Oleh Ria R. Dewanti,
Alumni Sampoerna Best Student Visit (SBSV) 2010
Satu tahun yang lalu, tanggal 29 Juli 2010, saya dan 71 mahasiswa yang berasal dari berbagai PTN dan PTS di Indonesia berkesempatan mengunjungi pantai timur Surabaya dalam suatu acara kunjungan mahasiswa berprestasi yang diadakan oleh PT. HM. Sampoerna, tbk. Sesuai jadwal kegiatan, sore itu kami melakukan program penghijauan. Kami menyusuri sungai sepanjang muara pantai tersebut. Dari sana, kami diajak ke sebuah tempat yang dipenuhi oleh sampah plastik. Menurut pendamping kelompok, sampah-sampah plastik itu berasal dari daerah di sekitar Surabaya. Sejauh mata memandang yang terlihat adalah sampah plastik. Kelihatannya sampah tersebut telah lama berada di sana, bercampur dengan tanah, dan lengket satu sama lain. Pendamping kelompok bertanya pada kami. Bagaimana cara memindahkan sampah plastik tersebut.
“tidak mungkin,” dalam hati saya berkata.
Sampah plastik ini tidak bisa diuraikan. Kalau hanya memindahkan tempat, tentu kami bisa. Tetapi untuk memusnahkan atau mendaur ulang, bagaimana mungkin. Karena tidak paham cara penyelesaiannya, beberapa dari kami mencoba menarik sejumput sampah plastik itu. Tetapi apa yang terjadi, sampah plastik itu telah menyatu tak terpisahkan. Sehingga hampir sebongkah besar sampah plastik terangkat dari kerumunan sampah plastik lainnya.
Sangat menyakitkan melihat semua ini. Bahwa tidak ada yang bisa dilakukan untuk memusnahkan sampah plastik itu. Saya membayangkan latar belakang pendidikan kami serta prestasi yang kami raih. Namun apa guna apabila tidak bisa menyelamatkan lingkungan hidup, bumi yang ditinggali saat ini.
Sulit untuk dilupakan. Plastik-plastik ini ada di dekat kita, setiap hari, di mana pun. Dan plastic inilah yang suatu hari akan menghabisi kita. Apabila kita gagal untuk menguraikannya atau paling tidak menguranginya. Sungguh suatu pekerjaan rumah bagi generasi muda bangsa dan masyarakat dunia. Untuk mewujudkan lingkungan hidup yang sehat, bersih dan aman. Tanah, tanaman, air dan batu-batuan saling berkaitan. Satu komponen hilang maka rusaklah seluruhnya. Kepunahan alam adalah kepunahan hewan dan manusia.
Tidak ada lagi yang dapat kita miliki. Baju dan barang yang selalu kita beli. Makanan yang dikonsumsi. Perhiasan yang dikenakan. Apakah yang masih dapat dinikmati bila ala mini telah marah, mengamuk, karena keserakahan manusia yang tidak ada habisnya.
Jangan lagi ada yang mengorbankan lingkungan hidup sebagai komoditi perdagangan besar tanpa melakukan reboisasi dan regenerasi. Menjauhlah politik kotor yang rakus mengorbankan alam hanya untuk milyaran rupiah.
Marilah kita semua berbenah. Memperbaiki kualitas hidup kita. Tidak selamanya materi menjadi ukuran kemuliaan seseorang.




