Oleh
Ria R. Dewanti
Beberapa tahun terakhir ini, popularitas kecerdasan emosi dan spiritual semakin meningkat. Kehidupan modern yang serba canggih tak dapat diatasi hanya dengan kecerdasan intektual. Pelatihan emosi dan spiritual pun bermunculan di mana-mana. Segala bidang kehidupan segera menjadi sasaran dari kecerdasan baru ini.
Begitu pula dengan organisasi. Selama ini pembahasan seputar organisasi, manajemen dan kepemimpinan lebih banyak dilakukan melalui perspektif fisik yang kasat mata. Sesuatu yang tampak, dapat dilihat serta terukur. Hal inilah yang menjadi ciri khas dari kecerdasan intelektual. Hal yang selama ini diagung-agungkan oleh sebagian besar pengurus maupun aktivis organisasi. Kegiatan diskusi, debat, dialektika, atau pun retorika selalu dikaitkan dengan kecerdasan yang satu ini.
Namun pada kenyataannya, cerdas secara intelektual saja tidak cukup membawa seorang kader menjadi manusia berkompeten dan bahagia. Pada prakteknya, ditemukan bahwa organisatoris yang hanya mengandalkan potensi intelektual saja tidak dapat mencapai keberhasilan seutuhnya. Keberhasilan yang dimaksud di sini adalah keberhasilan dari segi kepuasan diri terhadap segala hal yang telah dicapai dan dilakukan dengan melihat kebermanfaatan bagi lingkungan sekitarnya. Sementara sebaliknya seorang organisatoris yang cerdas secara emosi, spiritual dan intelektual lebih mampu menghadapi tantangan dan perubahan jaman.
Keberhasilan seorang kader dalam mengolah potensi emosi dan spiritual dapat membawanya menemukan kehidupan yang bahagia. Memang benar, emosi dan spiritual tidak dapat diukur dengan alat. Sampai saat ini belum ada alat yang dapat digunakan untuk mengukur kecerdasan tersebut. Namun tinggi rendah kualitas emosi spiritual seseorang dapat dirasakan. Orang–orang maupun lingkungan sekitar akan merasakan akibat dari tinggi atau rendahnya kualitas kecerdasan yang dimiliki seseorang. Seperti sebuah pohon yang kokoh, tinggi, berbuah lebat dan bermanfaat bagi manusia, begitulah orang cerdas emosi spiritual diibaratkan.
Tidak mudah untuk mencapai cerdas emosi, spiritual dan intelektual. Perlu pengetahuan dan komitmen yang kuat untuk meraihnya. Sangat disayangkan apabila seseorang hanya memperhatikan kecerdasan intelektual semata. Karena dapat dipastikan hidupnya akan kering kerontang tanpa kebahagiaan sekalipun dia tercukupi secara materi. Begitulah karakteristik dari kecerdasan intelektual. Oleh karena itu, perlu pembinaan dan pelatihan sejak awal untuk menanamkan kecerdasan yang lengkap bagi seorang individu dan pribadi di organisasi.
Alkisah pada saat perang dunia ke 2. Di Jepang, tepatnya di Hiroshima yang diserang oleh bom nuklir. Seluruh gedung dan rumah penduduk yang berada di sana berada sejajar dengan tanah. Meninggalkan puing-puing yang berhamburan. Tetapi ada sebuah gedung yang tetap berdiri kokoh. Tidak mengalami kerusakan berat seperti lainnya. Gedung itu tetap tegak berdiri di tempatnya semula. Setelah diselidiki oleh para peneliti, ternyata gedung tersebut memiliki pondasi yang kuat. Pondasi yang kuat menyebabkan gedung tersebut mampu bertahan goncangan keras yang ditimbulkan oleh bom nuklir yang meluluh lantakkan gedung dan rumah lainnya.
Cerdas emosi dan spiritual diibaratkan sebagai pondasi gedung. Apabila pondasinya kuat maka kuatlah bangunan yang ada di atasnya. Dan apabila pondasinya lemah maka runtuhlah bangunan yang ada di atasnya. Setinggi apa pun bangunan akan mudah hancur apabila tidak diawali dengan pondasi yang kuat. Seperti sebuah bangunan, begitu cerdas intelektual diibaratkan.
Para kader organisasi yang berusaha membangun emosi spiritual dengan bertahap. Sekalipun hasilnya belum tampak namun kesuksesan dan kebahagiaan telah menghampiri mereka. Karena yang dibangun adalah mental dan batin yang sangat peka terhadap goncangan menuju bangunan kesuksesan. Sementara mereka yang melalaikan diri dengan membangun cerdas intelektual tanpa memperkuat pondasi emosi spiritual, sekali pun mendapatkan kesuksesan materi dan duniawi sebenarnya keruntuhan tengah menunggu mereka.
Berapa banyak telah terjadi perusahaan besar kelas dunia dengan keuntungan milyaran dolar amerika mengalami krisis dan kebangkrutan seketika. Berapa banyak pula terjadi perusahaan yang dipimpin oleh pengusaha yang jujur dan berani berbuat baik serta benar mampu menyelamatkan perusahaan serta para karyawan yang berada di dalamnya dari PHK dan kejatuhan yang lebih besar lagi.
Perusahaan Honda adalah salah satu contohnya. Suatu ketika pernah terjadi krisis yang sangat hebat hingga menyebabkan banyak perusahaan besar di Jepang runtuh karenanya. Namun Honda mencoba bertahan. Dia bertekad untuk tidak memecat karyawannya. Dan berusaha mencari cara untuk membiayai gaji karyawan yaitu dengan menjual beberapa asset yang dimilikinya. Usaha itu berhasil dengan dukungan seluruh karyawan. Akhirnya perusahaan Honda terselamatkan dan semakin maju hingga mampu bertahan sampai sekarang.
Dengan melihat begitu pentingnya memiliki kecerdasan emosi spiritual sebagai pondasi serta kecerdasan intelektual sebagai pengembangnya. Maka perlu untuk diperhatikan betul-betul bagi segenap aktivis dan organisatoris yang hendak meraih kesuksesan dan keberhasilan dalam dunia dan akhirat. Agar senantiasa memperhatikan dan mencari ilmu bagaimana cara mempraktekkan kecerdasan emosi spiritual dalam kehidupan sehari-hari maupun berorganisasi.
Selamat mengembangkan diri!