi yang dimiliki. Organisasi menjadi tidak sehat. Dan pada akhirnya apabila terjadi secara terus – menerus bisa saja organisasi dapat mengakhiri riwayatnya.

Selamat berpikir, organisatoris!

Pasuruan, 27 Januari 2012     

Pukul 00.19 WIB

Out of Place (Organisatoris Salah Tempat)


 

Oleh

Ria R. Dewanti

Pernahkah anda merasa salah tempat. Bahwa tempat yang anda diami saat ini bukanlah tempat yang sebenarnya anda tinggali. Keadaan atau pun situasi yang terjadi tidak sesuai dengan hati anda. Seperti ada yang salah dan tidak sesuai. Tetapi anda tak bisa menjelaskan penyebabnya. Tidak ada yang mengerti apa anda pikirkan atau rasakan.

Itulah yang pernah saya alami saat masih aktif di beberapa organisasi di kampus. Banyak hal yang terjadi di organisasi tidak sesuai dengan diri saya. Saat organisasi berjalan tanpa arah. Sementara teman-teman lainnya tak perduli dengan keheranan saya. Entah apa yang ada di pikiran teman-teman saya saat itu.

Banyak hal tidak terjadi seperti seharusnya. Namun yang lain hanya diam. Tidak perduli terhadap tantangan yang seharusnya dihadapi. Tantangan yang sebenarnya bisa saja menghancurkan keutuhan sebuah organisasi yang dicintai. Tidak lagi menjadi tempat untuk berkembang. Melainkan arena untuk saling membunuh antar pengurus.

Seperti ketika saya menemukan beberapa pengurus yang memiliki sifat tercela. Bukannya memberikan peringatan atau nasehat. Pengurus lainnya seolah membiarkan hal itu terjadi. Apakah pengurus yang berbuat tidak baik itu memiliki kesamaan sifat dengan pengurus lainnya. Atau kah para pengurus sudah kehilangan daya kritis dan ketangguhan dalam membela kebaikan dan kebenaran.

Kedengarannya memang agak klise. Namun apa manfaat menjadi pengurus organisasi kalau tidak memiliki prinsip dan visi hidup yang mulia. Saya pikir organisasi adalah tempat untuk mengembangkan potensi diri dan menggali kemampuan yang terpendam sehingga bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

Lebih mendasar lagi apa gunanya seorang manusia hidup. Apabila tidak memiliki penghargaan terhadap aturan Tuhan. Tidak menghargai kebaikan. Bagaimana sebuah organisasi bisa maju. Padahal usia manusia tidak ada yang tahu. Masa menjadi mahasiswa adalah masa muda yang tidak terulang lagi. Selagi masih muda tentunya harus berusaha menjadi baik. Untuk bekal di kemudian hari. Di masa depan yang tidak ketahui ujung perjalanannya.

Beberapa organisasi didiami oleh orang-orang berbahaya yang menyesatkan. Dalam arti mereka kehilangan kendali terhadap apa yang harus mereka lakukan dan apa yang tidak boleh mereka lakukan. Dan parahnya orang-orang semacam itulah yang paling ambisius dalam meraih control atas sebuah organisasi. Pengurus yang berusaha mengingatkan dan berbuat baik sengaja ditinggalkan dan dicari kesalahannya. Agar tidak menghalangi maksud yang tidak baik dari orang-orang tersebut.

Menghadapi orang-orang semacam itu terkadang membuat saya merasa out of place. Saya merasa berada di tempat yang salah. Saya menjadi sangat heran dengan pengurus yang saya hadapi. Sementara dalam hati, selalu ada dorongan untuk meluruskan hal-hal yang semrawut semacam itu. Saya sadar resiko yang saya hadapi. Pengurus yang berniat buruk tentu tidak akan senang diingatkan tentang kebaikan. Sekali pun kebaikan itu untuk diri mereka sendiri. Mereka bagus untuk diri mereka. Perbuatan jahat pun pasti akan kembali kepada pemiliknya.

Namun sayangnya, telinga, mata dan hati mereka masih tertutup untuk itu. Karena yang ada hanya keegoisan dan kesombongan semata. Tidak mau menerima kebenaran dan kebaikan sebagai adanya. Berpura-pura tidak mengetahui kejahatan. Tidak mau bertindak tegas terhadap orang-orang yang berbuat tidak baik dan tidak benar. Sehingga menyebabkan perbuatan tidak baik it uterus berlarut-larut. Semakin parah hingga pada akhirnya merusak diri mereka sendiri. Menghancurkan segala apa yang mereka banggakan secara berangsur-angsur.    

 

Cerdas Berorganisasi dengan Emosi dan Spiritual


 

Oleh

Ria R. Dewanti

Beberapa tahun terakhir ini, popularitas kecerdasan emosi dan spiritual semakin meningkat. Kehidupan modern yang serba canggih tak dapat diatasi hanya dengan kecerdasan intektual. Pelatihan emosi dan spiritual pun bermunculan di mana-mana. Segala bidang kehidupan segera menjadi sasaran dari kecerdasan baru ini.

Begitu pula dengan organisasi. Selama ini pembahasan seputar organisasi, manajemen dan kepemimpinan lebih banyak dilakukan melalui perspektif fisik yang kasat mata. Sesuatu yang tampak, dapat dilihat serta terukur. Hal inilah yang menjadi ciri khas dari kecerdasan intelektual. Hal yang selama ini diagung-agungkan oleh sebagian besar pengurus maupun aktivis organisasi. Kegiatan diskusi, debat, dialektika, atau pun retorika selalu dikaitkan dengan kecerdasan yang satu ini.

Namun pada kenyataannya, cerdas secara intelektual saja tidak cukup membawa seorang kader menjadi manusia berkompeten dan bahagia. Pada prakteknya, ditemukan bahwa organisatoris yang hanya mengandalkan potensi intelektual saja tidak dapat mencapai keberhasilan seutuhnya. Keberhasilan yang dimaksud di sini adalah keberhasilan dari segi kepuasan diri terhadap segala hal yang telah dicapai dan dilakukan dengan melihat kebermanfaatan bagi lingkungan sekitarnya. Sementara sebaliknya seorang organisatoris yang cerdas secara emosi, spiritual dan intelektual lebih mampu menghadapi tantangan dan perubahan jaman.

 

Keberhasilan seorang kader dalam mengolah potensi emosi dan spiritual dapat membawanya menemukan kehidupan yang bahagia. Memang benar, emosi dan spiritual tidak dapat diukur dengan alat. Sampai saat ini belum ada alat yang dapat digunakan untuk mengukur kecerdasan tersebut. Namun tinggi rendah kualitas emosi spiritual seseorang dapat dirasakan. Orang–orang maupun lingkungan sekitar akan merasakan akibat dari tinggi atau rendahnya kualitas kecerdasan yang dimiliki seseorang. Seperti sebuah pohon yang kokoh, tinggi, berbuah lebat dan bermanfaat bagi manusia, begitulah orang cerdas emosi spiritual diibaratkan.   

Tidak mudah untuk mencapai cerdas emosi, spiritual dan intelektual. Perlu pengetahuan dan komitmen yang kuat untuk meraihnya. Sangat disayangkan apabila seseorang hanya memperhatikan kecerdasan intelektual semata. Karena dapat dipastikan hidupnya akan kering kerontang tanpa kebahagiaan sekalipun dia tercukupi secara materi. Begitulah karakteristik dari kecerdasan intelektual. Oleh karena itu, perlu pembinaan dan pelatihan sejak awal untuk menanamkan kecerdasan yang lengkap bagi seorang individu dan pribadi di organisasi.

Alkisah pada saat perang dunia ke 2. Di Jepang, tepatnya di Hiroshima yang diserang oleh bom nuklir. Seluruh gedung dan rumah penduduk yang berada di sana berada sejajar dengan tanah. Meninggalkan puing-puing yang berhamburan. Tetapi ada sebuah gedung yang tetap berdiri kokoh. Tidak mengalami kerusakan berat seperti lainnya. Gedung itu tetap tegak berdiri di tempatnya semula. Setelah diselidiki oleh para peneliti, ternyata gedung tersebut memiliki pondasi yang kuat. Pondasi yang kuat menyebabkan gedung tersebut mampu bertahan goncangan keras yang ditimbulkan oleh bom nuklir yang meluluh lantakkan gedung dan rumah lainnya.

Cerdas emosi dan spiritual diibaratkan sebagai pondasi gedung. Apabila pondasinya kuat maka kuatlah bangunan yang ada di atasnya. Dan apabila pondasinya lemah maka runtuhlah bangunan yang ada di atasnya. Setinggi apa pun  bangunan akan mudah hancur apabila tidak diawali dengan pondasi yang kuat. Seperti sebuah bangunan, begitu cerdas intelektual diibaratkan.

Para kader organisasi yang berusaha membangun emosi spiritual dengan bertahap. Sekalipun hasilnya belum tampak namun kesuksesan dan kebahagiaan telah menghampiri mereka. Karena yang dibangun adalah mental dan batin yang sangat peka terhadap goncangan menuju bangunan kesuksesan. Sementara mereka yang melalaikan diri dengan membangun cerdas intelektual tanpa memperkuat pondasi emosi spiritual, sekali pun mendapatkan kesuksesan materi dan duniawi sebenarnya keruntuhan tengah menunggu mereka.

Berapa banyak telah terjadi perusahaan besar kelas dunia dengan keuntungan milyaran dolar amerika mengalami krisis dan kebangkrutan seketika. Berapa banyak pula terjadi perusahaan yang dipimpin oleh pengusaha yang jujur dan berani berbuat baik serta benar mampu menyelamatkan perusahaan serta para karyawan yang berada di dalamnya dari PHK dan kejatuhan yang lebih besar lagi.

Perusahaan Honda adalah salah satu contohnya. Suatu ketika pernah terjadi krisis yang sangat hebat hingga menyebabkan banyak perusahaan besar di Jepang runtuh karenanya. Namun Honda mencoba bertahan. Dia bertekad untuk tidak memecat karyawannya. Dan berusaha mencari cara untuk membiayai gaji karyawan yaitu dengan menjual beberapa asset yang dimilikinya. Usaha itu berhasil dengan dukungan seluruh karyawan. Akhirnya perusahaan Honda terselamatkan dan semakin maju hingga mampu bertahan sampai sekarang.

Dengan melihat begitu pentingnya memiliki kecerdasan emosi spiritual sebagai pondasi serta kecerdasan intelektual sebagai pengembangnya. Maka perlu untuk diperhatikan betul-betul bagi segenap aktivis dan organisatoris yang hendak meraih kesuksesan dan keberhasilan dalam dunia dan akhirat. Agar senantiasa memperhatikan dan mencari ilmu bagaimana cara mempraktekkan kecerdasan emosi spiritual dalam kehidupan sehari-hari maupun berorganisasi.

Selamat mengembangkan diri!

Penyegaran dari Program Kerja ala Organisatoris


 

Oleh

Ria R. Dewanti

“apakah Anda aktif di organisasi,”

“bosan dengan program kerja yang ada,”

“ingin tahu cara me-refresh-nya. . .”

Terkadang menjalani program kerja sangatlah membosankan. Segala sesuatu yang dilakukan sama saja dari hari ke hari. Minggu ke minggu. Perlu adanya penyegaran. Penting agar tidak menjadi kejenuhan hingga akhirnya menyebabkan kemandegan lalu kemunduran dalam hal kreativitas dan kualitas organisasi.

Ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang merasa jenuh menjalani rutinitas. Konflik kecil dengan rekan kerja pun bisa menjadi hal yang berbahaya pada saat seperti ini. Bisa-bisa ketersinggungan yang biasanya bisa diselesaikan dengan mudah menjadi sulit dan memakan waktu.

Pada kondisi emosi yang tidak stabil, sebaiknya hindari berbicara terlalu banyak dengan teman-teman. Karena dikhawatirkan dapat memicu salah paham atau pun hal-hal yang bersifat personal lainnya. Persoalannya selanjutnya adalah saat menghadapi rapat harian atau pun agenda organisasi lainnya yang mensyaratkan bertemu dengan banyak orang.

Akan sangat disayangkan apabila kondisi pribadi yang cukup pelik dan bahkan terkadang tak dapat dimengerti ini disalah artikan pihak lain sebagai bagian dari karakter pribadi sebenarnya. Padahal tidak seperti itu. Apabila diteruskan, tentu hal ini akan memberi dampak yang tidak baik bagi keberlanjutan seorang pengurus di suatu organisasi. Atau pun bagi organisasi itu secara keseluruhan. Karena setiap pengurus memiliki kelebihannya masing-masing. Mereka adalah asset yang penting bagi suatu organisasi.   

Diperlukan pengertian dari sesama teman organisasi mengenai keadaan diri yang sedang tidak betul-betul sehat. Secara fisik mungkin terlihat optimal. Namun perlu disadari keadaan psikis yang tidak selalu sama dengan kondisi fisik. Teman-teman yang pengertian akan sangat membantu seorang pengurus dalam menghadapi situasi seperti ini. Itulah gunanya teman. Saling memahami dan mengerti. Bisa merasakan apa yang dirasakan temannya. Atau paling tidak berempati terhadap kondisi teman yang sedang tidak stabil.

Harus diakui seorang pengurus yang sedang mengalami kejenuhan tidak bisa menghadapi sendirian. Dukungan teman seorganisasi akan sangat membantu. Dalam titik ini, teman yang mau memberikan dukungan akan mengukuhkan ikatan solidaritas organisasi tersebut. Sebaliknya teman yang memojokkan akan membuat ikatan organisasi menjadi lemah dan renggang.

Sementara itu bagi pengurus yang sedang merasa jenuh. Melakukan rehat sejenak terhadap kegiatan organisasi sangat dianjurkan. Melakukan hobby atau mungkin menyelesaikan tugas kampus yang sempat tertunda dapat mengurangi beban bathin. Agar pikiran menjadi segar dan ide cemerlang kembali lagi. Beristirahat sebentar dari organisasi memberi waktu bagi pikiran dan badan untuk menemukan semangatnya. Setelah merasa cukup bugar, kegiatan organisasi dapat dilanjutkan seperti sedia kala.

Selamat me-refresh diri!