Ria R. Dewanti
Setiap orang pasti punya masa lalu. Diantaranya ada yang masih mengganjal di dalam hati. Rasanya masih belum beres. Sangat mengusik perasaan dan pikiran. Banyak orang mengatakan move on. Tapi hanya sedikit yang berhasil dengan selamat melakukannya. Biasanya moving on itu membutuhkan waktu yang lama. Sesuai dengan sebesar apa kita menaruh rasa terhadap masalah itu.
Saya ingin berbagi mengenai cara untuk berhasil moving on. Dalam arti bagaimana caranya untuk merelakan. Menerima segala yang kita alami di masa lalu. Segala kata-kata, perbuatan yang ditujukan orang lain pada kita. Mari dimaafkan semuanya. Saya tahu ini tak mudah. Saya sendiri butuh waktu beberapa tahun untuk melakukannya dengan sempurna. Dan Alhamdulillah, saya merasakan kedamaian yang luar biasa saat ini. Saya terhenyak setelah saya menyadari bahwa diri saya telah jauh berkembang lebih pesat dibanding dahulu saat saya menderita perasaan itu.
Masalah ini begitu rumit. Ada banyak hal yang saling terkait. Hingga saya kebingungan untuk menyelesaikannya dari mana dulu. Saya yakin sejak awal kalau ini bukan tentang asmara, percintaan dan sejenisnya. Saya merasa tidak mungkin kalau saya suka dengan orang itu. Saya merasa seperti kasihan pada dia. Seperti saudara mungkin. Perasaan kasihan yang berlebihan bisa jadi berbahaya. Ini kesalahan saya. Namanya best friend complex. Virus mematikan untuk persahabatan.
Saya sering menangis karena kesalah pahaman antara kami berdua. Benar-benar tertekan. Dan ini terjadi hampir 3 tahun. Kalau kalian punya sahabat karib yang sangat menyenangkan. Lalu kalian bertengkar. Tak tahu apa sebabnya. Kemudian saling benci satu sama lain. Paling menyakitkan adalah saat dia mengeluarkan kata-kata yang menyudutkan dan merendahkan pada saya. Dia membuat saya menangis berhari-hari. Saya berusaha keras memperbaiki persahabatan kami. Namun segalanya makin memburuk. Saya menghapus semua akun profil dirinya di mana pun. Saya membatasi komunikasi dengannya. Saya berusaha menenangkan diri. Saat itu saya berusaha mencari apa artinya ini. Mengapa kami berdua bagaikan musuh. Padahal dulu kami saling menolong satu sama lain. Tak dipungkiri saya bersedih. Saya merasa kehilangan seorang sahabat.
Tapi kemudian pengalaman hidup ini menjadi sebuah tantangan yang menghebatkan. Saya ingat satu tahun yang lalu saya begitu terisak mengingat perbuatannya pada saya. Tapi saat ini saya malah merasa begitu tenang dengan membayangkan dia bahagia dengan hidupnya. Dan saya bahagia dengan hidup. Kami berada pada jalur masing-masing. Saya masih membatasi komunikasi dengannya. Tapi dalam hati saya telah menerima semua kenyataan ini. Begitu indah. Semua air mata, tawa, sedih, bahagia, benci dan cinta persahabatan.
Ternyata ini hanyalah soal bestfriend complex. kalau saya meninggalkannya, ini bukan berarti saya benci. Tidak ada yang menang dan tak ada yang kalah. Ini bukan pertandingan. Kami adalah sahabat. Selamanya saya harap bisa menjadi seorang teman yang baik.
Masa lalu tidak dapat diubah. Betapa pun kerasnya saya ingin hubungan saya kembali seperti dulu dengannya. Saya sadar bahwa ini tidak bisa. Saya harus meninggalkan dan melepaskan. Pernah suatu ketika emosi begitu menguasai. Air mata tak tertahan. Kebencian begitu besar. Tapi semua adalah soal waktu. Saya berhasil melampaui penderitaan ini. Saya tahu sekarang tentang penyebabnya dan penyelesaiannya. Kuncinya ada pada kesabaran dan sholat. Sabar selama 3 tahun walau hati begitu gundah. Sedih, ragu, berduka, tapi akhirnya . . fiuh . . lega juga. Saya senang keputusan untuk menjauh darinya adalah keputusan yang tepat. Bersikap tegas akan mendekatkan kita dengan kesuksesan.
Situasi ini membawa banyak perubahan pada diri dan hidup saya. Saya tidak boleh takut. Biarlah ini menjadi kehendak Allah SWT. Biarlah saya serahkan semuanya hanya pada-Nya. Saya bersyukur atas segala karunia yang Dia berikan untuk saya. Masalah ini merupakan teguran sekaligus berkah tersembunyi. Suatu saat nanti saya pasti akan tahu. Bahwa ketentuan Allah SWT adalah yang terbaik.
Selama ini menulis telah menjadi seorang teman terbaik untuk menghadapi saat-saat paling sulit dalam hidup. Tidak terduga semua telah mengubah saya menjadi sosok baru yang lebih tegar dari sebelumnya. Ada banyak waktu luang untuk mewujudkan mimpi-mimpi. Selalu ingat untuk bersyukur. Bahwa saat satu pintu telah tertutup maka pintu lain tengah terbuka. Lihatlah dan rasakan.
Selamat moving on!



