Organisasi yang Lengang

Ria R. Dewanti

Pernakah saudara berada di sebuah organisasi, mampir ke sekretariat, dan bertemu dengan pengurus yang berada di dalamnya. Lalu saudara menemukan ada sesuatu yang salah. Sesuatu yang yang tampak ganjil. Yaitu kegiatan organisasi yang nyaris tak ada. Tanpa aktivitas, agenda, maupun target. Lebih dari itu, tak tampak adanya semangat dari pengurus untuk membangun organisasi.

Sekilas tampak aneh. Tapi bagaimana bila hal inilah yang terjadi. Apa yang akan saudara lakukan sebagai bagian dari pengurus atau pun orang yang pernah aktif dalam organisasi tersebut. Tentunya hal demikian tak dapat dibiarkan. Harus dilakukan sebuah penyelesaian.

Apa yang akan terjadi bila organisasi menjadi lengang. Sepi seolah tak ada penghuni. Atau pengurus dan anggota ramai berdatangan namun yang dibahas adalah hal – hal lain di luar organisasi. Sangat menyebalkan bukan. Saudara sudah meluangkan waktu untuk datang. Tapi organisasi yang bersangkutan tidak memberikan penampilan terbaik sesuai yang saudara harapkan. Yaitu kegiatan berorganisasi yang bermanfaat dan sesuai dengan tujuan berorganisasi.

Bila hal seperti terjadi sekali atau dua kali, mungkin saudara akan berusaha memaklumi sebagai kegiatan selingan. Tapi bila hampir setiap kali datang ke sekretariat dan yang disuguhkan adalah hal semacam ini. Tentu saudara tidak bisa terima. Apalagi bila saudara termasuk orang yang idealis dalam berorganisasi dan tidak ingin bersikap gegabah dalam berorganisasi. Ini bukan masalah kecil.

Bercanda pada waktunya akan menjadi obat jenuh dalam berorganisasi. Bercakap dengan sesama teman akan meningkatkan persahabatan dan keakraban. Sehingga sewaktu – waktu diperlukan kerja sama tim maka telah ada penyesuaian diri antar pengurus. Tertawa bersama teman – teman untuk suatu hal yang disukai akan membawa kebersamaan dalam berorganisasi. Asalkan tidak berlebihan tentu semua hal itu akan bermanfaat.

Saat menemukan organisasi saudara menjadi lengang. Sebaiknya segera cari tahu penyebabnya. Dekatilah teman- teman pengurus dan anggota untuk mengetahui duduk permasalahan dengan jelas. Setelah terkumpul informasi lalu telitilah mana yang masuk akal dan mana yang tidak. Setelah melakukan penyempitan masalah komunikasikan dengan salah seorang teman yang dipercaya untuk menentukan langkah selanjutnya. Usahakan cara agar dapat mengumpulkan seluruh pengurus dan anggota untuk melakukan agenda organisasi bersama. Berinisiatiflah untuk mengutarakan pendapat secara bijak dan argumentative. Sehingga dapat memudahkan pihak lain untuk mengerti itikad baik saudara untuk mengembalikan keaktifan organisasi seperti sedia kala.

 

Selama tinggal organisasi yang lengang!       

 

 

Persepsi yang Salah dalam Berorganisasi

Ria R. Dewanti

Apa yang aku persepsikan tentang organisasi, berbeda dengan yang dimiliki teman – temanku. Bagiku sebuah organisasi haruslah memiliki jiwa. Mempunyai arah. Tapi tidak demikian bagi mereka. Menjalankan organisasi hanya dengan setengah hati. Dan aku pun menjadi setengah hati berorganisasi bersama mereka.

Selalu saja begitu. Tak dapat ditemukan kata sepakat dalam hal ini. Kami berbeda. Dan menuju arah yang berlainan. Sering kali ini menjadi hal yang menyakitkan. Betapa pun yang terbaik adalah yang sedang kami usahakan. Namun bagaimana sebuah organisasi dapat menjadi besar bila tanpa kekompakan.

Mereka ingin menuju utara. Aku ingin ke selatan. Semakin lama semakin pusing. Karena tidak kunjung temukan arah untuk bersatu. Seperti ketika teman – teman berorganisasi agar dapat menempa diri. Tetapi pertanyaannya adalah menempa diri seperti apa. Mencari kenalan di mana – mana kah. Atau sekedar berada dalam suatu posisi saja. Lantas setelah itu mau apa. Apa yang dilakukan. Bukankah ini sangat mudah. Hanya mendaftar di sebuah organisasi, setelah itu jadi pengurus. Lalu menjadi ketua. Tanpa kemampuan dan kemauan untuk membawa arah di organisasi. Sehingga ketika benar – benar terpilih menjadi ketua, kegiatan yang dilakukan tak dapat memberikan hasil yang didamkan. Organisasi menjadi sepi dari kegitan. Tanpa perhatian pengurusnya. Dan lama – lama organisasi akan ditinggalkan. Atau mungkin kembali ramai untuk suatu tujuan tertentu. Biasanya saat pemilihan ketua umum yang baru. Semua kegiatan organisasi hanya sebagai penggugur syarat. Bukan sebagai penopang keberhasilan menempa diri.

Kesalahan yang tak dapat diperbaiki

Aneh bukan, mengapa seseorang bisa begitu berambisi aktif di organisasi dengan cara begitu. Apakah sebegitu menariknya berorganisasi. Apakah itu benar. Atau salah. Apakah seseorang yang berorganisasi dengan cara demikian itu dapat dikatakan benar.

Tentu sulit untuk membuktikan kesalahan dan kekeliruan yang dilakukan seorang pengurus organisasi. Nasehat dan peringatan mungkin tidak akan pernah mempan. Lihatlah pasti kita akan berbantah – bantahn hingga ada salah satu yang memutuskan untu diam. Tetapi itu artinya membiarkan pengurus untuk tetap berada dalam kekeliruan.

Sangat menjengkelkan bila menemui orang – orang yang berbuat dan berkepribadian seperti itu. Bukan saja karena nasehat baik tidak dapat mereka dengar. Tetapi juga karena perbuatan yang mereka lakukan itu tak dapat diubah. Kalau ada orang yang mengingatkan pasti akan mereka anggap serangan. Padahal ini bisa jadi nasehat yang akan menyelamatkan hidup mereka selamanya. Sebelum terlambat.

Secara berulang – ulang dari kepengurusan yang satu ke pengurusan lainnya selalu sama. Begitu terus. Hingga kepercayaan terhadap organisasi menurun lalu menghilang. Lantas jangan kaget bila banyak kader lama menghilang. Karena perbedaan persepsi ini tadi.

Masih ingat bukan dengan filosofi air dengan minyak. Bahwa keduanya tidak dapat bersatu. Saling bertentangan dalam hal kandungan kimiawi. Sering kali digunakan untuk menggambarkan kedua pihak yang tak dapat berada dalam satu wadah. Salah dan benar itu berbeda. Tidak ada wilayah abu – abu. Hanya orang gila dan orang mabuk saja yang tidak dapat membedakan antara salah dan benar. Karena orang gila dan mabuk sudah tidak bisa menggunakan akalnya, sehingga tak dapat berpikir untuk kemudian memutuskan mana yang benar dan salah.

Pengurus yang Terus Melanggar Aturan  

Sedikit demi sedikit lama – lama menjadi bukit. Mula – mula memberanikan diri untuk melanggar aturan. Menyiasati beberapa pasal untuk melakukan ambisi. Kemudian jadi terbiasa melanggar segala aturan agar sesuai dengan apa yang diinginkan. Berusaha sebaik mungkin agar dapat memanipulasi aturan. Membuat aturan tunduk pada keinginan mereka. Menomor satukan ambisi duniawi.

Saya jadi teringat sebuah kalimat dalam ilmu hukum. Hukum untuk manusia atau manusia untuk hukum. Mana di antara keduanya yang lebih tepat. Kalau dikaitkan dengan pengurus organisasi yang memanipulasi aturan ini, mungkin kalimat yang cocok adalah hukum untuk manusia. Karena pengurus tersebut berusaha menggunakan aturan untuk memuaskan keinginan yang berkaitan dengan nafsu sebagai manusia. Walau sebenarnya ini berkonotasi negative. Semacam sindiran. Karena pada awalnya, kalimat hukum untuk manusia seringkali diutarakan oleh para penganut hukum progresif. Agar manusia tidak menjadi korban dari hukum. Hukum yang dimaksud adalah hukum positive. Yaitu yang lahir dari kekuasaan pemerintah. Sehingga hukum hanya menjadi alat yang digunakan untuk kekuasaan. Tetapi hukum seperti itu tidak memihak pada rakyat. Sehingga rakyat dirugikan.

Tetapi coba pikir bagaimana kalau kalimat hukum untuk manusia disalah artikan. Orang – orang yang hendak mengeruk kekayaan Negara lalu berusaha memanipulasi hukum agar mereka dapat lolos dari jeratan hukum. Bayangkan saja. Apa jadinya suatu Negara yang memiliki hukum seperti itu.

Saya jadi teringat dengan hukum normatif. Bahwa hukum itu tidak hanya yang berada dalam undang – undang. Namun juga yang tidak ditulis dalam undang – undang. Hukum dapat digali dan diketemukan berkaitan dengan kearifan lokal masyarakat. Hukum ditegakkan seperti seharusnya. Segala sesuatu ada aturannya. Para ahli hukum harus menggalinya.

Lihatlah betapa pertentangan antara hukum normatif dan progresif mencoba untuk menemukan solusi. Saya pikir keduanya mempunyai tujuan yang mulia. Namun bagaimana cara ahli hukum menggunakannya yang akan menentukan keberadaan dari teori – teori tersebut. Termasuk dalam masalah yang dihadapi oleh pengurus organisasi tersebut.

Selamat menemukan hukum!

Penyebab Organisasi Tidak Sehat

English: Erythrina variegata defoliated tree, ...

Image via Wikipedia

Ria R. Dewanti

Banyak yang bertanya tentang penyebab organisasi yang tidak sehat. Saya pikir penyebabnya adalah pemahaman tentang nilai yang lemah. Sehingga pengurus organisasi tidak dapat berbuat atau pun menjalankan organisasi dengan semestinya.

Yang dimaksud dengan nilai di sini adalah tentang baik atau buruk, benar atau salah, patut atau tidak. Pengurus organisasi yang memahami nilai akan dapat berlaku sesuai dengan yang diinginkan visi dan misi organisasi. Jadi dia tidak akan bertindak hanya dengan menuruti keinginan yang tidak sesuai dengan nilai yang diatur dalam sebuah organisasi.

Ketidak pedulian pengurus organisasi terhadap nilai akan menyebabkan dia bertindak sembarangan dan tidak sesuai aturan. Hal ini sangat berbahaya karena dengan demikian dia akan meletakkan keinginan yang buruk serta jahat di tempat yang pertama. Seseorang yang tidak memedulikan kebaikan dan kebenaran maka dia akan lebih dekat pada kejahatan dan keburukan.

Ketidak pedulian terhadap nilai akan melahirkan sifat malas untuk belajar. Dia akan merasa enggan dalam mempelajari cara – cara menjalankan organisasi yang baik dan benar.

Sifat yang mengabaikan nilai dalam sebuah organisasi tercermin dalam perbuatan ingin menguasai organisasi dengan cara yang tidak baik dan tidak benar. Padahal sesungguhnya sebuah organisasi didirikan dengan niat yang mulia. Sementara niat yang mulia tidak mungkin dapat terwujud dengan perbuatan yang buruk dan jahat.

Saat ini kita perhatikan betapa banyaknya seseorang yang mengikuti serta aktif dalam sebuah organisasi namun memiliki ambisi yang salah dan berlebihan. Biasanya hal ini tercermin saat pemilihan ketua umum. Pengurus organisasi berlomba membentuk kelompok dan golongan untuk mengusung seseorang yang akan mereka jagokan dalam pemilihan. Jadi sebelum pemilihan dan musyawarah berlangsung secara diam – diam mereka telah menetapkan cara – cara agar jago mereka dapat menang dalam pemilihan.

Pertanyaannya sekarang adalah apabila kelompok – kelompok pengurus organisasi telah menetapkan calon ketua umum. Lalu untuk apakah sebuah organisasi menyelenggarakan musyawarah.

Kelompok – kelompok berisi pengurus organisasi yang memiliki jago dalam pemilihan ketua umum ini akan berusaha dengan segala cara agar jago mereka dapat memenangkan pemilihan ketua umum. Sekali pun bagi saya itu bukanlah kemenangan. Dan tidak pantas untuk dibangga – banggakan. Kecuali dengan sekedarnya saja. Dan dilakukan melalui cara yang baik dan juga benar sesuai aturan.

Pengurus organisasi yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup dan keyakinan yang kuat tentang nilai akan mudah terbujuk oleh ajakan kelompok – kelompok organisasi yang menginginkan kemenangan yang tidak tulus dalam pemilihan ketua umum. Hal – hal semacam ini tidak baik dan tidak benar. Tapi pengurus organisasi yang yang tidak paham nilai tidak akan memedulikannya. Cara apa pun akan mereka gunakan agar keinginan kelompok mereka dapat terwujud.

Dia atas segalanya seharusnya kejujuran diutamakan. Karena kebaikan dan kebenaran mensyaratkan kejujuran di dalamnya. Tidak ada kebaikan yang dilakukan tanpa kejujuran. Begitu pun, tak ada kebenaran yang dilakukan tanpa kejujuran.

Sepertinya perlu ditanya di manakah hati dan akal yang biasanya menuntun manusia ke jalan yang benar. Apakah semua benar – benar sudah berubah. Setahu saya tidak banyak yang berubah pada hati dan akal yang dimiliki manusia pertama hingga saat ini. Tetap sama dalam member nilai sesuatu.

Sebenarnya apa yang menjadi dasar pemikiran dari para pengurus organisasi yang sengaja mempermainkan aturan dan norma dalam organisasi. Apakah mereka akan merasa puas dan bahagia bila jago mereka menang dalam pemilihan ketua umum. Aneh sekali. Bukankah ini tidak mencerminkan perbuatan dari seorang filsuf yang mengerti ilmu pengetahuan. Terlebih lagi bila pelakunya adalah mahasiswa dan para sarjana.

Seolah tidak ada lagi ilmuwan yang tersisa saat ini. Semua menjadi tak lebih dari seorang manusia yang begitu mengagungkan dunia dan menginjak kebenaran dan kebaikan dengan kedua kakinya.

Selanjutnya yang terjadi adalah ketua umum yang tidak memiliki kompetensi yang sesungguhnya dibebani oleh tanggung jawab besar yang tidak mampu ia penuhi. Sehingga akibatnya dalam kepemimpinannya sebuah organisasi tak dapat berjalan sesuai dengan visi misi yang dimiliki. Organisasi menjadi tidak sehat. Dan pada akhirnya apabila terjadi secara terus – menerus bisa saja organisasi dapat mengakhiri riwayatnya.

Selamat berpikir, organisatoris!

Pasuruan, 27 Januari 2012     

Pukul 00.19 WIB

Delapan Ciri Organisasi yang Tidak Sehat

 

Oleh

 Ria R. Dewanti

Organisasi yang sehat tentu menjadi impian setiap organisatoris. Namun ternyata tidak semua organisasi dikategorikan sebagai organisasi yang sehat. Hal ini dapat diketahui melalui beberapa indikasi dan tanda-tanda. Terkadang sebuah organisasi yang sedang mengalami suatu permasalahan, dan sedang tidak beres, tidak langsung memahami bahwa dirinya diserang ‘virus’. Seperti seorang pasien yang berobat ke dokter agar sembuh. Organisasi pun membutuhkan bantuan untuk menyehatkan dirinya kembali.

Kesadaran dan pengetahuan tentang kesehatan organisasi adalah penting. Dengan mengetahui dan menyadari kondisi, akan dapat menanggulangi dan menangani virus-virus yang mengancam keutuhan dan keselamatan sedini mungkin. Adapun ciri-ciri dari organisasi yang tidak sehat adalah:

1. Terbentuk in group dan out group dalam satu kepengurusan

Sebuah organisasi dikatakan tidak sehat ketika di dalam satu periode kepengurusan terdapat in group dan out group. Pengertian dari in group atau kelompok dalam adalah suatu kelompok kepengurusan organisasi yang terlibat penuh pada setiap pengambilan kebijakan yang ditempuh organisasi serta memiliki kekuatan berupa pengaruh terhadap organisasi secara keseluruhan. Sementara itu out group atau kelompok luar adalah suatu kelompok kepengurusan organisasi yang dipinggirkan keberadaannya, dengan sengaja dibuat lemah fungsi dan perannya di organisasi, sekalipun secara struktur organisasi memiliki keabsahan.

Adanya grup-grup semacam itu di dalam tubuh organisasi akan menunjukkan ketidak kompakkan antar sesame pengurus. Biasanya hal ini disebabkan oleh kurangnya upaya untuk menyatukan seluruh pengurus. Terdapat kecenderungan pribadi atau kelompok terhadap suatu golongan berdasarkan latar belakang tertentu. Sehingga menyebabkan timbulnya keinginan untuk mengambil alih kegiatan organisasi hanya untuk golongan mereka. Akibatnya golongan lain yang mereka pinggirkan tidak dapat berperan dan berfungsi dalam kegiatan organisasi sebagaimana mestinya.

Organisasi akan dirugikan dari adanya grup-grup ini. Program kerja dan tujuan organisasi akan sulit dicapai. Karena para pengurus yang memiliki tugas dan kewajiban sesuai aturan organisasi tidak dapat bekerja secara maksimal.   

2. Keputusan rapat tidak dilakukan secara terbuka

Dalam perjalanan organisasi, rapat dilakukan secara teratur guna mengevaluasi keadaan terkini serta menyelesaikan permasalahan dan kendala yang sedang dialami organisasi. Rapat biasanya dihadiri oleh seluruh pengurus dalam suatu periode kepengurusan. Idealnya rapat diselenggarakan secara terbuka, artinya semua pengurus diundang dalam rapat dengan agenda rapat yang akan dibahas untuk menemukan kesepakatan. Dalam suatu waktu, bisa saja terjadi pengambilan keputusan rapat yang dengan sengaja tidak melibatkan seluruh pengurus. Hal ini menjadi indikasi adanya keinginan dari pihak-pihak tertentu untuk menjalankan suatu kegiatan tanpa adanya kesepakatan dan persetujuan seluruh pengurus. Oleh karena itu, biasanya sebuah organisasi sangat rapi dalam melakukan pendataan nama-nama pengurus yang hadir dalam suatu rapat.       

3. Kegiatan organisasi tidak melibatkan seluruh pengurus

Entah karena adanya perasaan tidak cocok atau keengganan yang sifatnya personal. Terkadang beberapa pengurus tidak ikut berpartisipasi dalam kegiatan organisasi. Adalah hal yang dapat dimaklumi bila ketidak hadiran pengurus tersebut dikarenakan persoalan penting yang mendesak sehingga menyebabkan dirinya berhalangan untuk hadir. Namun perlu untuk dipelajari mengenai ketidak hadiran pengurus hingga berkali-kali. Diperlukan pendekatan pengurus lainnya untuk mengetahui serbab-sebab secara pasti. Karena hal ini bisa jadi mengisyaratkan adanya ketidak puasan pengurus terhadap kegiatan organisasi.    

4. Adanya perbuatan pengurus yang bertentangan dengan aturan organisasi   

Tidak selamanya pengurus menjalankan organisasi selalu sesuai dengan aturan. Terkadang ada pula pengurus yang mengabaikan bahkan secara terang-terangan melanggar aturan organisasi. Kepatuhan pengurus terhadap aturan organisasi menunjukkan karakter dan kepribadian yang dimiliki. Pemahaman dan pengetahuan pengurus terhadap norma organisasi, tentang apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan akan mempengaruhi tingkat kepatuhan pengurus.

Kepatuhan terhadap aturan tidak akan menjadi sulit dan menyiksa jika diikuti kesadaran yang bersumber dari pengetahuan dan pengertian yang baik dan benar. Ketegasan dari kepimpinan organisasi diperlukan untuk bisa mengarahkan para pengurus sesuai dengan tujuan berorganisasi serta visi misi yang hendak dicapai dengan memperhatikan perkembangan dan kemajuan jaman. Karena terkadang sebuah organisasi tidak dapat melakukan tindakan tegas pada pengurus yang bermasalah. Sehingga apabila dibiarkan berlarut-larut, organisasi akan menjadi tidak tertib dan menimbulkan ketidakpercayaan pengurus lainnya terhadap kualitas kepemimpinan organisasi tersebut. Dengan demikian, sebuah organisasi harus bisa menghadapi dan mengantisipasi ketidak patuhan pengurus dalam berorganisasi. Misalnya melalui sistem reward and punishment (hadiah  dan hukuman).        

5. Adanya pengurus yang bersifat merusak (destroyer)

Perjalanan organisasi tidak selalu berjalan mulus. Terkadang ada beberapa hambatan dan rintangan yang harus dihadapi. Ada beberapa hal yang menghambat kemajuan organisasi. Salah satunya adalah pengurus yang bersifat merusak. Artinya pengurus tersebut memiliki perilaku dan watak kepribadian yang menimbulkan masalah bagi sekelilingnya maupun dirinya sendiri.

Watak kepribadian yang merusak antara lain; dengki, tidak rela orang lain mendapatkan kebahagiaan, ingin menghilangkan kebahagiaan yang didapatkan orang lain, melakukan upaya memecah persatuan organisasi, tidak mau introspeksi diri, ingin agar dirinya selalu benar dan menang sendiri, tidak bisa menghargai kinerja sesama pengurus, ingin menghambat kemajuan organisasi, tidak memiliki visi hidup. Watak semacam ini apabila tidak ada kesadaran dari pemiliknya untuk berubah dan memperbaiki diri, lambat laun akan mempersulit diri sendiri dan pada akhirnya akan dijauhi oleh lingkungan sekitarnya, karena tidak bermanfaat.

6. Kepemimpinan yang tidak berwibawa

Salah satu yang mendukung kemajuan sebuah organisasi adalah kepemimpinan yang berwibawa. Yaitu kepemimpinan yang mampu menjalankan program kerja organisasi dengan senantiasa berupaya mencapai tujuan berorganisasi, mampu tanggap dan peka terhadap segala permasalahan organisasi, mengantisipasi segala kemungkinan yang patut diwaspadai, menjaga keutuhan organisasi dan senantiasa menambah wawasan serta pengetahuan guna menyikapi perubahan yang terjadi. Tentunya tugas kepemimpinan tidak hanya dilakukan oleh seorang saja. Namun juga perlu didukung oleh segenap pengurus. Karena pada dasarnya, berorganisasi adalah tempat untuk belajar mengenai leadership (kepemimpinan). Kepemimpinan dalam organisasi diwujudkan dalam struktur organisasi dengan berbagai tanggung jawab serta peran fungsi yang melekat bersama posisi struktural organisasi. Selain itu, penting pula pendidikan dan pelatihan kepemimpinan di tiap organisasi yang diselenggarakan melalui up-grading kepemimpinan.

Yang menjadi masalah kemudian adalah ketika kepemimpinan organisasi tidak mampu melaksanakan tugas-tugas kepemimpinan. Sehingga tidak dapat mewujudkan stabilitas situasi dan kondisi organisasi. Dengan kata lain organisasi berada dalam keadaan goncang, banyak masalah tidak dapat diselesaikan.    

7. Persepsi yang salah mengenai tujuan berorganisasi

Landasan yang baik, benar dan tepat diperlukan setiap memulai suatu hal. Seperti membangun sebuah gedung, harus memiliki pondasi yang kuat. Apabila pondasinya rapuh, bahan-bahannya berasal dari bahan yang tidak berkualitas, atau semennya tidak murni. Maka akan menyebabkan gedung mudah keropos. Hingga yang paling parah, gedung bisa ambruk.

Begitu pula dengan berorganisasi. Tujuan awal yang baik dan benar, mengapa berorganisasi, apa yang ingin dicapai di organisasi, bagaimana cara berorganisasi, terlebih dahulu harus dipikirkan oleh seseorang yang akan berkecimpung dalam suatu organisasi.

Untuk menambah wawasan dalam mengenal tujuan berorganisasi, ada baiknya untuk bertanya kepada orang-orang yang berpengalaman dalam organisasi, membaca banyak buku organisasi dalam berbagai perspektif, serta mengamati organisasi yang ada di sekitarnya, Hal ini dapat meningkatkan kepercayaan diri dalam berorganisasi. Sehingga tidak mudah terombang-ambing oleh situasi dan tidak mudah menyerah pada saat menemui hambatan.

Tetapi pada kenyataannya, tidak semua orang memiliki tujuan yang lurus dalam berorganisasi. Entah karena terbatasnya pengetahuan yang dimiliki atau karena karakter dan watak kepribadian yang kurang baik. Namun yang jelas, persepsi yang salah  mengenai tujuan berorganisasi akan merugikan diri sendiri maupun organisasi dalam jangka pendek maupun jangka panjang.    

8. Kurangnya ketrampilan berorganisasi yang dimiliki pengurus

Semakin berpengalaman pengurus organisasi, maka semakin gesit dan tertib sebuah organisasi. Pengalaman berorganisasi akan mendidik jiwa organisatoris dan kemampuan dalam menyelenggarakan kegiatan serta menjalankan roda organisasi.

Pengurus yang kurang terampil, akan membutuhkan waktu lebih lama dalam melakukan fungsi dan perannya. Lebih jauh lagi, kurangnya pengalaman yang dimiliki pengurus akan menyebabkan kurangnya kekritisan dan kepekaan dalam menganalisa kebutuhan sebuah organisasi. Pengurus yang kurang terampil cenderung statis terhadap kegiatan dan program kerja di organisasi. Motivasi untuk melakukan inovasi dan kreatifitas dalam rangka memajukan organisasi, cenderung dihindari. Diantaranya disebabkan oleh rasa kurang percaya diri terhadap hal-hal baru yang seharusnya dapat dikembangkan di organisasi.

Demikian uraian mengenai ciri-ciri organisasi yang tidak sehat. Untuk menyembuhkan virus organisasi yang menyebabkan tidak sehat, perlu diketahui sumber permasalahan. Kemudian melakukan analisa, serta mencari tahu bagaimana solusi penyelesaiannya. Setelah itu, dengan segenap hati berusaha untuk mengobati virus-virus tersebut.

Selamat mengobati virus!