I Don’t Want To Stop Just Want to Challenge My Life

Ria R. Dewanti

You can not guess what is new in life. You can just live it and have to win your life. You know life can be so much bored and suffered, it is all depend on you. It is how you manage your life. Life also can be a big challenge if you want to win the game. You have to do a great effort to afford it.  

I get several information in this few days. All are competition. A committee of Indonesian Young Islamic Leader told me that I am one of the 57 finalis that can go trough selection step one. I have to make an essay and video. It is sound interesting at first. But when I read all the requirement . . ohh . . astaghfirullah . . I think it is really hard. But you know I still have a big motivation to be a winner. So I will not give up. First, I have to read all mechanism in their website. Then I have to think deeply and explore all of my creativity to make the best essay. But the difficult one is to create a video. I hope I can meet a student from movie maker so I can learn something for my video. But I do not think so. I think I have to create it by myself. I will make a draft by drawing some picture with sentences just like a comic. Then I will make the comic becoming real by take a shoot on a suite area. It must be wonderfull. I plan to use two city for this video, they are Jember and Surabaya. Because I want to introduce my self and my background of education and organization to other people. I have to make an honesty pictue. The real one that seems so natural with my self.

Wow, wow, wow, it is a great opportunity. I will not give up. I will never stop. I have my self and I know Allah SWT is beside me. Protect me God. Makes me strong enough to make it happened.

Penyegaran dari Program Kerja ala Organisatoris

 

Oleh

Ria R. Dewanti

“apakah Anda aktif di organisasi,”

“bosan dengan program kerja yang ada,”

“ingin tahu cara me-refresh-nya. . .”

Terkadang menjalani program kerja sangatlah membosankan. Segala sesuatu yang dilakukan sama saja dari hari ke hari. Minggu ke minggu. Perlu adanya penyegaran. Penting agar tidak menjadi kejenuhan hingga akhirnya menyebabkan kemandegan lalu kemunduran dalam hal kreativitas dan kualitas organisasi.

Ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang merasa jenuh menjalani rutinitas. Konflik kecil dengan rekan kerja pun bisa menjadi hal yang berbahaya pada saat seperti ini. Bisa-bisa ketersinggungan yang biasanya bisa diselesaikan dengan mudah menjadi sulit dan memakan waktu.

Pada kondisi emosi yang tidak stabil, sebaiknya hindari berbicara terlalu banyak dengan teman-teman. Karena dikhawatirkan dapat memicu salah paham atau pun hal-hal yang bersifat personal lainnya. Persoalannya selanjutnya adalah saat menghadapi rapat harian atau pun agenda organisasi lainnya yang mensyaratkan bertemu dengan banyak orang.

Akan sangat disayangkan apabila kondisi pribadi yang cukup pelik dan bahkan terkadang tak dapat dimengerti ini disalah artikan pihak lain sebagai bagian dari karakter pribadi sebenarnya. Padahal tidak seperti itu. Apabila diteruskan, tentu hal ini akan memberi dampak yang tidak baik bagi keberlanjutan seorang pengurus di suatu organisasi. Atau pun bagi organisasi itu secara keseluruhan. Karena setiap pengurus memiliki kelebihannya masing-masing. Mereka adalah asset yang penting bagi suatu organisasi.   

Diperlukan pengertian dari sesama teman organisasi mengenai keadaan diri yang sedang tidak betul-betul sehat. Secara fisik mungkin terlihat optimal. Namun perlu disadari keadaan psikis yang tidak selalu sama dengan kondisi fisik. Teman-teman yang pengertian akan sangat membantu seorang pengurus dalam menghadapi situasi seperti ini. Itulah gunanya teman. Saling memahami dan mengerti. Bisa merasakan apa yang dirasakan temannya. Atau paling tidak berempati terhadap kondisi teman yang sedang tidak stabil.

Harus diakui seorang pengurus yang sedang mengalami kejenuhan tidak bisa menghadapi sendirian. Dukungan teman seorganisasi akan sangat membantu. Dalam titik ini, teman yang mau memberikan dukungan akan mengukuhkan ikatan solidaritas organisasi tersebut. Sebaliknya teman yang memojokkan akan membuat ikatan organisasi menjadi lemah dan renggang.

Sementara itu bagi pengurus yang sedang merasa jenuh. Melakukan rehat sejenak terhadap kegiatan organisasi sangat dianjurkan. Melakukan hobby atau mungkin menyelesaikan tugas kampus yang sempat tertunda dapat mengurangi beban bathin. Agar pikiran menjadi segar dan ide cemerlang kembali lagi. Beristirahat sebentar dari organisasi memberi waktu bagi pikiran dan badan untuk menemukan semangatnya. Setelah merasa cukup bugar, kegiatan organisasi dapat dilanjutkan seperti sedia kala.

Selamat me-refresh diri!

Apa Kabarmu Hari Ini Mawapres

 

Oleh

Ria R. Dewanti,

alumni mahasiswa berprestasi Univ. Jember 2009

Begitu banyak keinginan yang dimiliki dalam hidup ini. Begitu banyak rencana yang telah disusun. Satu per satu berusaha untuk ditepati. Seperti sebuah janji kepada diri sendiri. Mengikuti niatan hati dengan berbagai ikhtiar yang tidak kecil.

Tugas kuliah yang menumpuk, buku-buku yang harus dibaca, kegiatan organisasi yang harus disusun, pelatihan dan seminar yang menanti. Sepintas mengingatnya membuat diri menjadi lelah. Tiba-tiba saja ada keinginan untuk berhenti dari semuanya. Andai tak ada impian, tentu semuanya mudah sekali hilang. Sirna tak berbekas.

Setiap hari semangat baru harus tetap diciptakan. Keberhasilan di hari sebelumnya tak boleh melenakan diri untuk menjadi sukses hari ini.

“Apa kabarku hari ini?”

Itulah pertanyaan yang kukatakan pada diriku.

Wajar bukan. Dengan begitu padatnya kegiatan, perhatian terhadap diri harus senantiasa diutamakan. Kalau bukan kita yang memperhatikan, lalu siapa lagi yang akan kita harapkan untuk melakukannya. Tentu saja hal ini tidak dimaksudkan untuk menjadi egosentris atau pun narsistik. Walaupun ketika membahas cinta kepada diri sendiri, seringkali hal ini disalah artikan menjadi keegoisan yang berlebihan serta percaya diri di atas kewajaran.

Menulis status facebook misalnya. Beberapa orang menulis kalimat yang sarat dengan motivasi, pada dasarnya mereka sedang memberi semangat pada diri mereka sendiri. Kalimat yang sama telah memberi semangat baru untuk menjalani kehidupan. Begitu pula dengan kebiasaan meluangkan waktu beberapa menit setiap hari untuk sekedar bertanya dan mengamati perubahan apa yang sedang terjadi pada diri. Adakah sesuatu yang harus diperbaiki dengan segera. Kesehatan yang menurun, kelelahan pikiran akibat permasalahan yang membutuhkan kinerja fisik dan nalar yang cukup tinggi untuk menyelesaikannya. Bertanya kepada diri sendiri, menjadi alat evaluasi diri dan komunikasi diri.

Manfaat dari terhubungnya antara aktivitas, hati dan pikiran adalah kesatuan tindakan yang memiliki nilai kesadaran. Menghindari perbuatan yang mencederai diri, mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh diri. Terlebih lagi untuk menggapai tujuan hidup dan kesuksesan, adalah penting untuk memahami kelemahan dan kekuatan diri. Dengan demikian, seseorang dapat membedakan mana kritik membangun dan mana yang tidak perlu ditanggapi. Kritik membangun yang berasal dari lingkungan sekitar biasanya merupakan akibat dari perbuatan yang tidak pada tempatnya. Sehingga mendapat tanggapan dari lingkungan sekitar. Kritik yang membangun akan membawa nasehat yang baik, sesuatu yang memiliki potensi untuk dikembangkan guna perbaikan pribadi di masa yang akan datang. Dan sebaliknya, kritik yang tidak perlu ditanggapi adalah kritik yang sifatnya merusak, tidak memiliki faedah cenderung menjatuhkan sehingga lebih baik tidak diperhatikan. Terus berusaha dan bersemangat menjalani hari. Sesuai dengan target yang ingin dicapai. Siapkan hati yang bersih. Iringi niat baik dengan senantiasa berdoa kepada Sang Maha Pencipta.

Selamat menjalani hari!     

 

Delapan Ciri Organisasi yang Tidak Sehat

 

Oleh

 Ria R. Dewanti

Organisasi yang sehat tentu menjadi impian setiap organisatoris. Namun ternyata tidak semua organisasi dikategorikan sebagai organisasi yang sehat. Hal ini dapat diketahui melalui beberapa indikasi dan tanda-tanda. Terkadang sebuah organisasi yang sedang mengalami suatu permasalahan, dan sedang tidak beres, tidak langsung memahami bahwa dirinya diserang ‘virus’. Seperti seorang pasien yang berobat ke dokter agar sembuh. Organisasi pun membutuhkan bantuan untuk menyehatkan dirinya kembali.

Kesadaran dan pengetahuan tentang kesehatan organisasi adalah penting. Dengan mengetahui dan menyadari kondisi, akan dapat menanggulangi dan menangani virus-virus yang mengancam keutuhan dan keselamatan sedini mungkin. Adapun ciri-ciri dari organisasi yang tidak sehat adalah:

1. Terbentuk in group dan out group dalam satu kepengurusan

Sebuah organisasi dikatakan tidak sehat ketika di dalam satu periode kepengurusan terdapat in group dan out group. Pengertian dari in group atau kelompok dalam adalah suatu kelompok kepengurusan organisasi yang terlibat penuh pada setiap pengambilan kebijakan yang ditempuh organisasi serta memiliki kekuatan berupa pengaruh terhadap organisasi secara keseluruhan. Sementara itu out group atau kelompok luar adalah suatu kelompok kepengurusan organisasi yang dipinggirkan keberadaannya, dengan sengaja dibuat lemah fungsi dan perannya di organisasi, sekalipun secara struktur organisasi memiliki keabsahan.

Adanya grup-grup semacam itu di dalam tubuh organisasi akan menunjukkan ketidak kompakkan antar sesame pengurus. Biasanya hal ini disebabkan oleh kurangnya upaya untuk menyatukan seluruh pengurus. Terdapat kecenderungan pribadi atau kelompok terhadap suatu golongan berdasarkan latar belakang tertentu. Sehingga menyebabkan timbulnya keinginan untuk mengambil alih kegiatan organisasi hanya untuk golongan mereka. Akibatnya golongan lain yang mereka pinggirkan tidak dapat berperan dan berfungsi dalam kegiatan organisasi sebagaimana mestinya.

Organisasi akan dirugikan dari adanya grup-grup ini. Program kerja dan tujuan organisasi akan sulit dicapai. Karena para pengurus yang memiliki tugas dan kewajiban sesuai aturan organisasi tidak dapat bekerja secara maksimal.   

2. Keputusan rapat tidak dilakukan secara terbuka

Dalam perjalanan organisasi, rapat dilakukan secara teratur guna mengevaluasi keadaan terkini serta menyelesaikan permasalahan dan kendala yang sedang dialami organisasi. Rapat biasanya dihadiri oleh seluruh pengurus dalam suatu periode kepengurusan. Idealnya rapat diselenggarakan secara terbuka, artinya semua pengurus diundang dalam rapat dengan agenda rapat yang akan dibahas untuk menemukan kesepakatan. Dalam suatu waktu, bisa saja terjadi pengambilan keputusan rapat yang dengan sengaja tidak melibatkan seluruh pengurus. Hal ini menjadi indikasi adanya keinginan dari pihak-pihak tertentu untuk menjalankan suatu kegiatan tanpa adanya kesepakatan dan persetujuan seluruh pengurus. Oleh karena itu, biasanya sebuah organisasi sangat rapi dalam melakukan pendataan nama-nama pengurus yang hadir dalam suatu rapat.       

3. Kegiatan organisasi tidak melibatkan seluruh pengurus

Entah karena adanya perasaan tidak cocok atau keengganan yang sifatnya personal. Terkadang beberapa pengurus tidak ikut berpartisipasi dalam kegiatan organisasi. Adalah hal yang dapat dimaklumi bila ketidak hadiran pengurus tersebut dikarenakan persoalan penting yang mendesak sehingga menyebabkan dirinya berhalangan untuk hadir. Namun perlu untuk dipelajari mengenai ketidak hadiran pengurus hingga berkali-kali. Diperlukan pendekatan pengurus lainnya untuk mengetahui serbab-sebab secara pasti. Karena hal ini bisa jadi mengisyaratkan adanya ketidak puasan pengurus terhadap kegiatan organisasi.    

4. Adanya perbuatan pengurus yang bertentangan dengan aturan organisasi   

Tidak selamanya pengurus menjalankan organisasi selalu sesuai dengan aturan. Terkadang ada pula pengurus yang mengabaikan bahkan secara terang-terangan melanggar aturan organisasi. Kepatuhan pengurus terhadap aturan organisasi menunjukkan karakter dan kepribadian yang dimiliki. Pemahaman dan pengetahuan pengurus terhadap norma organisasi, tentang apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan akan mempengaruhi tingkat kepatuhan pengurus.

Kepatuhan terhadap aturan tidak akan menjadi sulit dan menyiksa jika diikuti kesadaran yang bersumber dari pengetahuan dan pengertian yang baik dan benar. Ketegasan dari kepimpinan organisasi diperlukan untuk bisa mengarahkan para pengurus sesuai dengan tujuan berorganisasi serta visi misi yang hendak dicapai dengan memperhatikan perkembangan dan kemajuan jaman. Karena terkadang sebuah organisasi tidak dapat melakukan tindakan tegas pada pengurus yang bermasalah. Sehingga apabila dibiarkan berlarut-larut, organisasi akan menjadi tidak tertib dan menimbulkan ketidakpercayaan pengurus lainnya terhadap kualitas kepemimpinan organisasi tersebut. Dengan demikian, sebuah organisasi harus bisa menghadapi dan mengantisipasi ketidak patuhan pengurus dalam berorganisasi. Misalnya melalui sistem reward and punishment (hadiah  dan hukuman).        

5. Adanya pengurus yang bersifat merusak (destroyer)

Perjalanan organisasi tidak selalu berjalan mulus. Terkadang ada beberapa hambatan dan rintangan yang harus dihadapi. Ada beberapa hal yang menghambat kemajuan organisasi. Salah satunya adalah pengurus yang bersifat merusak. Artinya pengurus tersebut memiliki perilaku dan watak kepribadian yang menimbulkan masalah bagi sekelilingnya maupun dirinya sendiri.

Watak kepribadian yang merusak antara lain; dengki, tidak rela orang lain mendapatkan kebahagiaan, ingin menghilangkan kebahagiaan yang didapatkan orang lain, melakukan upaya memecah persatuan organisasi, tidak mau introspeksi diri, ingin agar dirinya selalu benar dan menang sendiri, tidak bisa menghargai kinerja sesama pengurus, ingin menghambat kemajuan organisasi, tidak memiliki visi hidup. Watak semacam ini apabila tidak ada kesadaran dari pemiliknya untuk berubah dan memperbaiki diri, lambat laun akan mempersulit diri sendiri dan pada akhirnya akan dijauhi oleh lingkungan sekitarnya, karena tidak bermanfaat.

6. Kepemimpinan yang tidak berwibawa

Salah satu yang mendukung kemajuan sebuah organisasi adalah kepemimpinan yang berwibawa. Yaitu kepemimpinan yang mampu menjalankan program kerja organisasi dengan senantiasa berupaya mencapai tujuan berorganisasi, mampu tanggap dan peka terhadap segala permasalahan organisasi, mengantisipasi segala kemungkinan yang patut diwaspadai, menjaga keutuhan organisasi dan senantiasa menambah wawasan serta pengetahuan guna menyikapi perubahan yang terjadi. Tentunya tugas kepemimpinan tidak hanya dilakukan oleh seorang saja. Namun juga perlu didukung oleh segenap pengurus. Karena pada dasarnya, berorganisasi adalah tempat untuk belajar mengenai leadership (kepemimpinan). Kepemimpinan dalam organisasi diwujudkan dalam struktur organisasi dengan berbagai tanggung jawab serta peran fungsi yang melekat bersama posisi struktural organisasi. Selain itu, penting pula pendidikan dan pelatihan kepemimpinan di tiap organisasi yang diselenggarakan melalui up-grading kepemimpinan.

Yang menjadi masalah kemudian adalah ketika kepemimpinan organisasi tidak mampu melaksanakan tugas-tugas kepemimpinan. Sehingga tidak dapat mewujudkan stabilitas situasi dan kondisi organisasi. Dengan kata lain organisasi berada dalam keadaan goncang, banyak masalah tidak dapat diselesaikan.    

7. Persepsi yang salah mengenai tujuan berorganisasi

Landasan yang baik, benar dan tepat diperlukan setiap memulai suatu hal. Seperti membangun sebuah gedung, harus memiliki pondasi yang kuat. Apabila pondasinya rapuh, bahan-bahannya berasal dari bahan yang tidak berkualitas, atau semennya tidak murni. Maka akan menyebabkan gedung mudah keropos. Hingga yang paling parah, gedung bisa ambruk.

Begitu pula dengan berorganisasi. Tujuan awal yang baik dan benar, mengapa berorganisasi, apa yang ingin dicapai di organisasi, bagaimana cara berorganisasi, terlebih dahulu harus dipikirkan oleh seseorang yang akan berkecimpung dalam suatu organisasi.

Untuk menambah wawasan dalam mengenal tujuan berorganisasi, ada baiknya untuk bertanya kepada orang-orang yang berpengalaman dalam organisasi, membaca banyak buku organisasi dalam berbagai perspektif, serta mengamati organisasi yang ada di sekitarnya, Hal ini dapat meningkatkan kepercayaan diri dalam berorganisasi. Sehingga tidak mudah terombang-ambing oleh situasi dan tidak mudah menyerah pada saat menemui hambatan.

Tetapi pada kenyataannya, tidak semua orang memiliki tujuan yang lurus dalam berorganisasi. Entah karena terbatasnya pengetahuan yang dimiliki atau karena karakter dan watak kepribadian yang kurang baik. Namun yang jelas, persepsi yang salah  mengenai tujuan berorganisasi akan merugikan diri sendiri maupun organisasi dalam jangka pendek maupun jangka panjang.    

8. Kurangnya ketrampilan berorganisasi yang dimiliki pengurus

Semakin berpengalaman pengurus organisasi, maka semakin gesit dan tertib sebuah organisasi. Pengalaman berorganisasi akan mendidik jiwa organisatoris dan kemampuan dalam menyelenggarakan kegiatan serta menjalankan roda organisasi.

Pengurus yang kurang terampil, akan membutuhkan waktu lebih lama dalam melakukan fungsi dan perannya. Lebih jauh lagi, kurangnya pengalaman yang dimiliki pengurus akan menyebabkan kurangnya kekritisan dan kepekaan dalam menganalisa kebutuhan sebuah organisasi. Pengurus yang kurang terampil cenderung statis terhadap kegiatan dan program kerja di organisasi. Motivasi untuk melakukan inovasi dan kreatifitas dalam rangka memajukan organisasi, cenderung dihindari. Diantaranya disebabkan oleh rasa kurang percaya diri terhadap hal-hal baru yang seharusnya dapat dikembangkan di organisasi.

Demikian uraian mengenai ciri-ciri organisasi yang tidak sehat. Untuk menyembuhkan virus organisasi yang menyebabkan tidak sehat, perlu diketahui sumber permasalahan. Kemudian melakukan analisa, serta mencari tahu bagaimana solusi penyelesaiannya. Setelah itu, dengan segenap hati berusaha untuk mengobati virus-virus tersebut.

Selamat mengobati virus!

 

Belajar Organisasi Sejak Belia

 

Oleh

Ria R. Dewanti,

alumni Forum Kajian Keilmuan Hukum (FK2H)

Masih teringat jelas di benak masyarakat tentang kesemrawutan yang terjadi pada saat kongres Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Jalannya kongres dipenuhi dengan interupsi dan tidak dapat menghasilkan kesepakatan. Hal ini menjadi suatu catatan bagi perjalanan organisasi sebesar PSSI. Terlebih lagi, kongres PSSI tersebut dihadiri oleh perwakilan FIFA International yang mengikuti jalannya sidang.  

Di lain kesempatan, sebuah partai besar di Indonesia mengalami krisis kepercayaan dari publik.  Pengakuan tentang dugaan korupsi yang dilakukan kader partai membuat para petinggi partai berang. Dari kasus wisma atlet SEA GAMES hingga misteri sumber dana kampanye ketua partai menimbulkan pertanyaan dari berbagai pihak. Kasus keuangan kerap kali menjadi masalah.

Begitu banyak peristiwa yang terjadi dalam suatu organisasi. Entah organisasi tersebut berskala lokal, nasional, atau pun internasional. Sepelik apa pun masalah yang menimpa, organisasi tetap harus bertahan. Beradaptasi kemudian menemukan jalan keluar dari kesulitan yang dialami organisasi.

Terdapat beberapa hal yang dipelajari di organisasi. Pelajaran tersebut menyangkut berbagai hal yang berguna dalam kehidupan. Berikut ini yang dapat dipetik dari berorganisasi:

1. Belajar memiliki visi hidup

Pada setiap Rapat Anggota Tahunan (RAT), selalu dibahas mengenai visi dari sebuah organisasi. Visi adalah suatu pandangan yang jelas mengenai hal yang akan dicapai dan terwujud nyata. Bahkan sebelum suatu hal ada, seorang yang memiliki intuisi yang kuat akan memiliki keyakinan yang mantap bahwa hal itu akan terjadi. Visi biasanya berjumlah satu. Sementara penjabaran dari visi adalah misi. Misi bisa berjumlah lebih dari satu.

Visi perlu dalam kehidupan. Dengan memiliki visi seseorang dapat memiliki gambaran akan menjadi apakah dirinya nanti. Apakah dia adalah seorang jenderal yang menang. Apakah dia akan menjadi seorang perwira yang gigih. Meminjam istilah dari Mario Teguh (The Golden Ways, Metro Tv 24 Juli 2011, pukul 19.45), “yang dikatakan sebagai perwira sesungguhnya adalah seorang pria yang mampu menghargai wanita. Berapa banyak jenderal yang besar di hadapan prajuritnya sementara tampak tak berguna di rumah karena tidak menghargai wanita.” Hal ini berarti bahwa begitu besarnya jasa wanita dalam mendukung kesuksesan pria, sehingga pria wajib untuk menghargai wanita. Termasuk menempatkan wanita pada visinya. Dikatakan pula oleh Mario Teguh, dalam suatu kalimat yang mendidik pada seorang pria muda, “hayo, lho. . . katanya mau menikah dengan wanita hebat, mana dong semangatnya.” Tentu saja karena wanita hebat akan memilih pria hebat, jadi seorang pria muda harus belajar menjadi pria yang berkarakter. Oleh sebab itu seorang pria muda harus berjuang.        

2. Belajar melakukan dokumentasi terhadap hal penting   

Setiap hari pada kehidupan seseorang, selalu ada dokumen penting yang dikumpulkan. Seperti ijazah SD, SMP, SMA, S1. Atau pun sertifikat dan piagam penghargaan yang diperoleh karena mengikuti berbagai macam pelatihan, seminar maupun perlombaan dan kompetisi.

Dalam organisasi, ditemui pula surat masuk dan surat keluar. Agar rapi dan mudah untuk dilihat, surat-surat tersebut harus disusun menjadi satu dalam suatu map besar yang biasa disebut ‘filling cabinet’. Dalam suatu periode kepengurusan, hendaknya terdapat sebuah kumpulan surat-surat penting yang dijilid jadi satu atau dikumpulkan dalam sebuah ‘filling cabinet’. Biasanya hal ini merupakan bagian dari bidang kesekretariatan.      

3. Belajar tertib keuangan

Memiliki kesadaran terhadap jumlah pengeluaran dan pemasukan keuangan akan menghindarkan seseorang dari kekurangan uang. Sehingga setiap orang dapat menggunakan uang yang dimiliki dengan bijak dan mengutamakan kebutuhan yang utama.

Begitu pula dengan sebuah organisasi, pemahaman tentang laporan keuangan akan membawa keselamatan organisasi. Penyalah gunaan keuangan akan mempersulit diri sendiri. Terlebih lagi pada era transparansi keuangan demokrasi ekonomi saat ini. Akan lebih baik bagi para organisatoris untuk belajar jujur dalam hal keuangan. Juga bersikap tertib dalam hal pencatatan setiap transaksi keuangan dengan melampirkan setiap bukti transaksi. Hal ini terutama terkait dengan bidang kebendaharaan.   

4. Belajar merencanakan kegiatan dan berusaha menepatinya

Setiap jam dalam kehidupan, selalu ada kegiatan yang dilakukan. Entah itu kuliah, membaca buku, menulis makalah, ataupun mengikuti perlombaan dan pelatihan di suatu tempat. Setiap kegiatan yang dilakukan hendaknya telah direncanakan sebelumnya. Sehingga tidak terburu-buru dan meningkatkan peluang keberhasilan suatu kegiatan. Perencanaan kegiatan suatu organisasi dilakukan melalui serangkaian rapat-rapat guna membicarakan hal-hal apa saja mengenai penyelenggaraan kegiatan tersebut.  

5. Belajar setia pada yang baik dan benar

Organisasi adalah tempat berkumpulnya orang banyak. Berbagai macam orang memiliki berbagai karakter yang berbeda. Pergaulan di sebuah organisasi, apabila tidak didasari visi dan tujuan yang mantap akan menyebabkan diri mudah terpengaruh pada hal yang tidak baik dari teman seorganisasi. Di sinilah kesetiaan pada kebaikan dan kebenaran yang dipegang akan diuji. Sampai di manakah ketahanan diri menghadapi perbedaan karakter tersebut.

Pada kehidupan bermasyarakat nantinya, setiap orang pun akan mendapat ujian. Bagaimana cara mereka untuk dapat setia. Orang yang setia tidak mudah tergoda untuk berbuat tidak ksatria. Idealnya adalah menemukan teman-teman yang sama-sama memiliki kesetiaan pada kebenaran dan kebaikan. Namun terkadang, situasi yang dihadapi para organisatoris tidak seideal itu.   

6. Belajar melakukan evaluasi dan interospeksi diri

Setelah melakukan suatu kegiatan, suatu organisasi akan mengadakan laporan pertanggung jawaban (LPJ). Pada LPJ setiap bidang dalam kepanitiaan akan mempresentasikan kinerja mereka sebelum dan selama kegitan berlangsung. Hal yang terlihat dari sini adalah karakter panitia dalam melakukan evaluasi dan interospeksi terhadap hasil kerja mereka dalam mewujudkan terselenggaranya kegiatan.

LPJ bukanlah arena untuk saling menyalahkan antar panitia atau pengurus. LPJ merupakan saat di mana para panitia dan pengurus menyadari kelebihan dan memaafkan kekurangan mereka dalam batas kewajaran. Saling memberikan kritik yang membangun dan bermanfaat akan mempererat hubungan personal di organisasi tersebut. Diperlukan pula kemampuan untuk mendengarkan pendapat orang lain. Karena terkadang nasehat yang terdengar pahit itu lebih baik daripada mendapatkan pujian namun menyesatkan.    

7. Belajar menghadapi kesuksesan dan kegagalan   

Kegiatan yang dilakukan dengan jerih payah di sebuah organisasi, akan menghasilkan 2 hal. Yaitu kesuksesan atau kegagalan. Pada umumnya, persiapan hanya dilakukan untuk menghadapi kesuksesan. Sementara kegagalan, lalai untuk diperhatikan. Terkadang hal ini menimbulkan beban batin yang berat bagi yang belum terbiasa mengalami keduanya.

Dengan mengikuti dan aktif dalam berbagai kegiatan organisasi. Pemikiran dan mental akan turut menyesuaikan. Kesuksesan dan kegagalan dapat dimaknai dengan tenang. Kedua hal ini akan mendidik mental dan karakter seseorang untuk terus berusaha dan berkarya. Apa pun hasilnya. Tidak mudah terlena oleh sukses. Dan tidak mudah putus asa apalagi patah hati oleh kegagalan.

Demikianlah beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari kegiatan berorganisasi. Setiap organisatoris mungkin bisa menambahkan beberapa hal lainnya. Karena pelajaran bersifat personal. Dalam artian setiap orang mungkin saja memiliki pemahaman dan penilaian yang berbeda mengenai pengalaman dalam berorganisasi.

Selamat berorganisasi, para belia!

Apa Selanjutnya Setelah Mawapres

Oleh

Ria R. Dewanti, alumni mahasiswa berprestasi universitas Jember 2009

Bahagia sekali rasanya saat menjadi perwakilan fakultas dan universitas dalam ajang kompetisi mahasiswa berprestasi. Terbayar sudah jerih payah mengerjakan karya tulis ilmiah berpuluh halaman, mengumpulkan data riwayat hidup, unjuk gigi kemampuan bahasa asing serta peluh keringat mondar-mandir mengurus birokrasi di kampus. Hilang sudah segala kegugupan dan kecemasan menanti pengumuman. Ada rasa puas di dalam hati, bahwa semuanya telah selesai.

Tetapi tunggu dulu, benarkah perjuangan ini akan berakhir hanya sampai pada tahap mawapres. Benarkah ini tujuan akhir dari pengembangan diri dan memotivasi diri selama bertahun-tahun kuliah di kampus.

Hal ini mengingatkan saya pada prinsip hidup dari seorang samurai. Dia adalah seorang samurai yang disegani pada jamannya. Namun ada satu kebiasaanya. Dia tidak pernah menetap tinggal di suatu daerah dalam waktu yang lama. Setiap kali samurai ini merasa telah menyelesaikan tugasnya di suatu tempat, dia segera bergegas menuju daerah lainnya untuk mengemban tugas-tugas berikutnya. Kemudian salah seorang muridnya bertanya.

 “Sensei*, mengapa Sensei selalu berpindah-pindah tempat, bukankah di kota ini Sensei memiliki banyak kawan dan mendapatkan kebahagiaan?”, tanya murid itu.

Lalu samurai tersebut menjawab.

“Kohei*, memang benar di kota ini diriku merasa bahagia. Penduduknya ramah dan indah pula alamnya. Namun ada satu hal yang merisaukan hatiku.”

“Apakah itu sensei yang merisaukan hatimu?”

“Kohei, lihatlah aliran sungai di depan sana. Indah bukan. Airnya jernih dan bersih. Masyarakat pun bebas menggunakannya untuk mencuci baju maupun membersihkan diri. Air itu mengalir menuju tempatnya. Hingga nanti sampai diujung yang mana kita pun tidak tahu akhirnya. Apakah dia akan mengalir hingga lautan dan menguap hingga menjadi air hujan. Ataukah dia berhenti mengalir, berdiam, hingga mengendaplah dia pada sebuah genangan. Membusuk kemudian menebarkan bau menyengat bagi sekitarnya.”

“Kohei, air itu adalah kita. Sesungguhnya perbuatan baik itu akan terlihat manfaatnya apabila dilakukan secara terus menerus. Tidak berhenti. Terus mengalir. Senantiasa memberikan manfaat bagi orang-orang lain di sekitar. Dengan begitu hidup akan menjadi berarti.”

***

Demikianlah percakapan antara seorang samurai dan muridnya. Samurai itu belajar kehidupan melalui air. Bagi samurai tersebut, kehidupan laksana air. Barangsiapa tidak bisa beradaptasi dengan perubahan hidup dan zaman, maka dia akan tergilas. Zaman senantiasa berubah. Perubahan zaman menuntut pemahaman dan pengertian. Agar terus maju, manusia harus berubah. Berubah ke arah yang lebih baik tentunya.   

Perubahan zaman membawa akibat. Orang-orang yang tidak mampu beradaptasi dengan zaman, mereka akan mengikuti akibat negatif. Merasa puas, dan bangga yang terlalu pada diri dan segala yang dimiliki akan membawa kehancuran bagi diri sendiri. Padahal waktu selalu bergerak. Perubahan begitu cepat. Hari ini kaya raya. Esok pagi miskin papa. Hari ini tampan dan cantik. Esok hari menjadi keriput tak berbekas.

Bahkan dalam hidup, seorang mahasiswa berprestasi pun harus memiliki ilmunya. Ilmu kehidupan. Barang siapa tidak memiliki ilmu hidup. Dia akan susah, gelisah, tidak mengerti ke mana kehidupan akan dijalani. Untuk apa dia hidup. Bagaimana cara hidup.

Sebanyak apa pun prestasi yang didapatkan. Atau ketrampilan yang dimilki. Semuanya adalah modal. Apakah kita akan terus berkarya dan bermanfaat bagi manusia-manusia lainnya dan orang-orang yang kita cintai. Ataukah kita merasa berpuas diri kemudian memutuskan untuk berhenti di persimpangan hati.

Selamat memutuskan!

Catatan (*):

Sensei  : dalam bahasa Jepang, artinya guru atau yang lebih tua.

Kohei   : dalam bahasa Jepang, artinya murid atau yang lebih muda.