Pekuburan 25 Bulan

Deutsch: Der Vollmond, fotografiert in Hamois ...

Image via Wikipedia

Ria R. Dewanti

Sahabatku,

Di tempat ini telah kukuburkan seseorang. Sebuah hati dan segenggam perasaan bersama akal yang melekat padanya. Kulitnya telah terasa mulai dingin. Wajahnya menunjukkan raut yang menyedihkan. Aku tak ingin melihat wajahnya. Air matanya terlalu mulia untuk mengalir di atas nama kepalsuan.

Hari berganti hari. Berpuluh purnama telah hadir dan tenggelam. Sementara dia selalu hidup dalam kecemasan dan kegamangan hidup. Nasehatku untuknya tak pernah dia hiraukan. Hingga semua kenyataan merenggut kepercayaannya. Dia selalu sulit untuk memahami apa yang hendak kusampaikan untuknya.

Lalu di sinilah kupandangi lembut wajah ayunya. Untuk terakhir kalinya kusentuh keningnya dengan halus. Tempat di mana ia meletakkan akal sehatnya. Akal yang selama ini telah cedera oleh perasaan yang tertipu.

Kemudian kupandangi rembulan yang bersinar di langit malam ini. Tak pernah kuketahui akan begini jadinya. Selalu kubayangkan kebahagiaanya. Namun mungkin dengan begini dia akan bahagia. Karena hidup hanya tersedia bagi mereka yang mampu bernafas dan menghirup udara segar. Bukan mereka yang mencium bau busuk yang menyengat. Dan keliru untuk menamainya sebagai parfum yang memikat.

Bulan purnama selalu menampilkan keindahannya dalam kemisteriusan penglihatan penikmatnya. Tak akan pernah diketahui daya pikatnya bila ia tak berkawan dengan gelap malam. Sungguh sebuah lukisan yang rupawan.

Purnama menyimpan rahasianya. Seperti bulan yang berganti rupa. Dari kecil, mungi, membentuk sabit hingga sempurna purnama. Dan setelah pemandangan menakjubkan maka bulan telah siap untuk kembali pada bentuk awalnya.

Bukankah ini rahasia alam. Segala sesuatu yang berawal akan kembali menjadi bentuk aslinya pada akhir perjalanan. Getir. Bila yang ia rasakan ini tak lagi nyata. Hanya bait – bait indah yang membentuk lagu pengantar tidur anak – anak kecil yang merindukan mimpi.

Bagaimanakah dia sanggup bertahan dalam angin malam yang sungguh menyakitkan. Peristirahatan terakhirnya sebelum pekuburan ini menyembunyikannya dalam kegelapan tanah dan kekosongan hati.

Bagaimanakah kita bisa mengetahui semudah itu hati terluka. Ketika berangsur – angsur dia harus mati. Bersama rasa dan akal yang dimiliki. Akan kukabulkan permintaan terakhirnya. Bila ini yang menjadi kehendak – Nya.

Adakah kehangatan di antara makam – makam pekuburan ini. Satu orang, seratus orang dan berapa banyak lagikah yang akan terluka dan mati seperti ini. Tetapi aku harus tetap menguburkannya malam ini. Karena hanya dengan kematiannya, diriku dapat kembali menghirup udara bebas. Untuk hidup dan menikmati purnama – purnama lainnya.

 

Pasuruan, 28 Januari 2012     

Pukul 23.31 WIB