Persepsi yang Salah dalam Berorganisasi

Ria R. Dewanti

Apa yang aku persepsikan tentang organisasi, berbeda dengan yang dimiliki teman – temanku. Bagiku sebuah organisasi haruslah memiliki jiwa. Mempunyai arah. Tapi tidak demikian bagi mereka. Menjalankan organisasi hanya dengan setengah hati. Dan aku pun menjadi setengah hati berorganisasi bersama mereka.

Selalu saja begitu. Tak dapat ditemukan kata sepakat dalam hal ini. Kami berbeda. Dan menuju arah yang berlainan. Sering kali ini menjadi hal yang menyakitkan. Betapa pun yang terbaik adalah yang sedang kami usahakan. Namun bagaimana sebuah organisasi dapat menjadi besar bila tanpa kekompakan.

Mereka ingin menuju utara. Aku ingin ke selatan. Semakin lama semakin pusing. Karena tidak kunjung temukan arah untuk bersatu. Seperti ketika teman – teman berorganisasi agar dapat menempa diri. Tetapi pertanyaannya adalah menempa diri seperti apa. Mencari kenalan di mana – mana kah. Atau sekedar berada dalam suatu posisi saja. Lantas setelah itu mau apa. Apa yang dilakukan. Bukankah ini sangat mudah. Hanya mendaftar di sebuah organisasi, setelah itu jadi pengurus. Lalu menjadi ketua. Tanpa kemampuan dan kemauan untuk membawa arah di organisasi. Sehingga ketika benar – benar terpilih menjadi ketua, kegiatan yang dilakukan tak dapat memberikan hasil yang didamkan. Organisasi menjadi sepi dari kegitan. Tanpa perhatian pengurusnya. Dan lama – lama organisasi akan ditinggalkan. Atau mungkin kembali ramai untuk suatu tujuan tertentu. Biasanya saat pemilihan ketua umum yang baru. Semua kegiatan organisasi hanya sebagai penggugur syarat. Bukan sebagai penopang keberhasilan menempa diri.

Kesalahan yang tak dapat diperbaiki

Aneh bukan, mengapa seseorang bisa begitu berambisi aktif di organisasi dengan cara begitu. Apakah sebegitu menariknya berorganisasi. Apakah itu benar. Atau salah. Apakah seseorang yang berorganisasi dengan cara demikian itu dapat dikatakan benar.

Tentu sulit untuk membuktikan kesalahan dan kekeliruan yang dilakukan seorang pengurus organisasi. Nasehat dan peringatan mungkin tidak akan pernah mempan. Lihatlah pasti kita akan berbantah – bantahn hingga ada salah satu yang memutuskan untu diam. Tetapi itu artinya membiarkan pengurus untuk tetap berada dalam kekeliruan.

Sangat menjengkelkan bila menemui orang – orang yang berbuat dan berkepribadian seperti itu. Bukan saja karena nasehat baik tidak dapat mereka dengar. Tetapi juga karena perbuatan yang mereka lakukan itu tak dapat diubah. Kalau ada orang yang mengingatkan pasti akan mereka anggap serangan. Padahal ini bisa jadi nasehat yang akan menyelamatkan hidup mereka selamanya. Sebelum terlambat.

Secara berulang – ulang dari kepengurusan yang satu ke pengurusan lainnya selalu sama. Begitu terus. Hingga kepercayaan terhadap organisasi menurun lalu menghilang. Lantas jangan kaget bila banyak kader lama menghilang. Karena perbedaan persepsi ini tadi.

Masih ingat bukan dengan filosofi air dengan minyak. Bahwa keduanya tidak dapat bersatu. Saling bertentangan dalam hal kandungan kimiawi. Sering kali digunakan untuk menggambarkan kedua pihak yang tak dapat berada dalam satu wadah. Salah dan benar itu berbeda. Tidak ada wilayah abu – abu. Hanya orang gila dan orang mabuk saja yang tidak dapat membedakan antara salah dan benar. Karena orang gila dan mabuk sudah tidak bisa menggunakan akalnya, sehingga tak dapat berpikir untuk kemudian memutuskan mana yang benar dan salah.

Pengurus yang Terus Melanggar Aturan  

Sedikit demi sedikit lama – lama menjadi bukit. Mula – mula memberanikan diri untuk melanggar aturan. Menyiasati beberapa pasal untuk melakukan ambisi. Kemudian jadi terbiasa melanggar segala aturan agar sesuai dengan apa yang diinginkan. Berusaha sebaik mungkin agar dapat memanipulasi aturan. Membuat aturan tunduk pada keinginan mereka. Menomor satukan ambisi duniawi.

Saya jadi teringat sebuah kalimat dalam ilmu hukum. Hukum untuk manusia atau manusia untuk hukum. Mana di antara keduanya yang lebih tepat. Kalau dikaitkan dengan pengurus organisasi yang memanipulasi aturan ini, mungkin kalimat yang cocok adalah hukum untuk manusia. Karena pengurus tersebut berusaha menggunakan aturan untuk memuaskan keinginan yang berkaitan dengan nafsu sebagai manusia. Walau sebenarnya ini berkonotasi negative. Semacam sindiran. Karena pada awalnya, kalimat hukum untuk manusia seringkali diutarakan oleh para penganut hukum progresif. Agar manusia tidak menjadi korban dari hukum. Hukum yang dimaksud adalah hukum positive. Yaitu yang lahir dari kekuasaan pemerintah. Sehingga hukum hanya menjadi alat yang digunakan untuk kekuasaan. Tetapi hukum seperti itu tidak memihak pada rakyat. Sehingga rakyat dirugikan.

Tetapi coba pikir bagaimana kalau kalimat hukum untuk manusia disalah artikan. Orang – orang yang hendak mengeruk kekayaan Negara lalu berusaha memanipulasi hukum agar mereka dapat lolos dari jeratan hukum. Bayangkan saja. Apa jadinya suatu Negara yang memiliki hukum seperti itu.

Saya jadi teringat dengan hukum normatif. Bahwa hukum itu tidak hanya yang berada dalam undang – undang. Namun juga yang tidak ditulis dalam undang – undang. Hukum dapat digali dan diketemukan berkaitan dengan kearifan lokal masyarakat. Hukum ditegakkan seperti seharusnya. Segala sesuatu ada aturannya. Para ahli hukum harus menggalinya.

Lihatlah betapa pertentangan antara hukum normatif dan progresif mencoba untuk menemukan solusi. Saya pikir keduanya mempunyai tujuan yang mulia. Namun bagaimana cara ahli hukum menggunakannya yang akan menentukan keberadaan dari teori – teori tersebut. Termasuk dalam masalah yang dihadapi oleh pengurus organisasi tersebut.

Selamat menemukan hukum!

Out of Place (Organisatoris Salah Tempat)

 

Oleh

Ria R. Dewanti

Pernahkah anda merasa salah tempat. Bahwa tempat yang anda diami saat ini bukanlah tempat yang sebenarnya anda tinggali. Keadaan atau pun situasi yang terjadi tidak sesuai dengan hati anda. Seperti ada yang salah dan tidak sesuai. Tetapi anda tak bisa menjelaskan penyebabnya. Tidak ada yang mengerti apa anda pikirkan atau rasakan.

Itulah yang pernah saya alami saat masih aktif di beberapa organisasi di kampus. Banyak hal yang terjadi di organisasi tidak sesuai dengan diri saya. Saat organisasi berjalan tanpa arah. Sementara teman-teman lainnya tak perduli dengan keheranan saya. Entah apa yang ada di pikiran teman-teman saya saat itu.

Banyak hal tidak terjadi seperti seharusnya. Namun yang lain hanya diam. Tidak perduli terhadap tantangan yang seharusnya dihadapi. Tantangan yang sebenarnya bisa saja menghancurkan keutuhan sebuah organisasi yang dicintai. Tidak lagi menjadi tempat untuk berkembang. Melainkan arena untuk saling membunuh antar pengurus.

Seperti ketika saya menemukan beberapa pengurus yang memiliki sifat tercela. Bukannya memberikan peringatan atau nasehat. Pengurus lainnya seolah membiarkan hal itu terjadi. Apakah pengurus yang berbuat tidak baik itu memiliki kesamaan sifat dengan pengurus lainnya. Atau kah para pengurus sudah kehilangan daya kritis dan ketangguhan dalam membela kebaikan dan kebenaran.

Kedengarannya memang agak klise. Namun apa manfaat menjadi pengurus organisasi kalau tidak memiliki prinsip dan visi hidup yang mulia. Saya pikir organisasi adalah tempat untuk mengembangkan potensi diri dan menggali kemampuan yang terpendam sehingga bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

Lebih mendasar lagi apa gunanya seorang manusia hidup. Apabila tidak memiliki penghargaan terhadap aturan Tuhan. Tidak menghargai kebaikan. Bagaimana sebuah organisasi bisa maju. Padahal usia manusia tidak ada yang tahu. Masa menjadi mahasiswa adalah masa muda yang tidak terulang lagi. Selagi masih muda tentunya harus berusaha menjadi baik. Untuk bekal di kemudian hari. Di masa depan yang tidak ketahui ujung perjalanannya.

Beberapa organisasi didiami oleh orang-orang berbahaya yang menyesatkan. Dalam arti mereka kehilangan kendali terhadap apa yang harus mereka lakukan dan apa yang tidak boleh mereka lakukan. Dan parahnya orang-orang semacam itulah yang paling ambisius dalam meraih control atas sebuah organisasi. Pengurus yang berusaha mengingatkan dan berbuat baik sengaja ditinggalkan dan dicari kesalahannya. Agar tidak menghalangi maksud yang tidak baik dari orang-orang tersebut.

Menghadapi orang-orang semacam itu terkadang membuat saya merasa out of place. Saya merasa berada di tempat yang salah. Saya menjadi sangat heran dengan pengurus yang saya hadapi. Sementara dalam hati, selalu ada dorongan untuk meluruskan hal-hal yang semrawut semacam itu. Saya sadar resiko yang saya hadapi. Pengurus yang berniat buruk tentu tidak akan senang diingatkan tentang kebaikan. Sekali pun kebaikan itu untuk diri mereka sendiri. Mereka bagus untuk diri mereka. Perbuatan jahat pun pasti akan kembali kepada pemiliknya.

Namun sayangnya, telinga, mata dan hati mereka masih tertutup untuk itu. Karena yang ada hanya keegoisan dan kesombongan semata. Tidak mau menerima kebenaran dan kebaikan sebagai adanya. Berpura-pura tidak mengetahui kejahatan. Tidak mau bertindak tegas terhadap orang-orang yang berbuat tidak baik dan tidak benar. Sehingga menyebabkan perbuatan tidak baik it uterus berlarut-larut. Semakin parah hingga pada akhirnya merusak diri mereka sendiri. Menghancurkan segala apa yang mereka banggakan secara berangsur-angsur.    

 

Ketua Atau Pemimpin

 

Oleh

Ria R. Dewanti

Tulisan ini dibuat atas dasar kegalauan hatiku tentang fenomena yang kutemui selama aku kuliah di sarjana strata 1. Kejadian yang mengusik nalar dan pikiranku. Tak kunjung aku temukan jawabannya sekali pun beberapa karya tulis telah ku buat. Dan puluhan atau bahkan banyak artikel lainnya aku baca. Aku tetap merisaukannya. Masalah ini tetap ku temui. Tidak saja di kalangan mahasiswa di mana aku sempat berada. Namun juga di kalangan pemerintahan yang sering aku amati di layar kaca maupun surat kabar.

Sesuatu hal telah merasuk dalam peristiwa ini. Menyebabkan kekacauan terjadi di mana-mana. Di segala usia maupun tempat. Segalanya menjadi tidak terbendung. Tidak diketahui dari mana hal ini berasal. Tiba-tiba saja semua seolah terhanyut. Pada aliran yang merusak. Kehilangan kendali terhadap aturan dan keyakinan pada kebenaran keadilan. Semua seolah menjadi klise. Kehilangan kewibawaan. Tidak bisa diharapkan. Tinggal menunggu saat kehancuran saja.

Berapa banyak orang-orang yang berpengetahuan. Mencoba berbuat baik dan benar. Melakukan pertolongan terhadap tatanan masyarakat yang hampir ambruk. Tapi itu pun akan percuma. Apabila masyarakat yang mengalami sendiri tidak berusaha melakukan perubahan. Mengubah pemikiran mereka. Mengubah pandangan mereka. Mencari kesadaran yang selama ini terbuang. Digantikan oleh persepsi palsu yang keliru dijadikan pegangan.

Tidak ada kesadaran. Orang-orang sedang terbius oleh sesuatu yang sungguh fana. Tak berarti dan tak mau mengerti. Apa yang sedang mereka kejar. Tidak akan berpengaruh apa-apa. Keputus asaan yang pada akhirnya mereka jumpai. Tak mau menerima nasehat. Seolah mereka buta, tuli dan mati dari kebenaran. Orang-orang memakai topeng kesenangan sementara batin mereka terluka oleh perbuatan yang mereka lakukan sendiri.

Saling menyalahkan tak akan mendapatkan penyelesaian. Itulah yang terjadi bila mereka tak mau mendengar kata hati. Harga diri dan keegoisan hanya menjadi sarana pembelaan diri. Bukan sesuatu yang dijunjung tinggi.

Berada di puncak ataukah di pucuk. Orang-orang sering salah dalam memahaminya. Mereka yang berada di puncak senantiasa mendasari hati dengan niat suci yang tulus. Keinginan berlepas diri dari belenggu tiran sekalipun berada dalam diri. Ucapan yang senantiasa dilakukan menjadi pedoman. Namun mereka yang berada di pucuk tak menemukan kesejatian diri yang dimaksud. Kelemahan yang mereka miliki hanya akan menyebabkan kejatuhan sekeliling yang mereka naungi. Seperti tetesan air yang berada di pucuk daun. Tetesan air di pucuk sejatinya adalah pemberat yang melemahkan daun untuk berdiri tegak. Terus melemah hingga tetesan air itu jatuh mengalir ke bawah. Tanpa kekuatan. Tanpa manfaat.

Tetesan air yang jatuh akan merangsang tumbuhnya benih-benih tumbuhan baru yang berada di dekat pucuk daun tersebut. Benih – benih tumbuhan baru yang bertekad melakukan perubahan, membenahi ketak berhasilan air yang berada di pucuk. kegagalan untuk diserap oleh daun dan akar yang dituju.

Lalu pada akhirnya tumbuhan baru tersebut akan berkembang. Lambat laun berada di puncak. Dengan akar yang kokoh dan daun yang berdaya serap tinggi. Peka terhadap apa yang ada di sekitar. Hingga tinggi menuju ke puncak. Bersama-sama membentuk sebuah hutan hijau di atas bumi yang mendekati akhir usia.

Cerdas Berorganisasi dengan Emosi dan Spiritual

 

Oleh

Ria R. Dewanti

Beberapa tahun terakhir ini, popularitas kecerdasan emosi dan spiritual semakin meningkat. Kehidupan modern yang serba canggih tak dapat diatasi hanya dengan kecerdasan intektual. Pelatihan emosi dan spiritual pun bermunculan di mana-mana. Segala bidang kehidupan segera menjadi sasaran dari kecerdasan baru ini.

Begitu pula dengan organisasi. Selama ini pembahasan seputar organisasi, manajemen dan kepemimpinan lebih banyak dilakukan melalui perspektif fisik yang kasat mata. Sesuatu yang tampak, dapat dilihat serta terukur. Hal inilah yang menjadi ciri khas dari kecerdasan intelektual. Hal yang selama ini diagung-agungkan oleh sebagian besar pengurus maupun aktivis organisasi. Kegiatan diskusi, debat, dialektika, atau pun retorika selalu dikaitkan dengan kecerdasan yang satu ini.

Namun pada kenyataannya, cerdas secara intelektual saja tidak cukup membawa seorang kader menjadi manusia berkompeten dan bahagia. Pada prakteknya, ditemukan bahwa organisatoris yang hanya mengandalkan potensi intelektual saja tidak dapat mencapai keberhasilan seutuhnya. Keberhasilan yang dimaksud di sini adalah keberhasilan dari segi kepuasan diri terhadap segala hal yang telah dicapai dan dilakukan dengan melihat kebermanfaatan bagi lingkungan sekitarnya. Sementara sebaliknya seorang organisatoris yang cerdas secara emosi, spiritual dan intelektual lebih mampu menghadapi tantangan dan perubahan jaman.

 

Keberhasilan seorang kader dalam mengolah potensi emosi dan spiritual dapat membawanya menemukan kehidupan yang bahagia. Memang benar, emosi dan spiritual tidak dapat diukur dengan alat. Sampai saat ini belum ada alat yang dapat digunakan untuk mengukur kecerdasan tersebut. Namun tinggi rendah kualitas emosi spiritual seseorang dapat dirasakan. Orang–orang maupun lingkungan sekitar akan merasakan akibat dari tinggi atau rendahnya kualitas kecerdasan yang dimiliki seseorang. Seperti sebuah pohon yang kokoh, tinggi, berbuah lebat dan bermanfaat bagi manusia, begitulah orang cerdas emosi spiritual diibaratkan.   

Tidak mudah untuk mencapai cerdas emosi, spiritual dan intelektual. Perlu pengetahuan dan komitmen yang kuat untuk meraihnya. Sangat disayangkan apabila seseorang hanya memperhatikan kecerdasan intelektual semata. Karena dapat dipastikan hidupnya akan kering kerontang tanpa kebahagiaan sekalipun dia tercukupi secara materi. Begitulah karakteristik dari kecerdasan intelektual. Oleh karena itu, perlu pembinaan dan pelatihan sejak awal untuk menanamkan kecerdasan yang lengkap bagi seorang individu dan pribadi di organisasi.

Alkisah pada saat perang dunia ke 2. Di Jepang, tepatnya di Hiroshima yang diserang oleh bom nuklir. Seluruh gedung dan rumah penduduk yang berada di sana berada sejajar dengan tanah. Meninggalkan puing-puing yang berhamburan. Tetapi ada sebuah gedung yang tetap berdiri kokoh. Tidak mengalami kerusakan berat seperti lainnya. Gedung itu tetap tegak berdiri di tempatnya semula. Setelah diselidiki oleh para peneliti, ternyata gedung tersebut memiliki pondasi yang kuat. Pondasi yang kuat menyebabkan gedung tersebut mampu bertahan goncangan keras yang ditimbulkan oleh bom nuklir yang meluluh lantakkan gedung dan rumah lainnya.

Cerdas emosi dan spiritual diibaratkan sebagai pondasi gedung. Apabila pondasinya kuat maka kuatlah bangunan yang ada di atasnya. Dan apabila pondasinya lemah maka runtuhlah bangunan yang ada di atasnya. Setinggi apa pun  bangunan akan mudah hancur apabila tidak diawali dengan pondasi yang kuat. Seperti sebuah bangunan, begitu cerdas intelektual diibaratkan.

Para kader organisasi yang berusaha membangun emosi spiritual dengan bertahap. Sekalipun hasilnya belum tampak namun kesuksesan dan kebahagiaan telah menghampiri mereka. Karena yang dibangun adalah mental dan batin yang sangat peka terhadap goncangan menuju bangunan kesuksesan. Sementara mereka yang melalaikan diri dengan membangun cerdas intelektual tanpa memperkuat pondasi emosi spiritual, sekali pun mendapatkan kesuksesan materi dan duniawi sebenarnya keruntuhan tengah menunggu mereka.

Berapa banyak telah terjadi perusahaan besar kelas dunia dengan keuntungan milyaran dolar amerika mengalami krisis dan kebangkrutan seketika. Berapa banyak pula terjadi perusahaan yang dipimpin oleh pengusaha yang jujur dan berani berbuat baik serta benar mampu menyelamatkan perusahaan serta para karyawan yang berada di dalamnya dari PHK dan kejatuhan yang lebih besar lagi.

Perusahaan Honda adalah salah satu contohnya. Suatu ketika pernah terjadi krisis yang sangat hebat hingga menyebabkan banyak perusahaan besar di Jepang runtuh karenanya. Namun Honda mencoba bertahan. Dia bertekad untuk tidak memecat karyawannya. Dan berusaha mencari cara untuk membiayai gaji karyawan yaitu dengan menjual beberapa asset yang dimilikinya. Usaha itu berhasil dengan dukungan seluruh karyawan. Akhirnya perusahaan Honda terselamatkan dan semakin maju hingga mampu bertahan sampai sekarang.

Dengan melihat begitu pentingnya memiliki kecerdasan emosi spiritual sebagai pondasi serta kecerdasan intelektual sebagai pengembangnya. Maka perlu untuk diperhatikan betul-betul bagi segenap aktivis dan organisatoris yang hendak meraih kesuksesan dan keberhasilan dalam dunia dan akhirat. Agar senantiasa memperhatikan dan mencari ilmu bagaimana cara mempraktekkan kecerdasan emosi spiritual dalam kehidupan sehari-hari maupun berorganisasi.

Selamat mengembangkan diri!

Penyegaran dari Program Kerja ala Organisatoris

 

Oleh

Ria R. Dewanti

“apakah Anda aktif di organisasi,”

“bosan dengan program kerja yang ada,”

“ingin tahu cara me-refresh-nya. . .”

Terkadang menjalani program kerja sangatlah membosankan. Segala sesuatu yang dilakukan sama saja dari hari ke hari. Minggu ke minggu. Perlu adanya penyegaran. Penting agar tidak menjadi kejenuhan hingga akhirnya menyebabkan kemandegan lalu kemunduran dalam hal kreativitas dan kualitas organisasi.

Ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang merasa jenuh menjalani rutinitas. Konflik kecil dengan rekan kerja pun bisa menjadi hal yang berbahaya pada saat seperti ini. Bisa-bisa ketersinggungan yang biasanya bisa diselesaikan dengan mudah menjadi sulit dan memakan waktu.

Pada kondisi emosi yang tidak stabil, sebaiknya hindari berbicara terlalu banyak dengan teman-teman. Karena dikhawatirkan dapat memicu salah paham atau pun hal-hal yang bersifat personal lainnya. Persoalannya selanjutnya adalah saat menghadapi rapat harian atau pun agenda organisasi lainnya yang mensyaratkan bertemu dengan banyak orang.

Akan sangat disayangkan apabila kondisi pribadi yang cukup pelik dan bahkan terkadang tak dapat dimengerti ini disalah artikan pihak lain sebagai bagian dari karakter pribadi sebenarnya. Padahal tidak seperti itu. Apabila diteruskan, tentu hal ini akan memberi dampak yang tidak baik bagi keberlanjutan seorang pengurus di suatu organisasi. Atau pun bagi organisasi itu secara keseluruhan. Karena setiap pengurus memiliki kelebihannya masing-masing. Mereka adalah asset yang penting bagi suatu organisasi.   

Diperlukan pengertian dari sesama teman organisasi mengenai keadaan diri yang sedang tidak betul-betul sehat. Secara fisik mungkin terlihat optimal. Namun perlu disadari keadaan psikis yang tidak selalu sama dengan kondisi fisik. Teman-teman yang pengertian akan sangat membantu seorang pengurus dalam menghadapi situasi seperti ini. Itulah gunanya teman. Saling memahami dan mengerti. Bisa merasakan apa yang dirasakan temannya. Atau paling tidak berempati terhadap kondisi teman yang sedang tidak stabil.

Harus diakui seorang pengurus yang sedang mengalami kejenuhan tidak bisa menghadapi sendirian. Dukungan teman seorganisasi akan sangat membantu. Dalam titik ini, teman yang mau memberikan dukungan akan mengukuhkan ikatan solidaritas organisasi tersebut. Sebaliknya teman yang memojokkan akan membuat ikatan organisasi menjadi lemah dan renggang.

Sementara itu bagi pengurus yang sedang merasa jenuh. Melakukan rehat sejenak terhadap kegiatan organisasi sangat dianjurkan. Melakukan hobby atau mungkin menyelesaikan tugas kampus yang sempat tertunda dapat mengurangi beban bathin. Agar pikiran menjadi segar dan ide cemerlang kembali lagi. Beristirahat sebentar dari organisasi memberi waktu bagi pikiran dan badan untuk menemukan semangatnya. Setelah merasa cukup bugar, kegiatan organisasi dapat dilanjutkan seperti sedia kala.

Selamat me-refresh diri!

Jangan Paksa Saya Ikut Organisasi

 

Oleh

Ria R. Dewanti

Hidup di jaman pasar bebas, memang perlu ketelitian dan kekritisan dalam menganalisa kejadian yang ada di sekitar. Jaman yang berubah menuntut manusia untuk menyesuaikan diri dengan perubahan. Setiap hari selalu saja ada barang baru diikuti dengan iklan-iklan persuasive yang seolah menyihir jutaan pemirsa televisi maupun pembaca media massa lainnya. Hampir sulit untuk menemukan hal yang alami dalam keseharian. Di jalan raya, toko buku, pusat perbelanjaan, papan reklame warna-warni menjadi media promosi yang sukses menarik perhatian orang-orang yang berlalu lalang. Segalanya dibuat sedemikian rupa agar dapat menciptakan kesan mewah dan berkebalikan dengan situasi yang sedang dihadapi sebagian besar masyarakat. Berlebihan dan mengandung maksud tersembunyi.

Kondisi yang demikian, sedikit banyak mempengaruhi perilaku sebagian orang. Tidak mudah percaya pada iklan adalah sikap yang bijaksana. Perlu waktu dan pengetahuan yang cukup untuk menentukan apakah suatu barang dibeli karena memang dibutuhkan. Bukan karena keinginan semata akibat pengaruh dahsyatnya iklan.

Begitu pula dengan berorganisasi. Sejatinya seseorang mengikuti sebuah organisasi karena ingin menimba ilmu serta pengalaman di dalamnya. Tentu saja dengan mempertimbangkan faktor bakat, minat serta kemampuan pengolahan diri yang dimiliki terkait lamanya waktu berorganisasi.

Namun ternyata, tidak semua orang memiliki motivasi ideal semacam itu. Beberapa di antaranya bahkan mengikuti organisasi dengan alasan mengikuti bujukan teman. Ada juga yang tertarik karena gencarnya media memberitakan tersohornya alumni dari beberapa organisasi. Dan tak jarang pula ketertarikan tersebut berkembang menjadi keinginan untuk menjadi seseorang yang berhasil dari organisasi namun tanpa menjalani dan mengalami proses berorganisasi yang sewajarnya.

Ketertarikan awal seseorang untuk berorganisasi menjadi indikasi awal bagaimana perjalanan berorganisasi seorang kader nantinya. Apakah dia akan menjadi seorang kader berlian yang cemerlang dan juga mampu mewujudkan karakter organisatoris yang budiman serta cakap. Ataukah dia adalah seorang kader bawang goreng yang siap saji, instan, mengejar suatu posisi, lantas bekerja apa adanya dengan sikap membela diri berlebihan hingga tak mau introspeksi dan evaluasi diri.

Kader bagaimanakah yang diinginkan dan dicetak di sebuah organisasi. Apabila melihat kenyataan saat ini hampir-hampir seorang kader organisasi tidak mampu mengorganisasikan dirinya sendiri. Sementara di lain tempat ia menjadi sosok yang penuh ambisi atau ketidak pedulian dengan nilai tertentu yang seharusnya dia capai di organisasi.

Ada kalanya kekeliruan persepsi seorang kader dalam memahami arti nilai di organisasi menjadi sebab lemahnya peran dan minimnya kualitas diri. Sehingga dalam suatu waktu tidak terlihat perbedaan dari pribadi yang aktif berorganisasi dengan yang tidak. Lemahnya pemahaman tentang nilai, menyebabkan seorang kader kehilangan arah. Untuk apa berorganisasi.

Nilai seorang kader dalam organisasi tidak dilihat dari posisinya sebagai ketua atau bukan ketua. Tingginya kualitas serta kontribusi pemikiran dan pembenahan diri yang sebenarnya menjadi ukuran. Pengalaman berorganisasi seorang kader diukur dari kemampuannya dalam menyelesaikan dan menghadapi permasalahan yang terjadi di organisasi. Kemampuan emosi, spiritual yang baik akan diuji. Sementara kemampuan intelektuil sebenarnya hanya beberapa prosen saja pengaruhnya.

Inilah yang dimaksud dengan kesuksesan dan keberhasilan berorganisasi. Sukses karena mampu menaklukkan ambisi yang tak pada tempatnya serta bersifat merusak dan merugikan diri sendiri maupun orang banyak. Berhasil karena mampu menghasilkan karya yang orisinil dan bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang banyak.

Oleh sebab itu, berorganisasi harus diawali dengan penuh kesadaran. Dengan niat yang lurus. Tidak sekedar ikut teman tanpa mengetahui ilmunya. Atau terpengaruh bujukan promosi untuk mengikuti organisasi tertentu. Carilah informasi sebanyak-banyaknya tentang cara berorganisasi. Temukan tujuan hidup yang hakiki. Dan jangan merasa terpaksa ikut organisasi.

Selamat berorganisasi!

Delapan Ciri Organisasi yang Tidak Sehat

 

Oleh

 Ria R. Dewanti

Organisasi yang sehat tentu menjadi impian setiap organisatoris. Namun ternyata tidak semua organisasi dikategorikan sebagai organisasi yang sehat. Hal ini dapat diketahui melalui beberapa indikasi dan tanda-tanda. Terkadang sebuah organisasi yang sedang mengalami suatu permasalahan, dan sedang tidak beres, tidak langsung memahami bahwa dirinya diserang ‘virus’. Seperti seorang pasien yang berobat ke dokter agar sembuh. Organisasi pun membutuhkan bantuan untuk menyehatkan dirinya kembali.

Kesadaran dan pengetahuan tentang kesehatan organisasi adalah penting. Dengan mengetahui dan menyadari kondisi, akan dapat menanggulangi dan menangani virus-virus yang mengancam keutuhan dan keselamatan sedini mungkin. Adapun ciri-ciri dari organisasi yang tidak sehat adalah:

1. Terbentuk in group dan out group dalam satu kepengurusan

Sebuah organisasi dikatakan tidak sehat ketika di dalam satu periode kepengurusan terdapat in group dan out group. Pengertian dari in group atau kelompok dalam adalah suatu kelompok kepengurusan organisasi yang terlibat penuh pada setiap pengambilan kebijakan yang ditempuh organisasi serta memiliki kekuatan berupa pengaruh terhadap organisasi secara keseluruhan. Sementara itu out group atau kelompok luar adalah suatu kelompok kepengurusan organisasi yang dipinggirkan keberadaannya, dengan sengaja dibuat lemah fungsi dan perannya di organisasi, sekalipun secara struktur organisasi memiliki keabsahan.

Adanya grup-grup semacam itu di dalam tubuh organisasi akan menunjukkan ketidak kompakkan antar sesame pengurus. Biasanya hal ini disebabkan oleh kurangnya upaya untuk menyatukan seluruh pengurus. Terdapat kecenderungan pribadi atau kelompok terhadap suatu golongan berdasarkan latar belakang tertentu. Sehingga menyebabkan timbulnya keinginan untuk mengambil alih kegiatan organisasi hanya untuk golongan mereka. Akibatnya golongan lain yang mereka pinggirkan tidak dapat berperan dan berfungsi dalam kegiatan organisasi sebagaimana mestinya.

Organisasi akan dirugikan dari adanya grup-grup ini. Program kerja dan tujuan organisasi akan sulit dicapai. Karena para pengurus yang memiliki tugas dan kewajiban sesuai aturan organisasi tidak dapat bekerja secara maksimal.   

2. Keputusan rapat tidak dilakukan secara terbuka

Dalam perjalanan organisasi, rapat dilakukan secara teratur guna mengevaluasi keadaan terkini serta menyelesaikan permasalahan dan kendala yang sedang dialami organisasi. Rapat biasanya dihadiri oleh seluruh pengurus dalam suatu periode kepengurusan. Idealnya rapat diselenggarakan secara terbuka, artinya semua pengurus diundang dalam rapat dengan agenda rapat yang akan dibahas untuk menemukan kesepakatan. Dalam suatu waktu, bisa saja terjadi pengambilan keputusan rapat yang dengan sengaja tidak melibatkan seluruh pengurus. Hal ini menjadi indikasi adanya keinginan dari pihak-pihak tertentu untuk menjalankan suatu kegiatan tanpa adanya kesepakatan dan persetujuan seluruh pengurus. Oleh karena itu, biasanya sebuah organisasi sangat rapi dalam melakukan pendataan nama-nama pengurus yang hadir dalam suatu rapat.       

3. Kegiatan organisasi tidak melibatkan seluruh pengurus

Entah karena adanya perasaan tidak cocok atau keengganan yang sifatnya personal. Terkadang beberapa pengurus tidak ikut berpartisipasi dalam kegiatan organisasi. Adalah hal yang dapat dimaklumi bila ketidak hadiran pengurus tersebut dikarenakan persoalan penting yang mendesak sehingga menyebabkan dirinya berhalangan untuk hadir. Namun perlu untuk dipelajari mengenai ketidak hadiran pengurus hingga berkali-kali. Diperlukan pendekatan pengurus lainnya untuk mengetahui serbab-sebab secara pasti. Karena hal ini bisa jadi mengisyaratkan adanya ketidak puasan pengurus terhadap kegiatan organisasi.    

4. Adanya perbuatan pengurus yang bertentangan dengan aturan organisasi   

Tidak selamanya pengurus menjalankan organisasi selalu sesuai dengan aturan. Terkadang ada pula pengurus yang mengabaikan bahkan secara terang-terangan melanggar aturan organisasi. Kepatuhan pengurus terhadap aturan organisasi menunjukkan karakter dan kepribadian yang dimiliki. Pemahaman dan pengetahuan pengurus terhadap norma organisasi, tentang apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan akan mempengaruhi tingkat kepatuhan pengurus.

Kepatuhan terhadap aturan tidak akan menjadi sulit dan menyiksa jika diikuti kesadaran yang bersumber dari pengetahuan dan pengertian yang baik dan benar. Ketegasan dari kepimpinan organisasi diperlukan untuk bisa mengarahkan para pengurus sesuai dengan tujuan berorganisasi serta visi misi yang hendak dicapai dengan memperhatikan perkembangan dan kemajuan jaman. Karena terkadang sebuah organisasi tidak dapat melakukan tindakan tegas pada pengurus yang bermasalah. Sehingga apabila dibiarkan berlarut-larut, organisasi akan menjadi tidak tertib dan menimbulkan ketidakpercayaan pengurus lainnya terhadap kualitas kepemimpinan organisasi tersebut. Dengan demikian, sebuah organisasi harus bisa menghadapi dan mengantisipasi ketidak patuhan pengurus dalam berorganisasi. Misalnya melalui sistem reward and punishment (hadiah  dan hukuman).        

5. Adanya pengurus yang bersifat merusak (destroyer)

Perjalanan organisasi tidak selalu berjalan mulus. Terkadang ada beberapa hambatan dan rintangan yang harus dihadapi. Ada beberapa hal yang menghambat kemajuan organisasi. Salah satunya adalah pengurus yang bersifat merusak. Artinya pengurus tersebut memiliki perilaku dan watak kepribadian yang menimbulkan masalah bagi sekelilingnya maupun dirinya sendiri.

Watak kepribadian yang merusak antara lain; dengki, tidak rela orang lain mendapatkan kebahagiaan, ingin menghilangkan kebahagiaan yang didapatkan orang lain, melakukan upaya memecah persatuan organisasi, tidak mau introspeksi diri, ingin agar dirinya selalu benar dan menang sendiri, tidak bisa menghargai kinerja sesama pengurus, ingin menghambat kemajuan organisasi, tidak memiliki visi hidup. Watak semacam ini apabila tidak ada kesadaran dari pemiliknya untuk berubah dan memperbaiki diri, lambat laun akan mempersulit diri sendiri dan pada akhirnya akan dijauhi oleh lingkungan sekitarnya, karena tidak bermanfaat.

6. Kepemimpinan yang tidak berwibawa

Salah satu yang mendukung kemajuan sebuah organisasi adalah kepemimpinan yang berwibawa. Yaitu kepemimpinan yang mampu menjalankan program kerja organisasi dengan senantiasa berupaya mencapai tujuan berorganisasi, mampu tanggap dan peka terhadap segala permasalahan organisasi, mengantisipasi segala kemungkinan yang patut diwaspadai, menjaga keutuhan organisasi dan senantiasa menambah wawasan serta pengetahuan guna menyikapi perubahan yang terjadi. Tentunya tugas kepemimpinan tidak hanya dilakukan oleh seorang saja. Namun juga perlu didukung oleh segenap pengurus. Karena pada dasarnya, berorganisasi adalah tempat untuk belajar mengenai leadership (kepemimpinan). Kepemimpinan dalam organisasi diwujudkan dalam struktur organisasi dengan berbagai tanggung jawab serta peran fungsi yang melekat bersama posisi struktural organisasi. Selain itu, penting pula pendidikan dan pelatihan kepemimpinan di tiap organisasi yang diselenggarakan melalui up-grading kepemimpinan.

Yang menjadi masalah kemudian adalah ketika kepemimpinan organisasi tidak mampu melaksanakan tugas-tugas kepemimpinan. Sehingga tidak dapat mewujudkan stabilitas situasi dan kondisi organisasi. Dengan kata lain organisasi berada dalam keadaan goncang, banyak masalah tidak dapat diselesaikan.    

7. Persepsi yang salah mengenai tujuan berorganisasi

Landasan yang baik, benar dan tepat diperlukan setiap memulai suatu hal. Seperti membangun sebuah gedung, harus memiliki pondasi yang kuat. Apabila pondasinya rapuh, bahan-bahannya berasal dari bahan yang tidak berkualitas, atau semennya tidak murni. Maka akan menyebabkan gedung mudah keropos. Hingga yang paling parah, gedung bisa ambruk.

Begitu pula dengan berorganisasi. Tujuan awal yang baik dan benar, mengapa berorganisasi, apa yang ingin dicapai di organisasi, bagaimana cara berorganisasi, terlebih dahulu harus dipikirkan oleh seseorang yang akan berkecimpung dalam suatu organisasi.

Untuk menambah wawasan dalam mengenal tujuan berorganisasi, ada baiknya untuk bertanya kepada orang-orang yang berpengalaman dalam organisasi, membaca banyak buku organisasi dalam berbagai perspektif, serta mengamati organisasi yang ada di sekitarnya, Hal ini dapat meningkatkan kepercayaan diri dalam berorganisasi. Sehingga tidak mudah terombang-ambing oleh situasi dan tidak mudah menyerah pada saat menemui hambatan.

Tetapi pada kenyataannya, tidak semua orang memiliki tujuan yang lurus dalam berorganisasi. Entah karena terbatasnya pengetahuan yang dimiliki atau karena karakter dan watak kepribadian yang kurang baik. Namun yang jelas, persepsi yang salah  mengenai tujuan berorganisasi akan merugikan diri sendiri maupun organisasi dalam jangka pendek maupun jangka panjang.    

8. Kurangnya ketrampilan berorganisasi yang dimiliki pengurus

Semakin berpengalaman pengurus organisasi, maka semakin gesit dan tertib sebuah organisasi. Pengalaman berorganisasi akan mendidik jiwa organisatoris dan kemampuan dalam menyelenggarakan kegiatan serta menjalankan roda organisasi.

Pengurus yang kurang terampil, akan membutuhkan waktu lebih lama dalam melakukan fungsi dan perannya. Lebih jauh lagi, kurangnya pengalaman yang dimiliki pengurus akan menyebabkan kurangnya kekritisan dan kepekaan dalam menganalisa kebutuhan sebuah organisasi. Pengurus yang kurang terampil cenderung statis terhadap kegiatan dan program kerja di organisasi. Motivasi untuk melakukan inovasi dan kreatifitas dalam rangka memajukan organisasi, cenderung dihindari. Diantaranya disebabkan oleh rasa kurang percaya diri terhadap hal-hal baru yang seharusnya dapat dikembangkan di organisasi.

Demikian uraian mengenai ciri-ciri organisasi yang tidak sehat. Untuk menyembuhkan virus organisasi yang menyebabkan tidak sehat, perlu diketahui sumber permasalahan. Kemudian melakukan analisa, serta mencari tahu bagaimana solusi penyelesaiannya. Setelah itu, dengan segenap hati berusaha untuk mengobati virus-virus tersebut.

Selamat mengobati virus!

 

Menyelesaikan Permasalahan di Organisasi (Bagian 1)

Oleh Ria. R. Dewanti

Contoh kasus 1:

Diketahui:

Di suatu organisasi, sedang terjadi sebuah pemilihan ketua umum. Beberapa calon kandidat berusaha melakukan penarikan massa. Situasi di organisasi menjadi sedikit memanas. Apalagi para pendukung masing-masing calon mulai melancarkan usahanya agar semakin banyak anggota organisasi yang memilih calon tertentu. Cara yang digunakan pun bervariasi. Salah satunya adalah dengan melakukan ‘obral sertifikat’.   

Seorang pengurus yang merupakan pendukung salah seorang calon mencoba mendekati beberapa anggota baru. Pengurus yang disebut “A” tersebut menawarkan beberapa hal kepada anggota baru yang sebenarnya belum memahami situasi yang terjadi. Anggota baru yang disebut “B” itu sedang berusaha beradaptasi dengan lingkungan organisasi serta orang-orang yang berada di organisasi tersebut.

Pada suatu kesempatan, pengurus “A” mengajak anggota “B” berbincang bertiga bersama salah seorang calon ketua umum yang disebut “C”. Pengurus “A” dan calon ketua umum “C”  menawarkan untuk memberikan beberapa sertifikat kepada anggota baru “B”. Sertifikat yang dimaksud adalah sertifikat dari kegiatan organisasi 2 tahun yang lalu. Dan sertifikat tersebut menyatakan, bahwa dia yang disebut di dalamnya adalah anggota organisasi yang aktif dalam kegiatan yang dilakukan organisasi itu.

Anggota “B” berpikir, untuk apa sertifikat tersebut diberikan kepadanya. Sementara sertifikat tersebut sudah kadaluarsa. Anggota “B” sebagai anggota baru merasa cemas.         

Pertanyaan:

  1. Apa tujuan dari pengurus “A” dan calon ketua memberikan sertifikat tersebut?Apakah yang mereka lakukan sudah sesuai dengan aturan organisasi?
  2. Apakah benar sertifikat tersebut telah kadaluarsa (baca: tidak dapat digunakan)?
  3. Apa yang sebaiknya dilakukan oleh anggota “B”?

Penyelesaian:

 

1. Setiap orang mengikuti sebuah organisasi dengan suatu tujuan. Setiap tujuan diikuti dengan usaha untuk mencapai tujuan tersebut. Tujuan biasanya berkaitan erat dengan karakter dan kepribadian seseorang. Dalam kasus tersebut, pengurus “A” dan calon ketua umum “C” tentu memiliki suatu maksud dan tujuan. Karena pada saat itu sedang berlangsung masa kampanye pemilihan ketua umum. Ada kemungkinan bahwa pembagian setifikat yang dilakukan oleh keduanya berkaitan dengan usaha untuk mencapai keberhasilan dalam pemilihan ketua umum.

Pembagian sertifikat yang dilakukan pengurus “A” dan calon ketua umum “C”  tidak tepat sasaran dan sia-sia. Mungkin mereka mengira dengan memberikan sertifikat semacam itu, akan membuat anggota baru tertarik lantas memilih calon ketua umum “C” pada saat pemilihan umum. Tetapi tentu saja, setiap orang akan berpikir berkali-kali sebelum menerima sesuatu yang bukan menjadi miliknya. Apalagi kalau di dalam pemberian itu terjadi kejanggalan.

Kejanggalan yang terjadi adalah; pertama, sertifikat itu dikeluarkan 2 tahun yang lalu pada saat anggota “B” belum menjadi anggota di organisasi tersebut, kedua, sertifikat tersebut menyatakan bahwa nama yang ditulis telah mengikuti kegiatan organisasi, yang mana tentu saja tidak diikuti oleh anggota “B”. Kejanggalan tersebut merupakan sinyal atau tanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.  

Melihat ketidak beresan tersebut, terlebih dahulu mari dilihat kembali aturan organisasi terkait mekanisme pembagian sertifikat. Biasanya dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, pembagian sertifikat tidak diatur secara khusus atau tidak secara tertulis (tidak normatif). Namun perlu diingat, aturan organisasi tidak hanya mengenai yang tertulis saja. Terdapat aturan tidak tertulis. Aturan tidak tertulis menyangkut segala perilaku seorang organisatoris, etos kerja, serta karakter berorganisasi.

Adalah suatu pertanyaan yang patut diketahui mengenai karakter berorganisasi dan etos kerja yang dimiliki oleh pengurus “A” dan calon ketua umum “C”. Terlebih lagi calon ketua umum “C” memiliki tujuan untuk menjadi ketua umum organisasi. Apabila ia benar terpilih, akan menjadi ketua organisasi seperti apakah dirinya. Sementara itu, seorang ketua umum sangat berperan dalam membawa organisasi menuju kemajuan yang baik dan benar. Pembagian sertifikat sebagai upaya yang dilakukan calon ketua umum “C” untuk mendapatkan simpati dari anggota baru, tidak sesuai dengan etos kerja jujur. Ketidak jujuran akan menjadi hal yang berbahaya bagi perjalanan organisasi di masa yang akan datang. Dan berbahaya pula bagi masa depan dari calon ketua umum “C”. ketidak jujuran yang dilakukan oleh seorang ketua umum, tidak saja akan merugikan diri sendiri, namun juga pengurus, anggota serta organisasi secara keseluruhan.

2. Untuk mengetahui masa berlaku dari sebuah sertifikat, terlebih dahulu memahami pengertian dan fungsi sertifikat. Pengertian sertifikat adalah selembar kertas yang berisi pernyataan tertentu mengenai suatu hal atau kegiatan yang berlangsung pada suatu waktu yang dilakukan oleh nama yang ditulis dan diketahui serta ditanda tangani oleh lembaga yang berwenang mengeluarkan sertifikat tersebut. Dalam hal ini yang disebut sebagai sertifikat adalah piagam penghargaan atas prestasi, menjadi peserta, panitia, pengurus, ataupun anggota dalam suatu kegiatan organisasi dan kompetisi.

Ada beberapa hal yang menjadi unsur sebuah sertifikat; logo lembaga yang mengeluarkan sertifikat, nama pemilik sertifikat, pernyataan mengenai kegiatan yang dilakukan pemilik sertifikat, nama pihak yang menjadi wakil lembaga yang mengeluarkan sertifikat, stempel dari lembaga yang berwenang mengeluarkan sertifikat, serta tanggal dikeluarkannya sertifikat. Unsur-unsur tersebut secara umum terdapat pada setiap lembaran sertifikat.

Sementara itu, fungsi sertifikat adalah sebagai dokumentasi terhadap segala kegiatan yang dilakukan pemilik sertifikat, serta dicantumkan dalam daftar riwayat hidup. Selain itu sertifikat dapat juga menjadi bukti tertulis tentang kegiatan yang dilakukan oleh seseorang.

Mengenai pembagian sertifikat yang dilakukan pengurus “A” dan calon ketua umum “C”, kadaluarsa atau tidak dapat diperhatikan melalui tanggal dikeluarkannya sertifikat. Karena sertifikat dikeluarkan 2 tahun yang lalu, sesuai tanggal yang tercantum di dalamnya, maka sertifikat tersebut telah lewat waktu apabila diberikan saat ini. Akibat hukum dari sertifikat yang telah lewat waktu adalah sertifikat tersebut tidak berlaku. Selain lewat waktu, Pembagian sertifikat yang dilakukan pengurus “A” dan calon ketua umum “C” kepada anggota “B” mengandung unsur penipuan dan penyalah gunaan barang milik organisasi. Dalam arti, dikatakan penipuan yaitu terdapat upaya untuk mengadakan sesuatu yang tidak ada, terkait kepemilikan sertifikat dalam suatu kegiatan yang pernah dilakukan organisasi tersebut. Sasaran korban dari unsur penipuan adalah anggota “B”. Sedangkan penggunaan barang milik organisasi dengan melawan aturan organisasi merupakan suatu tindakan penyalahgunaan. Dalam hal ini yang menjadi korban dari unsur penyalah gunaan barang organisasi adalah organisasi secara keseluruhan. Oleh karena itu, sebuah organisasi harus mampu bersikap tegas terhadap pengurus atau anggota yang melakukan perbuatan melawan aturan organisasi. Kebijaksanaan seorang pemimpin dibutuhkan dalam organisasi. Di sinilah ketrampilan leadership seorang pemimpin diuji.     

3. Situasi yang dialami anggota “B” memang cukup rumit. Di satu sisi anggota “B” memahami bahwa kejanggalan yang dia alami terkait pembagian sertifikat oleh pengurus “A” dan calon ketua umum “C”, bukanlah sesuatu yang remeh atau kecil. Tetapi di lain pihak, anggota “B’ juga menyadari bahwa dirinya adalah seorang anggota baru di organisasi tersebut. Anggota “B” masih ingin aktif di organisasi tersebut. sambil mempertimbangkan bahwa ada kemungkinan tidak semua pengurus organisasi memiliki perilaku semacam itu.

Persoalannya sekarang adalah apakah anggota “B” menerima atau menolak pemberian sertifikat tersebut. Walaupun sebenarnya, tidak menjadi masalah bila anggota “B” menerima atau menolak sertifikat tersebut. karena tanpa menolak pun, sertifikat itu sudah tidak berlaku dan tidak dapat digunakan. Terlebih lagi sertifikat tersebut mengandung cacat secara hukum.

Untuk menjaga hubungan baik dengan pengurus lainnya, dan mengantisipasi terhadap kemungkinan yang terjadi selanjutnya, anggota “B” dapat menerima sertifikat tersebut. Penerimaan anggota “B” terhadap sertifikat diartikan sebagai upaya untuk mengetahui keadaan yang terjadi di organisasi sambil kemudian bersiap untuk mewaspadai segala kemungkinan.

Belajar Organisasi Sejak Belia

 

Oleh

Ria R. Dewanti,

alumni Forum Kajian Keilmuan Hukum (FK2H)

Masih teringat jelas di benak masyarakat tentang kesemrawutan yang terjadi pada saat kongres Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Jalannya kongres dipenuhi dengan interupsi dan tidak dapat menghasilkan kesepakatan. Hal ini menjadi suatu catatan bagi perjalanan organisasi sebesar PSSI. Terlebih lagi, kongres PSSI tersebut dihadiri oleh perwakilan FIFA International yang mengikuti jalannya sidang.  

Di lain kesempatan, sebuah partai besar di Indonesia mengalami krisis kepercayaan dari publik.  Pengakuan tentang dugaan korupsi yang dilakukan kader partai membuat para petinggi partai berang. Dari kasus wisma atlet SEA GAMES hingga misteri sumber dana kampanye ketua partai menimbulkan pertanyaan dari berbagai pihak. Kasus keuangan kerap kali menjadi masalah.

Begitu banyak peristiwa yang terjadi dalam suatu organisasi. Entah organisasi tersebut berskala lokal, nasional, atau pun internasional. Sepelik apa pun masalah yang menimpa, organisasi tetap harus bertahan. Beradaptasi kemudian menemukan jalan keluar dari kesulitan yang dialami organisasi.

Terdapat beberapa hal yang dipelajari di organisasi. Pelajaran tersebut menyangkut berbagai hal yang berguna dalam kehidupan. Berikut ini yang dapat dipetik dari berorganisasi:

1. Belajar memiliki visi hidup

Pada setiap Rapat Anggota Tahunan (RAT), selalu dibahas mengenai visi dari sebuah organisasi. Visi adalah suatu pandangan yang jelas mengenai hal yang akan dicapai dan terwujud nyata. Bahkan sebelum suatu hal ada, seorang yang memiliki intuisi yang kuat akan memiliki keyakinan yang mantap bahwa hal itu akan terjadi. Visi biasanya berjumlah satu. Sementara penjabaran dari visi adalah misi. Misi bisa berjumlah lebih dari satu.

Visi perlu dalam kehidupan. Dengan memiliki visi seseorang dapat memiliki gambaran akan menjadi apakah dirinya nanti. Apakah dia adalah seorang jenderal yang menang. Apakah dia akan menjadi seorang perwira yang gigih. Meminjam istilah dari Mario Teguh (The Golden Ways, Metro Tv 24 Juli 2011, pukul 19.45), “yang dikatakan sebagai perwira sesungguhnya adalah seorang pria yang mampu menghargai wanita. Berapa banyak jenderal yang besar di hadapan prajuritnya sementara tampak tak berguna di rumah karena tidak menghargai wanita.” Hal ini berarti bahwa begitu besarnya jasa wanita dalam mendukung kesuksesan pria, sehingga pria wajib untuk menghargai wanita. Termasuk menempatkan wanita pada visinya. Dikatakan pula oleh Mario Teguh, dalam suatu kalimat yang mendidik pada seorang pria muda, “hayo, lho. . . katanya mau menikah dengan wanita hebat, mana dong semangatnya.” Tentu saja karena wanita hebat akan memilih pria hebat, jadi seorang pria muda harus belajar menjadi pria yang berkarakter. Oleh sebab itu seorang pria muda harus berjuang.        

2. Belajar melakukan dokumentasi terhadap hal penting   

Setiap hari pada kehidupan seseorang, selalu ada dokumen penting yang dikumpulkan. Seperti ijazah SD, SMP, SMA, S1. Atau pun sertifikat dan piagam penghargaan yang diperoleh karena mengikuti berbagai macam pelatihan, seminar maupun perlombaan dan kompetisi.

Dalam organisasi, ditemui pula surat masuk dan surat keluar. Agar rapi dan mudah untuk dilihat, surat-surat tersebut harus disusun menjadi satu dalam suatu map besar yang biasa disebut ‘filling cabinet’. Dalam suatu periode kepengurusan, hendaknya terdapat sebuah kumpulan surat-surat penting yang dijilid jadi satu atau dikumpulkan dalam sebuah ‘filling cabinet’. Biasanya hal ini merupakan bagian dari bidang kesekretariatan.      

3. Belajar tertib keuangan

Memiliki kesadaran terhadap jumlah pengeluaran dan pemasukan keuangan akan menghindarkan seseorang dari kekurangan uang. Sehingga setiap orang dapat menggunakan uang yang dimiliki dengan bijak dan mengutamakan kebutuhan yang utama.

Begitu pula dengan sebuah organisasi, pemahaman tentang laporan keuangan akan membawa keselamatan organisasi. Penyalah gunaan keuangan akan mempersulit diri sendiri. Terlebih lagi pada era transparansi keuangan demokrasi ekonomi saat ini. Akan lebih baik bagi para organisatoris untuk belajar jujur dalam hal keuangan. Juga bersikap tertib dalam hal pencatatan setiap transaksi keuangan dengan melampirkan setiap bukti transaksi. Hal ini terutama terkait dengan bidang kebendaharaan.   

4. Belajar merencanakan kegiatan dan berusaha menepatinya

Setiap jam dalam kehidupan, selalu ada kegiatan yang dilakukan. Entah itu kuliah, membaca buku, menulis makalah, ataupun mengikuti perlombaan dan pelatihan di suatu tempat. Setiap kegiatan yang dilakukan hendaknya telah direncanakan sebelumnya. Sehingga tidak terburu-buru dan meningkatkan peluang keberhasilan suatu kegiatan. Perencanaan kegiatan suatu organisasi dilakukan melalui serangkaian rapat-rapat guna membicarakan hal-hal apa saja mengenai penyelenggaraan kegiatan tersebut.  

5. Belajar setia pada yang baik dan benar

Organisasi adalah tempat berkumpulnya orang banyak. Berbagai macam orang memiliki berbagai karakter yang berbeda. Pergaulan di sebuah organisasi, apabila tidak didasari visi dan tujuan yang mantap akan menyebabkan diri mudah terpengaruh pada hal yang tidak baik dari teman seorganisasi. Di sinilah kesetiaan pada kebaikan dan kebenaran yang dipegang akan diuji. Sampai di manakah ketahanan diri menghadapi perbedaan karakter tersebut.

Pada kehidupan bermasyarakat nantinya, setiap orang pun akan mendapat ujian. Bagaimana cara mereka untuk dapat setia. Orang yang setia tidak mudah tergoda untuk berbuat tidak ksatria. Idealnya adalah menemukan teman-teman yang sama-sama memiliki kesetiaan pada kebenaran dan kebaikan. Namun terkadang, situasi yang dihadapi para organisatoris tidak seideal itu.   

6. Belajar melakukan evaluasi dan interospeksi diri

Setelah melakukan suatu kegiatan, suatu organisasi akan mengadakan laporan pertanggung jawaban (LPJ). Pada LPJ setiap bidang dalam kepanitiaan akan mempresentasikan kinerja mereka sebelum dan selama kegitan berlangsung. Hal yang terlihat dari sini adalah karakter panitia dalam melakukan evaluasi dan interospeksi terhadap hasil kerja mereka dalam mewujudkan terselenggaranya kegiatan.

LPJ bukanlah arena untuk saling menyalahkan antar panitia atau pengurus. LPJ merupakan saat di mana para panitia dan pengurus menyadari kelebihan dan memaafkan kekurangan mereka dalam batas kewajaran. Saling memberikan kritik yang membangun dan bermanfaat akan mempererat hubungan personal di organisasi tersebut. Diperlukan pula kemampuan untuk mendengarkan pendapat orang lain. Karena terkadang nasehat yang terdengar pahit itu lebih baik daripada mendapatkan pujian namun menyesatkan.    

7. Belajar menghadapi kesuksesan dan kegagalan   

Kegiatan yang dilakukan dengan jerih payah di sebuah organisasi, akan menghasilkan 2 hal. Yaitu kesuksesan atau kegagalan. Pada umumnya, persiapan hanya dilakukan untuk menghadapi kesuksesan. Sementara kegagalan, lalai untuk diperhatikan. Terkadang hal ini menimbulkan beban batin yang berat bagi yang belum terbiasa mengalami keduanya.

Dengan mengikuti dan aktif dalam berbagai kegiatan organisasi. Pemikiran dan mental akan turut menyesuaikan. Kesuksesan dan kegagalan dapat dimaknai dengan tenang. Kedua hal ini akan mendidik mental dan karakter seseorang untuk terus berusaha dan berkarya. Apa pun hasilnya. Tidak mudah terlena oleh sukses. Dan tidak mudah putus asa apalagi patah hati oleh kegagalan.

Demikianlah beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari kegiatan berorganisasi. Setiap organisatoris mungkin bisa menambahkan beberapa hal lainnya. Karena pelajaran bersifat personal. Dalam artian setiap orang mungkin saja memiliki pemahaman dan penilaian yang berbeda mengenai pengalaman dalam berorganisasi.

Selamat berorganisasi, para belia!