Ketua Atau Pemimpin

 

Oleh

Ria R. Dewanti

Tulisan ini dibuat atas dasar kegalauan hatiku tentang fenomena yang kutemui selama aku kuliah di sarjana strata 1. Kejadian yang mengusik nalar dan pikiranku. Tak kunjung aku temukan jawabannya sekali pun beberapa karya tulis telah ku buat. Dan puluhan atau bahkan banyak artikel lainnya aku baca. Aku tetap merisaukannya. Masalah ini tetap ku temui. Tidak saja di kalangan mahasiswa di mana aku sempat berada. Namun juga di kalangan pemerintahan yang sering aku amati di layar kaca maupun surat kabar.

Sesuatu hal telah merasuk dalam peristiwa ini. Menyebabkan kekacauan terjadi di mana-mana. Di segala usia maupun tempat. Segalanya menjadi tidak terbendung. Tidak diketahui dari mana hal ini berasal. Tiba-tiba saja semua seolah terhanyut. Pada aliran yang merusak. Kehilangan kendali terhadap aturan dan keyakinan pada kebenaran keadilan. Semua seolah menjadi klise. Kehilangan kewibawaan. Tidak bisa diharapkan. Tinggal menunggu saat kehancuran saja.

Berapa banyak orang-orang yang berpengetahuan. Mencoba berbuat baik dan benar. Melakukan pertolongan terhadap tatanan masyarakat yang hampir ambruk. Tapi itu pun akan percuma. Apabila masyarakat yang mengalami sendiri tidak berusaha melakukan perubahan. Mengubah pemikiran mereka. Mengubah pandangan mereka. Mencari kesadaran yang selama ini terbuang. Digantikan oleh persepsi palsu yang keliru dijadikan pegangan.

Tidak ada kesadaran. Orang-orang sedang terbius oleh sesuatu yang sungguh fana. Tak berarti dan tak mau mengerti. Apa yang sedang mereka kejar. Tidak akan berpengaruh apa-apa. Keputus asaan yang pada akhirnya mereka jumpai. Tak mau menerima nasehat. Seolah mereka buta, tuli dan mati dari kebenaran. Orang-orang memakai topeng kesenangan sementara batin mereka terluka oleh perbuatan yang mereka lakukan sendiri.

Saling menyalahkan tak akan mendapatkan penyelesaian. Itulah yang terjadi bila mereka tak mau mendengar kata hati. Harga diri dan keegoisan hanya menjadi sarana pembelaan diri. Bukan sesuatu yang dijunjung tinggi.

Berada di puncak ataukah di pucuk. Orang-orang sering salah dalam memahaminya. Mereka yang berada di puncak senantiasa mendasari hati dengan niat suci yang tulus. Keinginan berlepas diri dari belenggu tiran sekalipun berada dalam diri. Ucapan yang senantiasa dilakukan menjadi pedoman. Namun mereka yang berada di pucuk tak menemukan kesejatian diri yang dimaksud. Kelemahan yang mereka miliki hanya akan menyebabkan kejatuhan sekeliling yang mereka naungi. Seperti tetesan air yang berada di pucuk daun. Tetesan air di pucuk sejatinya adalah pemberat yang melemahkan daun untuk berdiri tegak. Terus melemah hingga tetesan air itu jatuh mengalir ke bawah. Tanpa kekuatan. Tanpa manfaat.

Tetesan air yang jatuh akan merangsang tumbuhnya benih-benih tumbuhan baru yang berada di dekat pucuk daun tersebut. Benih – benih tumbuhan baru yang bertekad melakukan perubahan, membenahi ketak berhasilan air yang berada di pucuk. kegagalan untuk diserap oleh daun dan akar yang dituju.

Lalu pada akhirnya tumbuhan baru tersebut akan berkembang. Lambat laun berada di puncak. Dengan akar yang kokoh dan daun yang berdaya serap tinggi. Peka terhadap apa yang ada di sekitar. Hingga tinggi menuju ke puncak. Bersama-sama membentuk sebuah hutan hijau di atas bumi yang mendekati akhir usia.