Oleh
Ria R. Dewanti
Pernahkah anda merasa salah tempat. Bahwa tempat yang anda diami saat ini bukanlah tempat yang sebenarnya anda tinggali. Keadaan atau pun situasi yang terjadi tidak sesuai dengan hati anda. Seperti ada yang salah dan tidak sesuai. Tetapi anda tak bisa menjelaskan penyebabnya. Tidak ada yang mengerti apa anda pikirkan atau rasakan.
Itulah yang pernah saya alami saat masih aktif di beberapa organisasi di kampus. Banyak hal yang terjadi di organisasi tidak sesuai dengan diri saya. Saat organisasi berjalan tanpa arah. Sementara teman-teman lainnya tak perduli dengan keheranan saya. Entah apa yang ada di pikiran teman-teman saya saat itu.
Banyak hal tidak terjadi seperti seharusnya. Namun yang lain hanya diam. Tidak perduli terhadap tantangan yang seharusnya dihadapi. Tantangan yang sebenarnya bisa saja menghancurkan keutuhan sebuah organisasi yang dicintai. Tidak lagi menjadi tempat untuk berkembang. Melainkan arena untuk saling membunuh antar pengurus.
Seperti ketika saya menemukan beberapa pengurus yang memiliki sifat tercela. Bukannya memberikan peringatan atau nasehat. Pengurus lainnya seolah membiarkan hal itu terjadi. Apakah pengurus yang berbuat tidak baik itu memiliki kesamaan sifat dengan pengurus lainnya. Atau kah para pengurus sudah kehilangan daya kritis dan ketangguhan dalam membela kebaikan dan kebenaran.
Kedengarannya memang agak klise. Namun apa manfaat menjadi pengurus organisasi kalau tidak memiliki prinsip dan visi hidup yang mulia. Saya pikir organisasi adalah tempat untuk mengembangkan potensi diri dan menggali kemampuan yang terpendam sehingga bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitar.
Lebih mendasar lagi apa gunanya seorang manusia hidup. Apabila tidak memiliki penghargaan terhadap aturan Tuhan. Tidak menghargai kebaikan. Bagaimana sebuah organisasi bisa maju. Padahal usia manusia tidak ada yang tahu. Masa menjadi mahasiswa adalah masa muda yang tidak terulang lagi. Selagi masih muda tentunya harus berusaha menjadi baik. Untuk bekal di kemudian hari. Di masa depan yang tidak ketahui ujung perjalanannya.
Beberapa organisasi didiami oleh orang-orang berbahaya yang menyesatkan. Dalam arti mereka kehilangan kendali terhadap apa yang harus mereka lakukan dan apa yang tidak boleh mereka lakukan. Dan parahnya orang-orang semacam itulah yang paling ambisius dalam meraih control atas sebuah organisasi. Pengurus yang berusaha mengingatkan dan berbuat baik sengaja ditinggalkan dan dicari kesalahannya. Agar tidak menghalangi maksud yang tidak baik dari orang-orang tersebut.
Menghadapi orang-orang semacam itu terkadang membuat saya merasa out of place. Saya merasa berada di tempat yang salah. Saya menjadi sangat heran dengan pengurus yang saya hadapi. Sementara dalam hati, selalu ada dorongan untuk meluruskan hal-hal yang semrawut semacam itu. Saya sadar resiko yang saya hadapi. Pengurus yang berniat buruk tentu tidak akan senang diingatkan tentang kebaikan. Sekali pun kebaikan itu untuk diri mereka sendiri. Mereka bagus untuk diri mereka. Perbuatan jahat pun pasti akan kembali kepada pemiliknya.
Namun sayangnya, telinga, mata dan hati mereka masih tertutup untuk itu. Karena yang ada hanya keegoisan dan kesombongan semata. Tidak mau menerima kebenaran dan kebaikan sebagai adanya. Berpura-pura tidak mengetahui kejahatan. Tidak mau bertindak tegas terhadap orang-orang yang berbuat tidak baik dan tidak benar. Sehingga menyebabkan perbuatan tidak baik it uterus berlarut-larut. Semakin parah hingga pada akhirnya merusak diri mereka sendiri. Menghancurkan segala apa yang mereka banggakan secara berangsur-angsur.